mental illness, mental health, suicide, cegah bunuh diri, bunuh diri, kesehatan mental remaja, depresi remaja
(Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Cegah Bunuh Diri. Dokpri)

Kesehatan Mental - Pada tanggal 10 Oktober kemarin, aku beruntung banget bisa mengikuti seminar bersama kemenkes soal kesehatan mental dan gangguan jiwa dengan tema Mental Health Promotion and Suicide Prevention dengan para narasumber yang kompeten dibidangnya masing-masing soal materi kesehatan mental ini.

Jadi aku pada tahun 2017 pernah mengikuti semacam healing process dengan seorang yang ahli dalam deteksi inner child aku. Dan memang ketahuan kalo aku memiliki sebuah keadaan seperti tidak mudah cemas dan overthingking dan ini ada hubungannya dengan hubunganku dengan ayahku yang berpengaruh besar terhadap kesehatan mental aku saat itu. Namun hal itu telah berakhir karena sudah healing dan tidak sampai pada kondisi yang depresi, hanya saja sering terbayang-bayang dan saat itu pas dengan persiapan menuju pernikahan.

Lalu betapa tersadarnya aku kalo kesehatan mental itu sangat berpengaruh besar bagi kehidupan seseorang dalam menjalani hidupnya. Bagaimana tidak, karena kesehatan mental ini jika terganggu, maka kasus terparahnya sampai pada kondisi ingin melakukan bunuh diri.

Pentingnya Kesehatan Jiwa Cegah Bunuh Diri

mental illness, mental health, suicide, cegah bunuh diri, bunuh diri, kesehatan mental remaja, depresi remaja
(Dr.dr.Fidiansjah M.A,Sp.KJ, MHPD Direktur pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa dan NAPZA. Dokpri)

Menelusur tentang pentingnya kesehatan jiwa cegah bunuh diri, akan dijelaskan oleh Dr. dr. Fidiansjah M. A, Sp.KJ, MPHD (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA) yang awal banget untuk kita ketahui adalah gangguan jiwa itu berbeda dengan gangguan mental ya, karena gangguan jiwa sudah berada pada level terparah dalam kesehatan mental lalu bisa dieksekusi dengan bunuh diri.

Bapak Fidi menjelaskan bahwa kondisi jiwa yang sehat itu adalah dimana kondisi seseorang dapat berkembang secara mental, fisik, spiritual dan sosial dengan mengetahui kemampuannya dan mengatasi tekanan dengan bekerja secara produktif dan mampu berkomunitas (UU No.18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa).

Adapun angka kematian yang disebabkan dari aktivitas bunuh diri pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2013 meningkat (Data Nasional Badan Litbangkes, Kemenkes). Hal ini menjadi concern pada masing-masing bidang untuk promosi akan kesehatan jiwa dengan dimulai dari lingkungan keluarga seperti penerapan pola asuh positif dimulai semenjak kandungan. 

Kita seringkali melihat prevelensi angka masalah dan gangguan kesehatan jiwa terjadi pada masyarakat di pedesaan dengan cara dipasung (oleh keluarga) dan tidak tertangani dengan para profesional kesehatan karena tingginya beban kesehatan dan rendahnya kualitas dan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya.

Bahkan, pada penderita penyakit-penyakit yang proses kesembuhannya panjang, membuat pasien tidak sabar seperti TBC dengan pengobatannya yang lama, membuat pasien mengalami depresi dan tidak jarang terpikir untuk mengakhiri hidup saat itu juga. 

Ayo Cegah Bunuh Diri!

Ajakan tentang bunuh diri ini bukan tentang main-main belaka lho. Karena issue terkait bunuh diri ini adalah penyebab kematian kedua di dunia. Dan ada 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya dengan 1 kematian bunuh diri setiap 40 detiknya. Wow angkanya mencengangkan ya, karena kesehatan mental dan gangguan jiwa ini gabisa dianggap sebelah mata lagi.

Dengan stop mengolok-olok seseorang yang memiliki beberapa keanehan sikap atau dirinya menutup diri dari hiruk pikuk keramaian dan menyimpan semua beban dan masalah dalam hidupnya seorang diri tanpa di bagikan kepada seseorang, karena tidak ada yang bisa mendengarkan dia. Sehingga bukan hal aneh lagi kalo sehabis itu mendengar berita kematian akibat bunuh diri.
Ibu Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si. (Ikatan Psikolog Klinis Indonesia) menyampaikan secara langsung bahwa yang beresiko mengalami masalah psikologis dan gangguan jiwa itu siapa saja yang pernah mengalami bullying, ketidakharmonisan dengan kedua orangtua, minim dukungan sosial. Serta untuk yang siapa yang beresiko untuk berbuat bunuh diri apabila mengalami tekanan hidup yang sudah sangat berat namun enggan membagikannya kepada teman terdekat atau ahli medis (psikater), mempunyai riwayat keluarga yang mengalami bunuh diri dan mudah menemukan alat-alat bunuh diri (seperti pistol, silet, tambang, dll).

Dengan melihat kegencaran informasi serta interaksi sosial yang begitu dimudahkan, membuat beberapa dari kita mudah untuk responsif dalam menanggapi beberapa hal. Sehingga, hal ini memperparah kecenderungan seseorang yang mengalami keterguncangan kejiwaannya, berujung pada gangguan jiwa dan pilihan untuk mengakhiri hidupnya adalah pilihan terbaik.

Mendengar beberapa kasus dari pasien oleh ibu Indria ini, seperti contohnya, ada seseorang yang mengalami mimpi tenggelam ditengah tidurnya, namun ia merasakan gelap dan kelam adalah sebuah definisi dari rasa bahagia yang ia cari-cari selama ini. Disana ia dapat merasakan ketenangan dan tidak mau untuk bangun jika ia bisa memilih akan hal itu. 

mental illness, mental health, suicide, cegah bunuh diri, bunuh diri, kesehatan mental remaja, depresi remaja
(Bunuh diri menular. Dokpri)
See? Separah itu ya, efek dari tekanan sosial di sekeliling kita, serta peran interaksi di media sosial apabila respon terhadap diri kita negatif dan menciptakan diri kita seperti tidak mendapatkan dukungan, betapa menyedihkannya memang hal tersebut. Kalo bisa diceritakan, aku saat SMP dan SMA mengalami bullying berupa ejekan fisik seperti gendut, besar dan muka tua. Hal tersebut membuat aku menjadi malas untuk mengikuti komunitas, kegiatan tambahan di sekolah dan menjadi menutup diri.

Berkata "aku baik-baik saja" bukan melulu ia sedang dalam kondisi yang baik, kita harus jeli dalam setiap tingkah dan gerak-geriknya apabila ada yang mencurigakan seperti selalu membicarakan peralatan bunuh diri, pernah mengalami percobaan bunuh diri sebelumya namun gagal, sulit tidur dan makan. Dan ini terjadi pada usia >15 tahun yang merupakan masa transisi menuju masa remaja atau masa kedewasaan, menemukan jati diri, jika tidak ada pendampingan maka hal-hal tentang bunuh diri dianggap merupakan solusi terakhir dan terbaik oleh mereka yang mengalami gangguan jiwa.

Kita bisa kok bantu mereka ini dan memang harus dimulai dari diri kita sendiri seperti menunjukkan rasa empati dan tidak memojokkan atau mengintimidasi mereka, mengajak bicara dari hati ke hati, mencoba membantu selesaikan masalahnya dengan mencarikan jalan keluar dan jika tidak bisa ter-handle bisa kita ajak untuk mencari bantuan profesional.

Cegah Bunuh Diri dengan Berkomunitas

mental illness, mental health, suicide, cegah bunuh diri, bunuh diri, kesehatan mental remaja, depresi remaja
(Ibu Novy Y, MotherHope Indonesia. Dokpri)

Sesi terakhir dari kesehatan mental dan gangguan jiwa cegah bunuh diri akan ada sharing dari Ibu Novy Yuliyanti (MotherHope Indonesia) tentang kondisinya yang pernah mencoba mengalami percobaan bunuh diri karena mengalami rasa kekecewaan yang teramat dari proses persalinan SC nya yang ia inginkan itu adalah melahirkan secara normal.

Ditambah, pasca melahirkan, saat kerabat dan sanak saudara menjenguknya di RS, ada berbagai pertanyaan yang membuatnya makin tak berdaya dan membuat ia merasa gagal menjadi seorang ibu untuk anaknya. Seperti, menanyakan ASI yang sudah didapat berapa ml dan hal ini menjadi sangat sensitif memang jika dipertanyakan bagi ibu pasca melahirkan.

Dan Ibu Novy ini adalah seorang psikologi yang tidak menjadi jaminan juga ia terhindar dari masalah kesehatan mental karena profesional dan akademisi beresiko juga mengalami gangguan kesehatan mental apalagi ini pasca melahirkan yang akrab kita kenali dengan PPD (Post Partum Dessease).

Pada suatu hari, untung saja ibu Novy mengenal sebuah komunitas yang mana mampukan ia untuk bisa berbagi keluh kesah dan luapan emosi yang tidak juga bisa dimengerti oleh sang suami, karena sang suami merasa kondisi mental sang ibu pasti bahagia mengingat buah hati yang didambakannya lahir dengan selamat. 

Komunitas tersebut adalah MotherHope Indonesia, dimana merupakan sebuah grup yang merangkul bersama-sama untuk semua ibu yang mengalami unek-unek terkait dinamika rumah tangga dan juga parenting, bisa saling sharing dan selalu diadakan seminar rutin baik online maupun offline di 15 kota di Indonesia, serta adanya home visit apabila lokasinya terjangkau.

mental illness, mental health, suicide, cegah bunuh diri, bunuh diri, kesehatan mental remaja, depresi remaja
(BloggerCrony memperingati Hari Kesehatan Jiwa di Kemenkes. Dokpri)

So, masihkah kita menyepelekan terkait kesehatan mental dan gangguan jiwa ini ladies? Dan saat sesi terakhir ibu Indria menyampaikan bahwa banyak yang mengurungkan tidak jadi menceritakan kisahnya karena terlalu enggan atas respon yang mengaitkannya pada agama, seperti misalnya kamu kurang bersyukur dll. Padahal, yang dibutuhkan saat itu adalah sepasang telinga untuk mendengarkan mereka dan menjaga agar tidak disebarluaskan di dunia luar namun mereka tak mendapatkannya.

Yuk, bareng-bareng sebagai pemuda dan pemudi bangsa berperan dalam menjaga lisan dan tidak mudah melontarkan statement atau pertanyaan ajaib yang justru menjadi trigger seseorang menjadi merasa rendah diri lalu jiwanya terguncang dan hal-hal gangguan kesehatan mental, lambat laun menghampirinya. Kita jangan sampai seperti itu ya!