Cantik itu seperti apa sih? Ketika pertanyaan itu muncul, seabrek standar cantik itu menyuarakan gagasannya.

Dalam KBBI, arti kata cantik adalah molek (tentang wajah, muka, perempuan). Sedangkan definisi lengkapnya, cantik memiliki banyak versi pembahasan. Bahkan di berbagai negara memiliki standar cantik yang berbeda-beda. Misalnya saja di Amerika yang mendefinisikan cantik dengan kulit yang gelap (tanning), sedangkan kebanyakan di Asia, mendefinsikan cantik jika berkulit putih. Ada lagi standar cantik yang unik di Afrika, kecantikan di gambarkan dengan lempengan di bibir dan bekas luka yang sengaja di buat untuk membentuk motif yang unik.

Nah kalau bertemu dengan banyak standar diatas? Lantas standar cantik yang sesungguhnya itu seperti apa? Apa memang standar cantik itu dibatasi teritorial dimana kita tinggal dan budaya yang melingkupinya? Ataukah sebenarnya ada standar cantik yang universal, berlaku di seluruh dunia.
 Ketika saya coba telusuri melalui Mbah Google, ternyata ada lho konsep wajah ideal. Wajah yang ideal itu memiliki proporsi tertentu, diantaranya ialah panjang wajah setara dengan 3 kali panjang hidung, lebar satu mata sama dengan lebar jarak antara kedua mata, bibir atas dan bibir bawah memiliki kelebaran yang sama, alis simetris sesuai dengan garis hidung, dan 3 kriteria lainnya. Detail dan sangat simetris ya. Saya mulai berpikir bahwa konsep wajah ideal ini bak konsep bangun datar pada matematika. Contohnya konsep segitiga sama kaki, yakni memiliki besaran sudut yang sama yaitu 60 derajat, memiliki 2 sisi yang sama panjang yang disebut kaki segitiga. LOL!
Image result for konsep wajah ideal panjang wajah 3 kali hidung"
Lain lagi halnya dengan standar kecantikan di Indonesia. Saya tidak tahu si, siapa yang awalnya mencetuskan. Namun yang seringkali terngiang di telinga standar cantik, ya yang berkulit putih, mulus, rambut hitam lurus, hidung mancung, alis tebal, mata lebar, pipi tirus, langsing, tinggi, dan lain-lain. Terkadang saya berpikir bahwa standar itu semata dibuat untuk melariskan produk make up atau treatment kecantikan tertentu.

Efek dari adanya standar kecantikan itu, membuat cewek yang tidak memenuhi standar, seperti halnya yang berkulit hitam/cokelat, rambut kribo, hidung pesek, alis tipis, mata sipit, chubby, gendut, pendek, udah fix dicap JELEK. Apalagi diperparah dengan komen-komen negatif yang berseliweran terhadap kondisi tersebut, yup Body Shaming.

Ya begitulah, standar kecantikan seakan hanya mendukung cewek-cewek dengan kondisi fisik tertentu, sedangkan disisi lain menyudutkan wanita dengan fisik yang bertentangan. Inilah yang kemudian menjadi akar masalah kenapa sih cewek-cewek merasa insekyur. Apa sih insecure itu?
Insecure itu bermakna perasaan tidak aman, tidak yakin, tidak kuat, atau yang paling sering diistilahkan sebagai perasaan tidak percaya diri. Efeknya ketika kita mengalami insecure bisa mengganggu kesehatan mental, seperti depresi, bahkan fatalnya bisa bunuh diri.

Oleh sebab itu, banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai standar cantik tadi, mulai dari operasi plastik, diet, sulam alis, tanam benang, botoks, atau perawatan-perawatan ringan kecantikan seperti maskeran, make up, dan lain-lain. Saya bukan tipe orang yang lantas mengharamkan segala bentuk perawatan kecantikan dan meminta semua orang untuk menerima kondisi fisiknya apa adanya. Big No! Karena perawatan kecantikan dan diet yang wajar sejatinya adalah kebutuhan dan harus dipenuhi, sebab itu bagian dari kita menjaga kesehatan tubuh, sebagaimana berolahraga.

Tapi tidak begitu halnya dengan upaya yang marak saat ini, yang jujur terkesan lebay dan ingin merubah diri untuk menjadi seperti yang orang lain harapkan dan standar kecantikan saat ini. Terlalu banyak energi, uang, kefokusan yang dicurahkan hanya untuk sekedar investasi pada penampilan, yang bukan menjadi hal utama kebermaknaan kita. Sehingga melupakan banyak hal penting lainnya, yang menjadi substansi dari diri kita sebagai manusia. Yakni peran kita, manfaat yang bisa kita berikan, dan bantuan kita untuk orang lain.  

Lewat film ‘Imperfect’ seakan jeritan hati para wanita yang tidak memenuhi standar kecantikan yang dianggap universal itu, disuarakan. Diperdengarkan di publik, masive dengan cara-cara yang magic. Selama 1 jam 53 menit, kita akan dibawa kepada adegan-adegan yang ringan tapi penuh makna. Dan bagi saya, tidak ada satu scene pun yang percuma, sia-sia, atau sekedar pelengkap, karena semuanya full of message.Thanks Koh Ernest dan Mamak Meira, kalian the best sih! Sepakat banget sama Mamak Meira, film Imperfect ini seharusnya bukan hanya jadi sebuah hiburan, tapi jadi GERAKAN.
Image result for imperfect"

Gerakan bersama untuk merubah insyekur menjadi bersyukur. Gerakan bersama para wanita untuk mencintai diri kita, merawat dan menjaganya, bukan merubahnya. Kita semua gak sempurna, tapi kita semua cantik. Cantik dengan cara kita masing-masing. Hidung pesek, rambut kriting, chubby, gigi gak rata, dan standar yang dianggap ‘tidak cantik lainnya’.

Karena sejatinya, standar cantik yang mengatur penampilan fisik yang harus ini dan itu, TIDAK PENTING. Justru yang terpenting, dengan fisik yang kita miliki, kita mampu bersyukur, berupaya merawatnya, dan menjadikan penampilan bukan nomer 1 di hidup kita, tetapi hanya sebagai penunjang kita mencapai kebermaknaan hidup. Its okay to be imperfect, no problem, because we still deserve to be happy.