Wah, nggak terasa udah di penghujung tahun 2019.  Welcome Desember!  #FBBKolaborasi bulan ini pun mengangkat tema tentang Hari Ibu.  Tema legendaris di Indonesia tentunya di bulan Desember selain Hari AIDS & Hari Natal. 

Baidewei berhubung #FBBKolaborasi ngebahas tentang Hari Ibu, nah Emak pun jadi pengen ngebahas tentang ASI (Air Susu Ibu).  Berawal dari kisah sedih di sebuah grup FB-nya cat lovers. Jadi suatu hari, ada orang yang buang anak kucing sebanyak 7 ekor yang masih merem semua dalam sebuah kardus.  Ngebuangnya di Cat Shelter (komunitas rescue, adopt & donasi untuk kucing) pula.  Dikiranya Cat Shelter tuh tempat buang kucing, Gaeees! Udahlah ngebuangnya tanpa induknya pula. Gimana para kitten ini bisa nenen coba? Ampuun!!

Trus Emak maen ke Cat Shelter, pengen liat para kitten yang dibuang itu.  Sekalian liat-liat kucing-kucing yang ditampung di sana.  Pengen sih adopt mereka- para kitten itu.  Tapi Gaeees, berat.  Masalahnya mereka yang masih umuran mungkin semingguan ya, karena masih merem.  Andaikan baru melek juga masih merayap-rayap gitu.  Nah, untuk umuran new born, harus disusui paling nggak tiap 4 jam.  Disusui dengan susu khusus bayi kitten atau dicarikan indukan lain yang juga masih menyusui.  Indukan lain ini pun cocok-cocokkan.  Bisa jadi si induk yang not real Mom, karena tau yang disusui bukan anaknya, eh malah nggak mau menyusui.  Tapi ada juga yang mau. 
Jadi, Emak salut banget  kepada para Ibu yang rela berbagi air susunya.  Tidak hanya kepada Ibu dari manusia, Ibu kucing pun demikian.


Tapi Gaeees, untuk menjadi Ibu Sesusuan pada manusia tentu beda dengan kucing.  Kalo kucing, tentu sebatas ‘cocok-cocokkan’, indukan mau menerima atau ngga dan kondisi fisik si indukan pun secara visual memang terlihat sehat plus stok ASI-nya pun memang melimpah.

Beda dengan Ibu Sesusuan pada manusia.  Jujur ya menurut Emak, syaratnya berat nih apalagi dalam kondisi masyarakat saat ini khususnya para Ibu terkait kondisi kesehatan juga akhlak belum terjamin ‘kelurusannya’.  Widih... 

Ya, tapi realita memang berkata begitu kan.  Bisa kita liat, berapa persentase Ibu yang terinfeksi HIV/AIDS, Hepatitis A/B/C, dan penyakit lainnya yang mampu menular dari ASI.  Demikian halnya masalah akhlak, sayang banget kan kalo ternyata misalnya si Ibu adalah wanita yang nggak ngerti akhlak yang baik (akhlaqul karimah).  ASI yang ia berikan itu menjadi darah & daging pada bayi yang ia susui lo.  Sayang banget kalo sampe si bayi mendapatkan ASI dari Ibu Sesusuan yang nggak baik akhlaknya.


Bagaimana dengan syarat kesehatan Ibu Sesusuan? Dilansir dari ayahbunda.co.id menjadi Ibu Sesusuan harus lolos syarat berikut:
Tahap 1  
  • Ia sendiri memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan.
  • Sehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusui.
  • Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan mampu menghasilkan 2 hingga 3 liter ASI per hari.
  • Tidak menerima transfusi darah dalam 12 bulan terakhir.
  • Tidak menerima transplantasi organ atau jaringan selama 12 bulan terakhir.
  • Tidak bertato atau melakukan body piercing karena berisiko tertular penyakit lewat jarum. 
  • Tidak memiliki riwayat penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, HTLV 2
  • Tidak meminum alkohol secara rutin sebanyak 2 ons atau lebih dalam periode 24 jam.
  • Tidak merokok.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan, seperti aspirin, acetaminophen, insulin, hormon tiroid, pil kontrasepsi, dan sebagainya, secara rutin.
  • Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV 2, Hepatitis B/C, termasuk penderita hemophilia yang rutin menerima transfusi darah, menggunakan obat ilegal, perokok, peminum alkohol, memakai tato atau body piercing.  
  • Tidak menggunakan vitamin megadosis atau obat-obatan herbal.
  •  Bukan vegetarian total yang tidak memakai suplemen vitamin B12.

Tahap 2  
  • Menjalani serangkaian tes kesehatan, seperti HIV, Human T-lymphotropic Virus (HTLV) yang bisa memicu leukemia, sifilis, hepatitis B dan C, dan CMV  - jika ASI akan diberikan kepada bayi prematur.
  • Apabila ada keraguan terhadap pendonor, tes dilakukan setiap 3 bulan sekali.
Kemudian gimana pembahasannya dalam Islam?

Emak kutip dari tanya jawab pada web islam.nu.or.id, bahwa donor ASI adalah aktivitas yang berpotensi mengakibatkan status keharaman nikah atau mahram karena persusuan. Pasalnya, asupan susu untuk bayi dari bank ASI setara dengan asupan susu untuk bayi langsung dari puting ibu susu.

Para kiai pun pernah membahas masalah Bank ASI (tentunya terkait masalah Ibu Sesusuan) dalam Muktamar NU ke-25 di Surabaya, 20-25 Desember 1971. Wah, udah puluhan tahun yang lalu ya.

Kesimpulan yang dihasilkan bahwa air susu yang dikumpulkan dan diberikan kepada bayi-bayi yang memerlukan (dirawat di rumah sakit) bisa menjadikan mahram radha’  (mahram sesusuan) dengan syarat sebagai berikut:
  • Perempuan yang diambil air susunya itu masih dalam keadaan hidup, dan (kira-kira) berusia sembilan tahun Qamariyah. 
  • Bayi yang diberi air susu itu belum mencapai umur dua tahun.
  • Pengambilan dan pemberian air susu tersebut sekurang-kurangnya lima kali. 
  • Air susu itu harus dari perempuan yang tertentu. 
  • Semua syarat yang tersebut di atas harus benar-benar yakin (nyata).


Bila telah menjadi mahram radha’ artinya terjadi keharaman pernikahan karena persusuan. Maka, untuk melindungi nasab, dikutip dari web islam.nu.or.id  bahwa disarankan agar aktivitas donor dan pengelolaan bank ASI melakukan pencatatan dan pendataan ibu relawan dan bayi penerima donor ASI dengan dokumentasi yang rapi dan mudah diakses (digital). Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan apakah asupan susu untuk bayi lewat bank ASI (Ibu Sesusuan) memenuhi syarat keharaman atau tidak. Pasalnya, keyakinan adalah salah satu syarat pertalian mahram karena persusuan.

Jadi bila ingin berbagi susu dengan bayi yang lain (bukan anak kandung), menjadi Ibu Sesusuan tentu harus memperhatikan ketentuan juga ya.  Baik ketentuan kesehatan juga agama (Islam).

Nah, demikian tulisan Emak untuk #FBBKolaborasi di Bulan Desember 2019.