Berbicara mengenai tempat kembali yang paling buruk, tentulah tempat tersebut tidak lain adalah neraka.Siksa  neraka yang teramat pedih menjadi bukti pembalasan Allah SWT kepada orang-orang yang telah durhaka kepada-Nya. Hanya keimananlah yang akan bisa melepaskan manusia dari panasnya neraka. Keimanan itu pun tentu harus ditemukan selama hidup di dunia, sehingga kesempatan berbuat baik dan amalan shaleh terkumpul hingga saatnya hisab tiba.

Telah jelas diterangkan bahwa neraka merupaan seburuk-buruk tempat kembali. Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 126 yang artinya ”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".

Dari ayat tersebut jelas bahwa Allah SWT menjelaskannya neraka melalui kisah Nabi Ibrahim yang berdo’a kepada-Nya dan Allah SWT pun berfirman bahwa neraka benar-benar tempat kembali yang paling buruk.









Dari hal ini, sudah semestinyalah seorang mukmin yang telah berada pada **jalan yang benar** untuk bisa beramal ibadah yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Fitrah islam yang ada pada diri manusia sudah seharusnyalah bisa membimbing manusia untuk bisa menemukan kebenaran ajaran islam dan kebenaran Allah SWT melalui akal pikiran yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada setiap manusia.

Adapun orang-orang yang hingga ajal menjemputnya, belum bisa menemukan kebenaran islam, maka kekallah ia di neraka-Nya Allah SWT.  Sebab orang-orang tersebut adalah golongan prang-orang yang disebut kafir. Hal ini jelas dengan Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 39 yang artinya ”Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Maka, jika ditelaah, sungguh keimanan akan islam lah yang bisa membebaskan manusia dari siksa neraka yang teramat pediah itu. Bahkan kepedihan ini sangat jelas digambarkan dalam surah Al-Faathir ayat 37 yang artinya ”mereka berteriak di dalam neraka itu”.

Dari sepenggal ayat ini, jelas menceritakan betapa pedihnya neraka sebagai tempat kembali yang paling buru. Namun disamping hal itu, sering terdengar banyak yang mempertanyakan mengenai siksa neraka. Dari keseluruhan pertanyaan, ada sebuah pertanyaan yang bisa dikatakan menjadi pertanyaan besar yakni “seperti apakah seringan-ringannya siksaan di dalam neraka?”.

Untuk menjawab pertanyaan ini, dilansir dari buku ”Perjalanan Hidup Sesudah Mati" karya Ustadz Labib Mz Diceritakan dari Nu’man bin Basyir ra bahwasanya Nabi SAW bersabda: ”Seringan-ringan manusia dalam perihal siksanya ialah seseorang yang dipakaikan padanya sepasang alas kaki dengan dua buah pengikatnya dari api neraka. Dari keduanya itu menjadi mendidihlah otaknya sebagaimana mendidihnya air dikuali. Ia tidak melihat ada orang lain yang dianggapnya lebih berat siksanya dari dirinya sendiri, padahal sebenarnya ia itulah orang-orang yang teringan siksanya diantara para ahli neraka itu”. Dalam hadits ini telah jelas menerangkan bahwa begitu beratnya siksa neraka hingga dikatakan bahwa siksa yang teringan sekalipun akan dianggap sebagai siksa terberat oleh seseorang yang mendapatkannya.

Dari keseluruhan pembahasan diatas, maka telah jelas sekalipun dikatakan siksaan yang teringan di neraka, tetaplah siksaan itu akan dianggap paling berat oleh orang yang timpanya. Hal ini menandakan bahwa benarlah bahwa siksa neraka amatlah pedih dan janji Allah akan tempat kembali yang paling buruk kepada orang-orang yang durhaka pada-Nya sangatlah berat. Untuk itu, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak mengokohkan keimanan kepada Allah SWT dan senantiasa memohon ampunan kepadaNya agar dihindarkan dari panas dan siksa api neraka yang teramat pedih. Amin.