Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia, jantung koroner masih menjadi penyakit pencetus kematian dini nomor 1 di Indonesia, dengan persentasi sebesar 35% pada 2016.

“Jumlah kasus penyakit jantung yang terus meningkat di Indonesia dapat dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko vaskular yang sebenarnya dapat dicegah, misalnya seperti perubahan kebiasaan makan, peningkatan obesitas, dan konsumsi rokok. Seiring dengan edukasi mengenai pencegahan yang menjadi aspek penting untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, dokter juga semakin membutuhkan teknologi terbaru untuk mengatasi kasus penyakit jantung yang kompleks dan meningkatkan hasil klinis yang lebih baik.”

Demikian disampaikan oleh Kardiolog Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta dr. Siska Suridanda Danny, Sp.JP(K) pada acara diskusi media bertajuk “Pentingnya Teknologi Kardiovaskular dalam Rangka Mencegah Kerugian dan Kematian pada Pasien Penyakit Jantung Kompleks” bersama GE Healthcare di Shangri-La Hotel Jakarta, 28 November 2019 lalu. Lalu, apa saja peranan teknologi medis serta gejala serangan yang harus diketahui untuk menurunkan angka kematian penderita jantung? Simak selengkapnya!


Layanan Terkini Kardiologi Intervensi di Indonesia

Penanganan penyakit Jantung Koroner atau PJK dapat ditempuh melalui tindakan revaskularisasi, yakni upaya memperbaiki aliran darah arteri koroner yang tersumbat atau menyempit. Revaskularisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:

1. Terapi fibrinolitik (membuka sumbatan akibat gumpalan darah di koroner menggunakan obat pengencer darah).
2. Tindakan PCI (pemasangan cincin atau stent koroner di cath lab).
3. Operasi by-pass/pintas koroner (CABG). 

Khusus untuk kasus serangan jantung akut, tindakan revaskularisasi diyakini dapat memberikan solusi paling baik pada pasien yang datang ke rumah sakit dalam waktu < 12 jam sejak awal terjadi serangan. Teknologi cath lab dapat membantu dokter mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mendiagnosis. Selain itu, memungkinkan dokter untuk memberikan pasien sejumlah pilihan perawatan dengan segera untuk menangani kasus yang kompleks dan mengancam jiwa. 

Alasannya, karena hanya cath lab yang dapat menfasilitasi tindakan kateterisasi jantung hingga revaskularisasi. Kateterisasi jantung adalah prosedur medis yang dilakukan oleh ahli jantung untuk mengevaluasi fungsi jantung dan mendiagnosis kondisi kardiovaskular.

Selama kateterisasi jantung, selang sempit panjang atau kateter dimasukkan ke dalam pembuluh darah pada lipat paha, leher, atau lengan. Setelah kateter terpasang di jantung pasien, dokter dapat melakukan tes diagnostik, melihat kondisi pasien secara real-time, dan merencanakan jalannya perawatan dengan lebih cepat. 

"Berdasarkan data Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, pasien serangan jantung akut yang menjalani tindakan revaskularisasi memiliki potensi pemulihan yang jauh lebih baik. Pengamatan di RS Harapan Kita selama 2018-2019 menunjukkan angka kematian pasien serangan jantung akut yang menjalani revaskularisasi adalah 7.4% dibandingkan 15.3% pada pasien yang tidak menjalani revaskularisasi.

Sebagian besar tindakan yang dikerjakan adalah tindakan PCI yakni pemasangan cincin/stent di cath lab. Ini berarti tindakan revakularisasi yang dikerjakan dengan menggunakan teknologi cath lab dapat mengurangi angka kematian akibat serangan jantung akut hingga setengahnya.

Meski begitu, penting sekali bagi pasien dan keluarga untuk mengenali gejala serangan jantung, serta membawa pasien ke rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan dan sumber daya untuk melakukan tindakan secepat mungkin, agar tidak terjadi keterlambatan penanganan, " papar dr. Siska lebih lanjut.

Perhimpunan Intervensi Kardiovaskular Indonesia (PIKI) mencatat, saat ini terdapat 250 cath lab di Indonesia. Setidaknya 40% dari jumlah tersebut memanfatkan sistem GE Healthcare, untuk memberikan pelanggan akses teknologi pelengkap melalui perusahaan perangkat medis lainnya, seperti alat pencitraan medis ultrasonografi intra-vaskular dan aplikasi pasca-kardiovaskular,

GE Healthcare menjalin kemitraan dengan penyedia teknologi pelengkap dan solusi aplikasi dalam rangka menghadirkan solusi cath lab yang holistik.

Putty Chandra, Country Director GE Healthcare Indonesia mengatakan, “GE Healthcare bangga telah berkontribusi dalam meningkatkan perawatan kardiovaskular di Indonesia. Sebagai penyedia cath lab untuk layanan kesehatan publik dan swasta, kami menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup. Kami terus bermitra dengan pelanggan kami untuk melatih para pengguna sistem cath lab, dan menawarkan layanan bernilai tambah bersama dengan mitra kami untuk memastikan dokter mampu menangani kasus-kasus yang rumit dan kompleks dengan percaya diri.”

Terhitung sejak 2016 - 2019, GE Healthcare Education Centres Jakarta telah melakukan 12 program workshop bersama dengan 580 ahli radiologi dari berbagai penyedia layanan kesehatan negeri maupun swasta di Indonesia.

Deteksi Dini Tanda-tanda Serangan Jantung

Masyarakat perlu memahami mahalnya kurun waktu <12 jam yang sangat berharga dalam menyelamatkan nyawa penderita serangan jantung.

Waspadai dan segera larikan pasien ke rumah sakit khusus penyakit jantung bila penderita jantung koroner mengeluhkan gejala berikut:

• Nyeri dada yang luar biasa hebat, khususnya di area dada tengah. Secara spesifik, nyeri serangan jantung terasa berat serta menjalar hingga ke lengan dan ulu hati.

• Adanya rasa mual / muntah, disertai oleh munculnya keringat dingin.

• Pandangan pasien tampak berkunang-kunang.

• Pada kasus yang umum, 90% serangan jantung terjadi pada pagi hari. Ini disebabkan pagi hari merupakan jam sirkadian, yaitu waktu ketika irama detak jantung manusia mulai menguat selepas bangun tidur. Tak jarang, aktivitas jantung yang terjadi pada waktu ini, menjadi peningkat risiko serangan jantung.

“Jangan membuang setiap menit yang begitu berharga bagi penderita penyakit jantung dengan melakukan maneuver-manuver tradisional, seperti kerokan, memberi minyak angin, minum obat paracetamol, dan sebagainya,” ungkap dr. Siska.

“Bila pasien mengeluhkan nyeri hebat, lebih baik lekas diperiksakan ke rumah sakit jantung agar dapat ditangani lebih efektif, daripada didiamkan saja hingga merenggut nyawa. Jangan sampai baru diperiksakan setelah terlambat, padahal gejala tersebut terbukti memang merupakan serangan jantung akut,” pungkasnya.