Halo!

Karena saya dan Ancha kerjanya punya usaha sendiri, alias enterpreneur; kami gak punya asuransi kesehatan layaknya karyawan kantoran. Jadi, untuk periksa kehamilan dan melahirkan si anak bayik kedua, kami menggunakan BPJS.

Periksa kehamilan dengan BPJS dilakukan di faskes pertama tempat kita terdaftar (puskesmas/ klinik). Kalau tidak ada indikasi medis apa-apa selama hamil, berarti kontrol selama hamil tetap dilakukan di faskes pertama, alias tidak mendapat rujukan ke RS. Begitu pula saat persalinan. Kalau tidak ada prediksi indikasi medis apa-apa, persalinan juga dilakukan di faskes pertama. Sebaliknya, kalau ada indikasi medis tertentu, maka saat kontrol/ melahirkan akan dirujuk ke RS (tergantung kasus).

Kalau misal biasa periksa kehamilan di RS dan ingin menggunakan BPJS untuk melahirkan, si pasien setidaknya harus 1x periksa kehamilan di faskes-nya agar dapat surat rujukan. Tapi surat rujukan ini juga gak dikasih begitu aja. Untuk kehamilan dan persalinan, ada yang namanya kartu skor kehamilan (gambar di bawah). Kalau skor kehamilannya termasuk beresiko, maka faskes pertama baru bisa memberikan surat rujukan ke RS. Pihak RS pun akan meminta kartu skor kehamilan ini sebagai lampiran surat rujukan dari faskes pertama.

bg3.png

Untuk kasus saya, karena saat (setelah) melahirkan si manusia kecil dulu ada riwayat pendarahan sampai tranfusi (ceritanya ada di sini), maka persalinan saya tergolong beresiko. Faskes pertama saya memberikan rujukan ke RS untuk persalinan. Artinya, selama periksa kehamilan saya tetap dilakukan di faskes pertama. Lalu memasuki usia kandungan 7 bulan, saya mulai dirujuk ke RS, sampai melahirkan.

Periksa kehamilan di faskes pertama dilakukan oleh bidan, dan gak di USG setiap kontrol. Karena pengalaman periksa kehamilan si manusia kecil di Inggris juga oleh bidan dan USG cuma 2x selama hamil (ceritanya ada di sini), saya dan Ancha sih santai-santai aja hamil sekarang pun diperiksa oleh bidan juga dan gak USG tiap bulan wkwk.

Periksa kehamilan pertama kali di faskes pertama akan diarahkan untuk Pemeriksaan Terpadu, pemeriksaan komplit gitu. Dimulai dari poli umum dimana kita diperiksa secara umum oleh dokter umum di faskes pertama, lalu periksa darah di lab, poli gizi, poli gigi, dan terakhir poli psikologi. Saya gak tau kalau di faskes pertama lain bagaimana; tapi kalau di faskes saya, saya merasa periksanya ala kadarnya gitu. Kecuali periksa darah ya yang benar-benar ada bukti dan hasilnya. Lainnya cuma berdasarkan jawaban kita dari pertanyaan yang ditanya. Misal di poli psikologi. Menurut saya penting ya pemeriksaan psikologis calon orangtua. Tapi gimana kita mau terbuka sama si psikolog kalau di ruangan ada orang lain yang ikut mendengarkan? Walaupun orang lain tersebut anak magang psikolog, tapi tetap aja ya rasanya kan kurang nyaman ‘curhat’ kalau ada banyak orang di ruangan.

Perika kehamilan yang kedua dst dilakukan oleh bidan. Ibu hamil diperiksa berat badan, tensi, dan ukuran perut. Lalu calon bayi diperiksa posisi dan detak jantungnya. Kemudian ibu hamil ditanya juga kalau ada keluhan selama hamil. 

Periksa kehamilan di faskes pertama juga kita dikasih vitamin sesuai BPJS. Kalau biasanya vitamin hamil yang berbayar itu cuma 1 kapsul udah mengandung vitamin lengkap; kalau vitamin dari BPJS ada banyak kapsul. Folic acid sendiri, vitamin B kompleks sendiri, tablet penambah darah sendiri, dll.

Walau gak USG setiap kontrol, tapi faskes pertama tetap akan menganjurkan kita untuk USG bayi. Ada faskes pertama yang menyediakan layanan USG (biasanya faskes besar). Kalau faskes pertama gak menyediakan layanan USG, ibu hamil akan diarahkan untuk USG di luar. Faskes pertama akan kasih rekomendasi USG dimana yang terdekat dan berapa biayanya. Kalau saya googling sih, katanya untuk USG ini bisa dapat rujukan dari faskes pertama, jadi gratis. Tapi pengalaman saya kemarin, saya disuruh USG sendiri tanpa rujukan, jadi ya bayar sendiri.

Setelah saya dapat rujukan ke RS, maka periksa kehamilan selanjutnya langsung ke dokter kandungan di RS. Surat rujukan BPJS berlaku selama tiga bulan. Kalau sudah lewat masa berlakunya, kudu balik lagi ke faskes pertama buat minta rujukan. Hal yang perlu dicari tau calon orangtua adalah RS mana yang menerima BPJS dan dokter siapa di RS tersebut yang menerima pasien BPJS. Karena ternyata walaupun RS-nya menerima BPJS, gak semua dokternya melayani pasien BPJS.

Periksa kehamilan di RS dengan rujukan BPJS gratis tis tis. Mulai dari pendaftaran, kontrol dokter, sampai USG dan vitamin-nya pun ditanggung BPJS. Vitamin yang diresepin dokter-nya juga ya yang ditanggung BPJS. Tapi kita bisa kok minta vitamin yang dibayar mandiri.

Kurang lebih begitu deh cerita periksa kehamilan dengan BPJS yang gratis, asalkan rajin bayar iurannya ya tiap bulan. Karena kalau telat bayar lalu dirawat inap dalam kurun waktu 45 hari dari bulan telat bayar, maka kena denda rawat inap sebesar 2.5% dari biaya pelayanan awal (bukan total biaya rawat inap ya) dikali bulan tertunggak. Detailnya menyusul ya di tulisan berikutnya di sini!


Cheers!