Bicara tentang diffuser aromaterapi, diffuser ultrasonik memang nggak boleh ketinggalan. Di samping heat diffuser atau aromaterapi ruangan bakar yang sudah aku bahas kemarin, diffuser yang satu ini nggak kalah populer. Bahkan aku pribadi sempat menggemarinya.

Beda barang, beda rupa dan kualitas, diffuser ultrasonik juga menyimpan kelebihan dan kekurangan. Biasanya dia disukai karena bentuknya yang unik, apalagi sebagian diffuser ultrasonik dilengkapi dengan lampu yang warnanya bisa berubah-ubah. 

diffuser aromaterapi ultrasonik
dimplex.co.uk

Cara pakai diffuser aromaterapi ultrasonik:

Kalau untuk pemakaiannya sendiri, sebenarnya nggak jauh beda dengan heat diffuser/electric diffuser karena diffuser ultrasonik ini juga menggunakan listrik. Tapi biar lebih jelas, di sini aku jabarkan cara pakainya.

  • Buka penutup diffuser
  • Isi diffuser dengan sedikit air dan beri beberapa tetes essential oil sesuai selera
  • Tutup diffuser, lalu tancapkan kabel ke listrik
  • Atur lampu atau durasi pemakaian (biasanya tersedia tombol pengaturannya)

Diffuser aromaterapi ultrasonik ini umumnya punya ukuran yang lebih besar ketimbang aromaterapi bakar, jadi daya tampung air dan essential oil-nya juga lebih banyak.  Bentuknya juga beragam bahkan ada yang unik jadi juga bisa sebagai hiasan di ruangan.

Meski menurutku diffuser ultrasonik ini lebih baik dari aromaterapi bakar/heat diffuser, dia juga punya plus minusnya.

Kelebihan diffuser aromaterapi ultrasonik:

  • Aroma yang dikeluarkan nggak bercampur bau gosong karena nggak ada kontak dengan panas
  • Beberapa diffuser ultrasonik dilengkapi dengan lampu yang warnanya bisa berubah-ubah sehingga bisa dijadikan hiasan atau lampu tidur
  • Selain untuk aromaterapi, diffuser ultrasonik juga bisa berfungsi sebagai humidifier
  • daya tampung airnya lebih banyak sehingga pemakaiannya bisa lebih lama
  • Menggunakan listrik sehingga aman
  • Tersedia dalam berbagai ukuran dan bentuk
  • Untuk sebagian diffuser, dia akan mati secara otomatis ketika airnya habis, jadi lebih aman
Ragam bentuk diffuser ultrasonik
thewirecutter.com

Di salah satu poin di atas aku sempat sebut tentang humidifier. Kalau kamu asing dengan kata ini maka wajar banget, karena Indonesia terletak di wilayah tropis dan nggak terlalu membutuhkan humidifier karena tingkat kelembapannya yang tinggi. Seperti namanya, humidifier adalah alat yang digunakan untuk menjaga kelembapan ruangan. Biasanya alat ini sering dipakai di negara-negara yang punya 4 musim dan sering dinyalakan ketika musim dingin. Ketika musim dingin, biasanya kulit dan bibir jadi kering, bahkan menimbulkan gejala lain seperti sakit tenggorokan dan bibir pecah-pecah. Maka dari itu, mereka yang tinggal di negara 4 musim suka menyalakan humidifier ketika musim dingin.

Ini bukan berarti kita dilarang menggunakan diffuser ultrasonik karena tinggal di Indonesia. Jika kamu terbiasa berada di ruangan ber-AC atau tinggal di wilayah dingin, humidifer bisa diandalkan untuk menjaga kelembapan. Tapi perlu diingat, humidifer/diffuser ultrasonik ini sebaiknya nggak dipakai terlalu sering jika kamu berada di daerah atau ruangan yang tingkat kelembapannya sudah tinggi. Jika pemakaiannya berlebihan, justru bisa menimbulkan masalah baru pada kesehatan khususnya pernapasan, seperti paru-paru basah. Dan kalau sering menggunakan diffuser ini, harus rajin dibersihkan setelah dipakai supaya nggak berjamur atau jadi sarang bakteri.

Kekurangan diffuser aromaterapi ultrasonik:

  • Ukuran relatif lebih besar dibanding aromaterapi bakar
  • Bagi beberapa orang yang sensitif dengan cahaya, diffuser ultrasonik yang lampunya warna-warni terkesan sedikit annoying
  • Harga lebih mahal dibanding aromaterapi bakar dan reed diffuser (rata-rata harganya di atas Rp 100.000 bahkan ada yang lebih dari Rp 500.000)
  • Uap yang dikeluarkan sebagian besar adalah air dan kandungan essential oil yang keluar lebih sedikit

Aku beralih dari aromaterapi bakar ke aromaterapi ultrasonik ini ketika sudah kerja. Masih inget banget aku diffuser ultrasonik yang aku punya sekarang itu adalah salah satu barang yang aku beli pakai gaji pertamaku dulu :’) Belinya di Ace Hardware karena kebetulan ada diskon, hehe. Seringnya sih diffuser ini aku jadikan sebagai lampu tidur. Kebetulan lampu warna-warninya bisa diatur sesuai keinginan mau warna apa.

Uap diffuser ultrasonik
hartandheim.com

Tips membersihkan diffuser ultrasonik:

Mengingat diffuser ini pakai listrik, perlu hati-hati juga waktu bersihinnya. Kebetulan punyaku antara alat diffuser dan kabelnya bisa dilepas. Biasanya waktu dibersihkan, penampung airnya aku bilas pelan pakai air yang mengalir sampai wangi aromaterapinya hilang atau berkurang. Hati-hati, airnya jangan sampai masuk ke lubang untuk colokan kabelnya. Setelah itu dilap sampai benar-benar kering dan pastikan nggak ada bagian yang basah sebelum dipakai atau dicolok ke listrik.

Buatku pribadi, diffuser ultrasonik ini jadi salah satu diffuser aromaterapi yang cukup aman digunakan ya, asalkan pemakaiannya nggak berlebihan dan sadar lingkungan juga alias tingkat kelembapan udaranya. Jangan sampai karena suka banget dengan diffuser ini atau mau coba-coba wangi aromaterapi baru, jadi keseringan sampai membahayakan pernapasan.

By the way, diffuser ultrasonik yang aku punya itu sekarang lebih banyak nganggurnya lho, hahaha. Selain lagi jarang pakai aromaterapi, aku lagi pindah ke lain hati dengan jenis diffuser yang lain, yaitu reed diffuser. Rasanya lebih simpel dan cantik aja. Mau tahu tentang ‘selingkuhan’ baruku ini? Tunggu tulisanku tentang reed diffuser di Pamperstory.com ya!

Oiya, setelah baca tulisan ini, kira-kira kamu minat nggak pakai diffuser ultrasonik? Yuk, share di kolom komentar!

The post Tertarik Coba Diffuser Aromaterapi Ultrasonik? Ini Pertimbangannya appeared first on Pamper Story.