Mau update foto di instagram tapi takut dikira pamer. Mau mengajukan diri jadi sebagai ketua panitia, tapi nanti dikira temen-temen kita sok-sokan.

Sering memikirkan hal ini? Atau sekarang sedang mengalaminya? Mungkin selama ini kita sibuk dengan persepsi diri kita sendiri. Berusaha menginterpretasikan suatu peristiwa dengan sembarangan. Hasilnya, kita menjadi resah, tertekan, merasa lemah dan tidak aman.

Saya teringat sebuah peristiwa. Saat itu saya sedang berulang tahun ke-17. Seperti kebanyakan gadis remaja, bagi saya ulang tahun ke 17 adalah sesuatu yang saya nantikan. Saya berharap mendapatkan kado sebuah boneka beruang atau mungkin buket bunga dari pacar saya kala itu. Tapi yang terjadi, betapa kaget dan kecewanya ketika akhirnya saya mendapatkan sebuah gelas plastik yang dibungkus dengan tes kresek warna hitam. Itulah hadiah yang saya terima. Saya merasa tidak bahagia.
Tapi bagi pacar saya itu adalah hal luar biasa. Seumur hidupnya dia belum pernah sekalipun memberi hadiah pada perempuan.

Dari hal yang kelihatannya begitu sepele, nyatanya kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan terhadap hal-hal yang ada diluar kendali kita. Di dunia ini banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Termasuk persepsi dan perasaan orang lain.


Dikotomi Kendali


Sebuah prinsip yang menarik dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, Dikotomi Kendali. Dari buku ini saya belajar memahami bahwa semua hal dalam hidup di dunia ini terbagi menjadi 2, yaitu hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan

Hal-hal yang tidak bisa dikendalikan seperti misalnya bencana, cuaca, kemacetan lalu lintas, persepsi orang lain bahkan perasaan pasangan hidup kita sendiri yang sudah kita kenal belasan tahun lamanya. Pernah mungkin kita mengalami akan pergi ke pesta, sudah berdandan rapi, mobil bersih dan tiba-tiba turun hujan. Padahal ketika mengecek aplikasi BMKG diprediksi hujan tidak turun. Lalu kita bisa apa? Marah pada Malaikat Mikail?

Meski demikian, kita masih punya hal-hal yang dapat kita kendalikan. Contohnya seperti persepsi diri sendiri, perasaan diri sendiri, pada dasarnya adalah semua hal yang kita bisa kendalikan dari dalam diri sendiri. 

Saya, perempuan dengan tubuh mungil dengan tinggi 150 cm. Ada suatu masa merasa kurang percaya diri ketika tampil sebagai MC di depan audience. Saya mengkhawatirkan bagaimana penilaian orang lain terhadap fisik saya yang kurang mumpuni.

Hingga suatu titik saya memahami bahwa, saya tidak bisa berbuat banyak dengan tubuh mungil ini. Tidak mungkin melakukan operasi. Saya berusaha mengendalikan dengan memperbaiki penampilan. Memakai highheels,baju dengan garis- garis vertikal, atau memperbaiki body language agar tampak ilusi lebih tinggi, percaya diri dan profesional. Itu yang coba saya lakukan Perkara nanti audience memiliki persepsi lain, saya tidak ambil pusing.

Di sinilah saya rasa sudah berhasil mengatasi insecurity dalam diri. Perasaan lemah dan takut yang semula saya rasakan, dapat dikendalikan.

Jangan Pasrah


Meski banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan, tapi kita tidak boleh pasrah. Kita masih dapat mengendalikan sebagian. Ketika mengikuti kompetisi blog misalnya, kita bisa mengendalikan diri kita dengan menulis dengan baik, melakukan riset mendalam, membuat variasi konten seperti video dan infografis sehingga tulisan kita mampu menyajikan informasi dengan detail. Meski penilaian dari juri dan kemenangan adalah hal yang tidak dapat kita kendalikan. Tapi paling tidak kita sudah berusaha semaksimal mungkin.

Kembali dengan dikotomi kendali. Prinsip ini menekankan bahwa kita hanya perlu fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, untuk bisa bahagia. Ketika hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan terjadi, maka tugas kita untuk mencoba berpikir positif dari hal tersebut. Kesannya klise, namun pemikiran itulah yang membuat kita tidak terlalu perfeksionis, tidak setres dan tentu saja tidak baperan.

Saya mengajak rekan saya Bella Zadithya, seorang Social Media Strategist untuk bercerita bagaimana ia mengendalikan insecurity yang pernah ia rasakan.

Seperti biasa, kamu bisa mendengarkannya di podcast The Late Brunch with Sara Neyrhiza di episode Dealing with Insecurity