Minggu malam pertengahan Ramadhan tahun 2019, saya dikaruniai seorang putra. Sekitar pukul sebelas malam, sosoknya hadir dengan berat 3 kg dan panjang 50 cm. Oleh ayahnya bayi laki-laki ini diberi nama Yafiq Fahad Ramadhan.

Layaknya ibu-ibu lain, saya pun ingin segera menyusui bayi baru lahir tersebut setelah tubuhnya dibersihkan dan diserahkan pada saya. Saya pun meminta bidan untuk meletakkan tubuh mungil bayi saya ke dada saya agar bisa melakukan IMD.

"Nah belum keluar ASI-nya," kata bu bidan ketika Yafiq diletakkan di dada saya dan Bu Bidan mengecek apakah ASI sudah keluar atau tidak. Saya terhenyak. Yang lebih bikin sedih, tak hanya ASI yang tidak keluar, puting payudara saya juga begitu besar hingga tidak bisa muat ke mulut kecil Yafiq.

Saya berusaha tenang. Entah mengapa bayangan drama ASI yang pernah saya alami saat melahirkan Yumna 2 tahun sebelumnya langsung membayang di kepala. ASI yang tidak keluar, bayi yang tidak bisa menghisap ASI. Tidak. Saya tidak ingin ada drama lagi.
"Beliin aku pompa ASI," kata saya pada suami ketika kami setelah kami tiba di rumah ibu saya keesokan harinya. Di kepala saya satu-satunya cara agar ASI bisa segera keluar adalah dengan memompanya. Dan berhubung pompa ASI saya yang lama sudah kurang bagus kinerjanya maka mau tak mau saya harus membeli yang baru. 

Sambil menunggu pompa ASI yang baru, saya berikhtiar memijit-mijit payudara dan memanggil tukang urut untuk memikat punggung saya. Namun layaknya kelahiran anak pertama, ASI saya baru keluar di hari ketiga setelah melahirkan, sementara bayi mungil saya tak kunjung bisa mendapat ASI karena puting yang terlalu besar. Karena takut dehidrasi, Yafiq sempat diberi susu formula sembari menunggu ASI saya benar-benar terkumpul. Sempat terpikir untuk menggunakan nipple shield seperti saat anak pertama dulu namun saya karena saya ingat pemakaiannya kurang nyaman akhirnya rencana tersebut urung dijalankan.

Baca juga : Cerita Kelahiran Anak Kedua

Setelah pompa dibeli dan ASI keluar, saya pun langsung menjalankan pumping. Harapannya ASI perah yang didapat bisa langsung melimpah. Kenyataannya, hari-hari pertama pumping saya hanya bisa dapat 30 ml. Wajar sebenarnya, mengingat baru beberapa hari setelah saya melahirkan. Namun ternyata hal ini lumayan menguras emosi saya karena kecukupan ASI untuk Yafiq sangat bergantung pada jumlah ASIP yang saya peroleh. 

Untungnya meski ASIP yang terkumpul tak banyak setiap sesi pumping-nya, jumlah tersebut masih cukup untuk Yafiq. Setiap selesai pumping langsung saya berikan ASI Perah kepada Yafiq, alhamdulillah di masa awal kehidupannya ini, Yafiq hanya sempat mencicipi susu formula selama 1 minggu. Dan setelah hampir 1 bulan, saya pun bisa mengumpulkan ASI perah dalam jumlah yang di atas 70 ml setiap pumping-nya.

Setelah urusan pumping selesai, PR saya adalah berusaha agar Yafiq bisa menyusu langsung ke payudara. Di bulan-bulan pertama kelahirannya, saya masih berusaha untuk menyusui Yafiq secara langsung. Sayangnya lagi-lagi karena ukuran puting yang besar (karena dipompa) dan mulut anak saya yang mungil usaha itu tak membuahkan hasil. 

Memasuki usia 3 bulan, Yafiq mulai bisa memasukkan puting ke mulutnya. Namun karena terbiasa dengan dot dia tak bisa menghisap dengan benar. Sekian menit saya biarkan dia berusaha menghisap namun tak ada ASI yang ditelan. Saya pun jadi kasihan melihatnya. Akhirnya proses menyusui pun saya hentikan dan Yafiq kembali saya berikan ASI perah lewat botol susunya.

Bulan berikutnya, saya lagi-lagi mencoba mengajari Yafiq direct breastfeeding. Namun kali reaksinya sungguh membuat saya ingin tertawa. Yafiq kebingungan saat disodori payudara. Bukannya langsung menyusu, dia malah diam dan tak melakukan apapun layaknya bayi yang terbiasa disusui. Bahkan jika anaknya sudah sangat haus, dia malah tambah nangis kalau disodori payudara dan bukannya dot kesayangannya. Fix anak ini bingung puting. Pada tahap ini, saya pun berpasrah diri menjadi mama eping untuk anak kedua.

Baca juga :  Mencari Rekomendasi MPASI untuk Anak Kedua



Tantangan menjadi mama eping

Sebagai ibu yang tidak menyusui anaknya secara langsung, tentunya saya memiliki tantangan yang berbeda dibanding para ibu yang bisa menyusui bayinya secara langsung. Beberapa tantangan yang saya rasakan tersebut antara lain:

Tantangan komitmen


Tantangan pertama tentu saja ada pada komitmen untuk terus memompa payudara setiap hari selama 2 tahun selama 3-4 jam sekali. Bagi para ibu bekerja atau mama eping seperti saya, pasti ada masanya kita malas buat pumping kan, ya? Apalagi kalau harus bangun tengah malam untuk power pumping atau menyiapkan ASIP untuk Yafiq yang terbangun di tengah malam. Duh, kadang perlu niat yang kuat untuk membuka mata. Tapi mau bagaimana lagi? Saat ini, kalau saya tidak rajin pumping, anak saya bisa nggak dapat ASI.

Tantangan saat bepergian


Tantangan kedua sebagai mama eping adalah saya juga tak bisa bepergian keluar rumah dalam jangka waktu yang lama kecuali harus siap dengan stok ASIP atau pompa agar bisa tetap memberi ASI. Kalau ibu lain saat anaknya haus tinggal buka kancing baju maka saya tidak bisa demikian. Jika membawa ASIP, maka saya harus yakin ASIP yang dibawa tidak kadaluarsa sedangkan jika membawa pompa, berarti saya harus siap pumping di mana saja. Agak ribet ya, pastinya. Apalagi kalau misalnya Yafiq sudah keburu haus dan stok ASIP belum ada. Duh, harus siap pumping sambil dengar anaknya nangis-nangis deh.

Tantangan Stok ASIP 


Perihal stok ASIP juga menjadi salah satu hal yang cukup jadi tantangan bagi saya. Di awal-awal menjadi mama eping saya sempat takut kalau tidak bisa mengumpulkan stok ASIP untuk Yafiq saat nanti bekerja kembali. Ya, gimana mau nyetok kan wong ASIP-nya setelah dipompa langsung diberikan ke anaknya. Produksi ASI saya juga bukan yang melimpah ruah sampai merembes kalau misalnya telat dipompa.

Untungnya kekhawatiran saya tidak terbukti. Selama masa 3 bulan cuti saya ternyata bisa mengumpulkan cukup ASI perah untuk stok saat bekerja nanti. Untuk bisa mengumpulkan stok ASIP ini saya berusaha rutin melakukan power pumping saat tengah malam sehingga pelan tapi pasti stok ASIP di kulkas bisa bertamnah. Stok ASIP saya sendiri tidak sebanyak ibu-ibu lain yang menyusui plus pumping juga mengingat kulkas saya juga cuma 1 pintu yang membuat saya tidak bisa jor-joran dalam memompa ASI.

Nah, yang sekarang lumayan bikin saya kembali khawatir, seiring dengan pertambahan usianya volume minum ASIP Yafiq semakin bertambah. Bahkan saat dirinya sudah memasuki masa MPASI seperti sekarang, jumlah ASIP yang diminum setiap hari tidak berkurang. Malah sebaliknya, stok ASIP di kulkas yang berkurang. Jadilah beberapa bulan terakhir saya harus jungkir balik pumping buat nambah stok ASIP di kulkas. 

Pentingnya menjaga kebersihan peralatan ASI



Sebagai seorang ibu, sudah sepatutnya kita mengetahui bagaimana pentingnya 1000 hari pertama bagi. Pada 1000 hari pertama kehidupan ini, seorang ibu hendaknya memberikan nutrisi terbaik dan perlindungan bagi buah hati agar tumbuh kembangnya bisa optimal. Nah, salah satu cara untuk memberikan perlindungan terbaik di 1000 hari perlindungan adalah dengan menjaga kebersihan berbagai perlengkapan bayi termasuk perlengkapan ASI seperti pompa, botol ASI hingga dotnya.

Saya sendiri sebagai mama eping pastinya tak bisa lepas dari urusan cuci-mencuci botol ASI ini. Untuk membersihkan pompa ASI dan perlengkapan lainnya, saya memilih produk bayi yang aman dan khusus diformulasikan untuk bayi. Salah satu produk yang sejak lama saya gunakan adalah Sleek Baby Bottle Nipple & Accesories Cleanser yang pastinya sudah sangat familiar di kalangan ibu-ibu. Sejak anak pertama, saya sudah setia menggunakan Sleek untuk membersihkan perlengkapan bayi mulai dari botol susu, peralatan makan hingga mainan si kecil.


Sleek Baby Bottle Nipple & Accesories Cleanser sendiri merupakan pembersih botol dan perawatan bayi dengan formula food grade yang aman untuk bayi. Saat ini, Sleek hadir dengan formula baru, dilengkapi dengan 8 proteksi yang pastinya lebih lengkap untuk si kecil, yakni

  1. Food Grade : Formulasi Food Grade yang berarti tidak mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan dan aman untuk si Kecil
  2. Natural Anti Bacterial : Bahan alami yang mampu membasmi kotoran dan kuman secara maksimal pada perlengkapan si Kecil termasuk botol susunya. 
  3. Stain Removal  : Mampu membersihkan noda yang menempel, sisa lemak dan bau yang tidak sedap pada peralan makan si Kecil secara keseluruhan 
  4. Hypoallergenic : Formula Hypoallergenic mampu meminimalisir terjadinya iritasi kulit, gatal dan kasar pada kulit. Perlindungan bukan hanya untuk si Kecil tapi juga untuk Bunda juga saat mencuci          
  5. Dermatologically Tested : Sabun pencuci botol yang sudah teruji klinis atau Dermatology Tested 
  6. Microbiological Tested : Produk yang sudah teruji efektif dalam membunuh Mikroorganisme yang berbahaya 
  7. High Quality Concentrate : Hanya perlu sedikit saja, botol susu si kecil sudah bersih dan terlindungi dari kuman! 
  8. Paraben Free : Sabun pencuci botol, peralatan makan dan mainan si kecil yang tidak mengandung paraben dan bahan pengawet lainnya sehingga aman untuk si kecil

Dengan adanya 8 proteksi yang dimiliki oleh Sleek Baby Bottle Nipple & Accesories Cleanser ini pastinya membuat saya lebih yakin akan kebersihan perlengkapan ASI yang saya miliki. Saya juga bisa lebih bersemangat untuk tetap memberi ASI untuk Yafiq hingga usianya 2 tahun nanti. Nah, buat teman-teman yang ingin tahu lebih jauh info tentang Sleek bisa mampir ke akun media sosialnya di bawah ini.

Instagram : @sleekbaby_id



#SleekBaby #SleekBabyAlamiMelindungi #SleekBaby8Protection #1000HariPertama
#PerlengkapanBayi #ProdukBayi #BayiBaruLahir #PembersihBotol