(Kementrian ESDM. Difotoin travelgalau)


Jakarta Tenggelam - Jujur aja sebagai penghuni baru di kawasan Jabodetabek, aku hanya sedikit saja mengetahui kabar dari kondisi Jakarta yang mengalami penurunan permukaan dari wilayah daratannya alias Jakarta akan tenggelam karena dilakukan pembangunan secara terus-menerus.

Serem ya kedengarannya? Tentu! 
Apalagi ketika saat ini aku yang udah berdomisili di wilayah Jabodetabek dan menyaksikan beberapa bukti dari ciri-ciri Jakarta itu akan Tenggelam salah satunya adalah saat aku mengunjungi Menara Syaidan di Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, yang mana menara tersebut mengalami kemiringan yang tampak sangat nyata.

Kalo bukan kita-kita yang saat ini bergerak dan tau apa sih penyebab yang membuat Jakarta dikabarkan akan tenggelam ya lalu siapa lagi. Dan kalaupun ada pertanyaan mengenai berapa tahun lagi Jakarta akan tenggelam, hal ini tidak bisa dijawab dengan pasti. 

Apakah benar Jakarta tenggelam?

(Presentasi soal dampak penggunaan air tanah berlebih terhadap Jakarta. Dokpri)

Pada pertemuan di kantor Energi dan Sumber Daya Mineral pada hari Selasa (15 Oktober 2019) dijelaskan oleh bapak Rudy Suhendar (Kepala Badan Geologi dan Sumber Daya Mineral) yang tidak bisa disebutkan angka tahunnya berapa, kemungkinan terjadi di beberapa ratus tahun kemudian, atau terjadi di puluhan tahun mendatang pun bisa saja. 
(Rudy Suhendar (Kepala Badan Geologi dan Sumber Daya Mineral). Dokpri)

Hal ini bisa saja terjadi karena, sudah ada tanda-tanda dari penurunannya level permukaan dan masuknya air laut pada batas wilayah bagian daratannya dan juga merambah pada daerah pemukiman. Saat pemutaran video dari kondisi wilayah Jakarta Utara yang sangat memprihatinkan tersebut, concern akan Jakarta tenggelam ini bukan lagi soal angka tahun berapa, namun pada tindakan apa yang bisa memperbaiki hal ini serta penyebab-penyebab bahwa Jakarta tenggelam.

Jakarta tenggelam dan penggunaan Air Tanah berlebih

(Mentri ESDM, Ignasius Jonan. Dokpri)

Dalam rangka konservasi air tanah Jakarta dan penyelamatan air tanah, sudah diawali dengan kegiatan CFD di tanggal 15 September 2019 yang mengkampanyekan atas penyelamatan air tanah ini. Sehingga, pemaparan dari bapak Ignasius Jonan, selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Ruang Surulli mengenai air tanah ini yang ternyata menjadi sumber penghidupan masyarakat. 

Memang, kehadiran dari air tanah ini sebuah anugerah yang teramat besar, namun melihat dari pemakaian yang tidak terbendung karena memang air tanah merupakan sumber air tawar (fresh water) terbesar di bumi dan 50% penduduk di muka bumi ini bergantung pada air tanah untuk segala kebutuhannya. Coba aja kalo ga ada air seharian gitu, dijamin galau banget, karena aku pernah mengalami mati air ini sehingga kesulitan dalam hal mencuci pakaian, mandi bahkan untuk buang air kecil. 

Pada kenyataannya, ketersediaan air bersih di Jakarta sendiri itu hanya 62% sedangkan kebutuhan akan air bersih itu 846 juta meter kubik lho per tahun, bisa dibayangkan betapa air tanah ini menjadi sangat primadona sekali karena memang lagi-lagi pada masalah kebutuhan.

Pada tahun 2013 sudah tercatat penurunan tanah berada di level 40 cm khususnya di Jakarta Utara namun meskipun begitu, pada tahun 2018 penurunan ini sudah mengalami perbaikan dengan bukti berada pada level 35 cm. Hal ini bukan dari hasil yang tidak sebentar saja, namun ada hal-hal yang dibarengi dengan perbaikan-perbaikan dari pemerintah sendiri.

(Contoh lokasi Jakarta yang sudah terlihat akan Jakarta tenggelam. Dokpri)

Hal-hal apa yang menjadi penyebab penurunan tanah (landsubsidence):
  • Penggunaan air tanah yang berlebihan, hal ini karena 
  • Beban permukaan tanah yang terasa sangat berat karena pembangunan yang sedang gencar-gencarnya. Hal ini akan mendesak terus-menerus akan lapisan yang ada dibawahnya.
  • Konsolidasi natural yaitu pemantapan tanah yang sifatnya natural seperti terbentuknya endapan lengkungan lapisan-lapisan halus yang mengeras
(Site visit lokasi sumur pantau by BKAT. Dokpri)

Wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) merupakan wilayah satu kesatuan yang terdiri dari wilayah imbuhan air tanah, pengaliran air tanah dan pelepasan air tanah, untuk di Jakarta sendiri lokasinya dibatasi oleh sungai Cisadane (Barat), Laut Jawa (Utara), Sungai Bekasi (Timur) dan sekitar Paruh (Selatan) dan upaya penanganan permasalahan air tanah Jakarta bisa dilakukan lebih serius dengan melibatkan para pemangku kepentingan lainnya dengan tugas khusus mengelola air tanah di CAT Jakarta ini, sehingga membentuk Balai konservasi Air Tanah di Jakarta (BKAT).

BKAT ini melakukan pemantauan kondisi air tanah Jakarta, pemantauan penurunan permukaan tanah serta upaya konservasi seperti pengembangan teknologi agar memberikan perubahan berupa kenaikan kedudukan muka air tanah di beberapa lokasi.
(Bentuk selamatkan air tanah Jakarta agar Jakarta tenggelam jangan sampai terjadi. Dokpri)

Adapun langkah lain yang sedang dikembangkan adalah teknologi artificial recharge seperti pembuatan sumur resapan, sumur imbuhan, biopori dan kolam resapan. Selain itu, peran kita sebagai masyarakat bisa banget dimulai dengan aktivitas yang berhubungan dengan pemakaian air itu sendiri, seperti menggunakan shower, mencuci saat volume cucian banyak serta matikan faucet (kran) saat sedang mencuci piring dengan sabun.

Ada yang sudah melakukan hal-hal sederhana namun berdampak untuk Jakarta tercinta ini? Semoga hal-hal baik yang kita lakukan sekarang, akan menjadi tabungan keindahan untuk anak-anak cucu kita nanti agar menikmati air bersih.  Yuk hemat air beb!