Bagi warga Jakarta, Bandung telah menjadi destinasi liburan paling favorit. Meskipun liburan akhir pekan di Bandung akan disambut dengan kemacetan di mana-mana, tapi hal itu tak lantas menyurutkan minat para wisatawan untuk datang ke Kota Kembang ini. Seperti saya yang tak pernah merasa bosan untuk terus datang ke Bandung.
Liburan ke Bandung kali ini saya telah membooking kamar di salah satu hotel yang akhir-akhir ini ramai diperbincangakan oleh kalangan millenial. Katanya, sih, termasuk hotel paling hits di sana. Adalah Tama Boutique Hotel yang menjadi pilihan hotel tempat saya menginap.
Kalau mendengar dari namanya, memang seperti tidak ada yang spesial dari hotel satu ini. Tapi, kalau kamu mencarinya di Google, hotel ini selalu berhasil masuk ke dalam jejeran hotel paling unik dan juga Instagramable di Bandung. Hmm, lantas apa, sih, yang membuat Tama Boutique Hotel itu menjadi begitu populer di kalangan wisatawan? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Bandung

Untuk saya yang lebih suka naik kereta ke Bandung, saya sangat senang dengan lokasi hotel yang berada cukup dekat dengan Stasiun Bandung. Bisa dibilang lokasinya sangat strategis karena terletak di jantung kota.
Tiba pada pukul 11.30 WIB, saya memutuskan untuk langsung menuju ke Tama Boutique Hotel. Kala itu, jalanan Kota Bandung sedang padat merayap, apalagi saya datang tepat di hari Sabtu. Melihat kondisi jalanan yang sedang ‘tidak bersabahabat’, saya pun memutuskan untuk naik ojek online yang saya anggap lebih cepat dan praktis.


Rute 1,5 km dari Stasiun Bandung ke Tama Boutique Hotel saya tempuh menggunakan sepeda motor dalam waktu kurang dari 10 menit. Saking dekatnya lokasi hotel dari stasiun, saya cuma membayar Rp 4.000 saja. Yap, Tama Boutique Hotel sendiri terletak di kawasan Pasir Kaliki, Bandung, di mana masih berada dalam satu kawasan dengan Stasiun Bandung.

Bukan di lantai dasar, lobby hotel justru terletak di lantai teratas

Sesampainya di sini, situasi pintu masuk hotel terlihat sangat sepi. Yakarena lobby hotel tidak berada di lantai dasar melainkan terletak di lantai paling atas. Jadi, ketika kamu masuk lift, akan ada pilihan lantai L yang akan membawa kamu langsung ke rooftop hotel. Tiba di lobby, saya langsung disambut oleh resepsionis yang menyinggungkan senyumnya dengan sangat ramah.

Waktu memang masih menunjukkan pukul 12.00 WIB, tapi untungnya saya diperkenankan untuk check in lebih awal. Wah, betapa senangnya saya saat itu. Tak lama, saya pun langsung diberikan kunci hotel dengan kamar nomor 507.
Ohiya, lobby hotel ini memang tidak seperti lobby hotel pada umumnya. Karena, tempatnya sangat nyaman dan lebih mirip seperti kafe. Ada are sky lounge yang langsung dihadapkan dengan pemandangan Kota Bandung. Selain itu, juga ada area private dining room yang juga bisa kamu bisa kamu manfaatkan sebagai ruang tunggu.
Kesan teduh ditonjolkan dari hotel satu ini. Di sisi bagian kiri, terdapat taman vertikal yang ditumbuhi dengan tanaman hijau yang asri. Rasanya, mata saya seketika langsung segar melihat tanaman hijau yang menghiasi dinding hotel. Konsep industrial juga ditekankan pada lobby hotel, terlihat jelas pada langit-langit hotel yang dibiarkan unfinished lengkap dengan lampu gantung temaram berwarna hitam.


Material kayu juga terlihat mendominasi. Lantai dan dindingnya serta furniture seperti kursi dan mejanya terbuat dari kayu, sehingga menonjolkan kesan homey yang nyaman. Karena area sky lounge dibiarkan terbuka dan hanya dibatasi dengan dinding kaca, hotel ini bisa dibilang ramah lingkungan, karena tanpa lampu yang dinyalakan, lobby hotel sudah sangat terang karena mendapat pencahayaan alami.

Tema Utama Hotel ini , nuansa Korea

Satu hal yang pertama kali membuat saya penasaran dengan hotel ini adalah tema negara Korea yang diangkat oleh Tama Boutique Hotel. Padahal, nama hotelnya sendiri tidak mengandung unsur kata-kata khas Korea. Ternyata, tema Korea ini diaplikasikan pada hiasan lobby dan juga dekorasi kamar hotel.
Pemandangan Bukchon Hanok Village yang ada di Seoul, Korea, terpampang jelas di salah satu sudut kamar, lengkap dihiasi dengan ornamen kayu yang seakan mengibaratkan sebuah jendela dari rumah tradisional Korea. Bukcheon Hanok Village sendiri adalah sebuah kawasan perumahan tradisional Korea yang masih berdiri gagah di tengah gemerlap Kota Seoul.

Melihat gambar Bukchon Hanok Village pada salah satu dinding kamar seakan membawa saya pada masa Joseon di Korea. Mendukung tema Negeri Ginseng, juga ada sebuah tulisan menarik di bagian dinding lorong hotel yang bertuliskan “Keep Calm & Eat Kimchi”.
Tema Korea juga bisa kamu rasakan pada menu breakfast yang ditawarkan oleh Tama Boutique Hotel. Rata-rata, semua menunya merupakan menu khas Negeri Ginseng. Tak heran, kenapa banyak orang yang menilai bahwa hotel satu ini bisa memberikan sensasi menginap ala orang Korea. Bahkan, ada restoran korea Born Ga yang bisa kamu kunjungi di lantai 1 hotel, lho. Tapi pastinya, restoran ini di luar dari biaya menginap di hotel, ya.

Material yang digunakan lebih banyak dominasi kayu

Turun ke lantai 5, saya cukup terkesima dengan desain hotel yang dibuat dengan sangat unik. Material kayu mendominasi seluruh area. Dinding berwarna putih yang berpadu dengan pintu kayu kamar menekankan kesan nyaman dari hotel satu ini.
Konsep hotel ramah lingkungan tampaknya menjadi concern utama Tama Boutique Hotel. Memasuki area lorong, ada rangkaian pot berisi tanama merambat yang diletakkan di area tengah lorong. Cahaya matahari pun menembus masuk dari langit-langit kaca sehingga membuat area hotel tetap terang walau lampu tidak dinyalakan. Juga ada beberapa pajangan mangkuk kayu dan mangkuk khas Korea yang sengaja dipajang di dinding lorong hotel.

Material kayu juga terlihat di dalam ruangan kamar. Meja dan lemari serta sisi kasur didominasi oleh material kayu. Sedangkan, area kamar mandinya menggunakan material keramik berwarna hitam gelap sehingga memberikan kesan eksklusif dan mewah.

Fasilitas Kamar tidur yang lengkap

Menempati kamar 506, saya cukup puas dengan ukuruan kamar hotel ini. Ukuran kamarnya cukup luas sehingga membuat saya leluasa bergerak. Sesuai dengan penjelasan saya di atas, salah satu dinding kamar dihias dengan latar Bukchon Hanok Village berwarna hitam putih yang dilengkapi dengan orname kayu layaknya jendela rumah tradisional Korea.

Dalam kamar deluxe twin bed ini terdapat single sofa empuk berwarna navy di sudut kiri, dan tepat di belakangnya ada standing lamp yang unik. Lemari kaca geser turut disediakan dengan beberapa gantungan baju dan kotak brangkas di dalamnya. Lalu, ada meja panjang bermaterial kayu yang dilengkapi dengan laci kaca berisi cangkir dan aneka minuman sachet seperti kopi, teh, dan gula pasir. Juga disedaiakan dua botol air mineral, heater untuk memasak air panas serta kulkas kecil di bagian tengah meja.
Sama seperti hotel lainnya, tv kabel di sini juga menayangkan aneka film menarik pilihan. Jadi, kamu tak akan bosan selama berada di dalam kamar. Ohiya menariknya, tak ada meja lampu yang biasa diletakkan di sisi-sisi kasur, melainkan ada area dinding yang disulap menjadi meja yang bisa kamu manfaatkan untuk meletakkan aneka barang penting seperti handphone dan laptop.

Karena bentuknya yang bisa dimanfaatkan sebagai meja, juga diletakkan kursi kayu di bagian ujung kasur. Notes kecil dan pensil kayu turut disediakan di dekat telepon kabel hotel.
Ruangan kamar mandinya juga unik, bentuknya persegi panjang. Semua sisi paling kanan kamar dijadikan sebagai ruangan kamar mandi, lengkap dengan pintu kaca buram yang bisa digeser. Luas kamar mandi yang tidak terlalu besar dimanfaatkan sedemikian rupa oleh pihak hotel demi memberikan kesan nyaman. Wastafel sengaja diletakkan di bagian tengah memisahkan area shower dan toilet.

Fasilitas kamar mandinya juga sangat lengkap, ada sabun, shampo, sikat dan pasta gigi, shower cap, cotton bud, dan sanitary bag. Yang saya suka dari ruangan kamar mandinya, meskipun ukurannya tidak terlalu luas, tapi semua fasilitas mandinya diperhatikan dengan maksimal. Menjunjung tinggi konsep ramah lingkungan, ada sebuah pesan yang digantung pada gantungan handuk dengan kalimat yang berisi pesan tentang penghematan air demi menjaga lingkungan.

Menu makanan di dominasi makanan korea

Dari pertama kali check in, pihak hotel langsung menyodorkan menu sarapan yang disediakan di Tama Boutique Hotel. Menu paling banyak didominasi oleh menu makanan Korea, mulai dari bulgogi, topokki, seaweed soup, Korean chicken, dan lain sebagainya. Banyaknya pilihan menu ini sebenarnya membuat saya kebingungan. Akhirnya, pilihan jatuh pada Alacarte Package Korean 1 yang terdiri dari Beef Bulgogi, Tama Tofu, Japchae, Pomp Potato, Snack Fish Fillet, Seaweed Soup, Rice, Pudding, dan Jus Melon.

Tak seperti hotel pada umumnya, breakfast di sini bisa diantar ke kamar, lho. Kamu tinggal bilang ke resepsionis hotel untuk mengantar sarapan yang kamu inginkan. Lalu, kamu sebutkan saja jam berapa sarapan mau diantar. Saya memilih jam 8, dan benar saja tepat pada jam 8 staff hotel mengantarkan sarapan yang sudah saya pesan sebelumnya. Saya pun bisa menikmati sarapan di kamar dengan leluasa.
Keseluruhan makanannya memang merupakan menu khas Korea. Namun rupanya, rasanya cukup enak dengan rasa asin dan gurih yang sangat pas. Jus melonnya juga sangat segar dan bisa menetralisir rasa dari hidangan utama.
Ohiya, untuk bisa menginap di sini, range harganya cukup bervariasi, mulai dari Rp 650 – Rp 1,3 jutaan. Untuk ukuran hotel bintang tiga, rasanya Tama Boutique Hotel cocok dijadikan sebagai pilihan tempat kamu menginap bersama keluarga. Bagaimana? Tertarik menginap di Tama Boutique Hotel?

Kesimpulan

Tama Boutique Hotel menawarkan sensasi menginap ala orang Korea. Tertarik mencobanya?

Plus
  • Kamarnya luas
  • Sarapan bisa diantar ke dalam kamar
  • Fasilitas hotel lengkap
  • Letaknya strategis dan dekat dengan Stasiun Bandung
Minus
  • Parkiran sempit
  • Harga relatif mahal untuk ukuran hotel bintang tiga
Advertisements