Beberapa minggu yang lalu saya pernah menulis di blog ini tentang TB. Bahwa TB bisa disembuhkan dengan obat gratis dari Pemerintah. Btw, udah pada tahu dong ya kalau tiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari TB sedunia. Kenapa dipilih tiap tanggal 24 Maret? Karena pada tanggal 24 Maret 1882 kuman TB Mycobaterium Tuberulosis berhasil diidentifikasi oleh Robert Heinrich Herman Koch. Itulah mengapa beberapa minggu belakangan ini gencar sekali campaign tentang bahaya TB hampir di seluruh media. Baik media online maupun media televisi nasional.

Meski diperingati setiap setahun sekali, bukan berarti kita sadar akan bahaya TB setahun sekali juga. Karena semestinya, kita harus selalu sadar akan bahaya TB yang mengintai warga Indonesia kapan pun dan di mana pun. Seperti yang kita ketahui, bahwa Indonesia menduduki peringkat ke dua setelah India sebagai Negara dengan masyarakat yang paling banyak menderita TB. Thats why kita harus selalu aware dan ga berhenti edukasi tentang bahaya si penyakit menular yang mematikan ini.


Barangkali masih ada yang belum tahu apa itu TB, Penyebab dan Cara Mengobatinya, bisa klik dulu tulisan ini . Setelah tahu apa itu TB and beyond, mari kita kenalan dengan Apa Itu TB Laten. Jujur, sebenarnya saya sudah sering mendengar tentang TB Laten tapi belum paham betul apa yang dimaksud. Untungnya pada tanggal 7 April kemarin saya dan para blogger dari Komunitas Emak Blogger berkesempatan hadir untuk menimba ilmu dari ahlinya tentang TB Laten ini. Setelah belajar, saya jadi lebih melek tentang bahaya penyakit ini.


Sebagai informasi, TB Laten adalah salah satu diagnosa penyakit ketika anak terinfeksi kuman TB. Jadi, ketika seorang anak terinfeski kuman TB, anak bisa mengalami dua kondisi. TB Laten dan TB Aktif (penyakit TB)

Oke, kita bahas satu persatu.

Apa Itu TB Laten? 

TB Laten merupakan kondisi di mana ketika anak terinfeksi kuman TB tapi tidak aktif menyerang sistem kekebalan tubuh serta tidak berkembang biak. Nah, karena kuman TB yang menginfeksi tubuh anak tidak menyerang pertahanan tubuh dan tidak berkembang biak, tubuh anak pun tidak menimbulkan gejala apapun layaknya orang dengan TB Aktif. Satu-satunya cara untuk mengidentifikasi apakah anak terkena TB Laten atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan darah atau skin test. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui secara dini dan pasti apakah si anak menderita TB Laten atau tidak. Mengapa? Agar ketika ternyata didapatkan hasil bahwa anak menderita TB Laten, bisa segera diobati untuk mencegah terjadinya TB Aktif, karena faktanya, 5 hingga 10% anak yang mengidap TB Laten beresiko untuk kemudian mengidap penyakit TB Aktif kalau tidak diketahui sejak dini dan mendapat penanganan yang tepat.

Lantas, kapan sih waktu yang tepat untuk melakukan investigasi kontak terhadap anak untuk memastikan apakah mengidap TB Laten atau tidak?

Karena anak dengan TB Laten tidak menimbulkan gejala sama sekali, hal yang harus dicurigai apakah anak mengidap TB Laten atau tidak, salah satunya dengan mengidentifikasi apakah anak memiliki kontak erat dengan orang dewasa yang menderita penyakit TB Paru atau tidak. Kalau didapatkan fakta bahwa ada kontak erat dengan orang dewasa yang menderita penyakit TB, maka sebaiknya segera untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar bisa ditangani dan diobati secara dini.

Mengapa Investigasi Kontak Penting?

Menurut dr.Wahyuni Indawati SpA(K), agar dapat menemukan kontak yang mengidap TB Laten untuk mencegah terjadinya TB Aktif dengan cara mendapatkan pencegahan dengan obat. “Meski TB Laten tidak menyerang sistem imun dan tidak berkembang biak, anak dengan positif TB Laten tetap harus diberikan pencegahan dengan Obat atau disebut terapi profilaksis sekunder” lanjut dr.Wahyuni

Sekitar 30-60% anak yang kontak erat dengan penderita TB Paru terinfeksi TB Laten. Dengan presentase yang dikatakan lumayan tinggi itulah kenapa ketika didapatkan anak memiliki kontak erat dengan penderita TB Paru si anak harus diperiksa lebih lanjut. Karena, ketika anak didiagnosa TB Laten dan tidak ditangani secara dini, sekitar 10-50% anak akan beresiko mengalami Penyakit TB atau TB Aktif. Dengan memberikan obat pencegah pada anak yang mengidap TB Laten, bisa menurunkan resiko sakit TB Aktif sekitar 60%. Dengan melakukan investigasi kontak dan pemberian profilaksis sekunder inilah diharapkan angka TB di Indonesia bisa menurun serta bisa meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan bahaya TB dan TB Laten pada anak.

Tentang TB Aktif pada Anak

Nah, kalau tadi membahas TB Laten pada anak, kondisi yang ke dua yang bisa terjadi ketika anak terinfeksi kuman TB adalah Penyakit TB atau TB Aktif. Anak dengan TB Aktif disebabkan oleh kuman TB yang menginfeksi tubuh anak berkembang biak dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Biasanya, anak dengan TB Aktif akan mengalami gejala-gejala penyakit TB pada umumnya. Seperti :

  • Berat Badan Menurun tanpa Sebab
  • Demam Lama Lebih dari 2 Minggu tanpa Sebab yang Jelas
  • Batuk Lama Lebih dari 3 Minggu
  • Nafsu Makan tidak Ada atau Berkurang
  • Lesu
  • Diare Terus Menerus yang tidak Sembuh dengan Pengobatan Dasar Diare
Ketika anak positif terdiagnosa TB Aktif, maka anak memerlukan pengobatan secara masif atau terapi profilaksis primer untuk membunuh kuman yang menginfeksi tubuh.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan pengobatan pada anak dengan TB Aktif :

  • Pengobatan dengan Kombinasi 3-4 Jenis Obat TB
  • Pengobatan Membutuhkan Waktu Minimal 6-12 bulan, tergantung dari Tingkat Infeksi Bakteri
  • Patuh dan Teratur untuk Minum Obat adalah Kunci Keberhasilan untuk Sembuh dari TB Aktif
Sebenarnya, agar masyarakat terutama anak-anak tidak  mudah terinfeksi penyakit TB, ada pencegahan-pencegahan yang bisa dijalankan.

  • Pemberian Vaksinasi BCG (Bacille Calmate-Guerin) Pemberian Vaksinasi BCG memang tidak mencegah penyakit TB tapi mencegah terjadinya resiko penyakit TB berat. Dan dengan memberikan Vaksin BCG pada anak saat usianya maksimal 2 bulan, terbukti efektif mengurangi resiko terjadinya penyakit TB berat. Makanya nih meski sudah divaksinasi BCG bukan berarti anak akan terbebas dari penyakit TB.
  • Berikan Makanan Bergizi dan Seimbang untuk Anak
  • Menjaga Lingkungan agar Tetap Bersih, tidak Lembab dan Cukup Sinar Matahari 
  • Jauhi dari Orang Dewasa yang Mengidap Penyakit TB karena kuman TB sangat Mudah Menular Melalui Udara
Nah, dengan menerapkan pencegahan yang optimal,  pemeriksaan secara dini dan pengobatan yang teratur, penyakit TB bisa diatasi dengan bijak dan bisa sembuh secara total. 

Seperti kata dr. Wahyuni, usahakan dan hindari agar tempat tinggal tidak Kumis Pak Joko alias Kumuh Miskin Padat Jorok dan Kotor.


Salam,