Assalamualaikum.. apa kabar semua? Semoga semua selalu dalam keadaan baik ya.

Saya? Alhamdulillah baik dan sehat. Sekarang ini saya sedang menikmati masa-masa menjadi ibu dari 2 anak laki-laki. Yang satu umur 5 tahun, yang satu lagi umur 7 bulan. Iya, nggak kerasa bayi mungil saya yang lahir prematur itu udah 7 bulan lagi aja.

Saat itu rasanya patah hati banget karena adek harus masuk inkubator. Jadi pertama kali saya gendong adek adalah ketika adek umur 13 hari. Waktu itu adek diperbolehin dokter buat terapi kangguru. Sampai akhirnya Alhamdulillah adek bisa pulang di hari ketujuhbelas.

Kita cerita dari awal aja deh ya. Jadi dari awal kehamilan sebenarnya memang nggak mulus banget. Saya sempat keputihan parah dan flek. Keputihan sudah diobati tapi tetap mengganggu. Lalu untuk flek, menurut dokter posisi plasenta memang agak di bawah. Jadi kemungkinan fleknya karena itu.

Sampai ketika kehamilan sekitar 7 bulan, dokter menyatakan plasenta benar-benar menutup jalan lahir. Saya harus bedrest total. Dokter tidak merujuk saya untuk dirawat karena saya tidak mengalami pendarahan, yang biasanya terjadi pada plasenta previa (plasenta menutup jalan lahir). Jujur saja saat itu saya cemas. Cemas karena harus menghadapi kemungkinan akan melahirkan secara caesar. Salah satu yang saya takuti di dunia ini adalah menghadapi operasi.

Tapi Alhamdulillah, kita di usia kehamilan 7,5 bulan dokter menyatakan plasenta saya sudah di atas. Sama sekali tidak menutup jalan lahir. Ya Allah.. saya lega luar biasa mendengarnya.

Namun sayangnya, saat itu tensi saya semakin hari semakin tinggi. Kaki saya juga bengkak parah. Sampai suatu malam, saya sesak nafas. Dan sewaktu periksa ke dokter kandungan, dokter merujuk saya untuk check up. Periksa darah, urin, bahkan usg jantung. Horor, tapi Bismillah aja. Hingga kemudian disimpulkan bahwa saya ada tanda-tanda yang mengarah ke preeklampsia. Salah satunya adalah di urin saya terdapat protein hingga positif 3. Cukup tinggi. Dokter bahkan cukup heran saya nggak merasa keluhan yang parah. Karena di beberapa kasus, protein positif 3 bisa menyebabkan kejang-kejang.

Waktu itu dokter hanya meresepkan obat dan memperbolehkan saya pulang. Hingga ketika usia kandungan 31-32 minggu saya merasa gerak janin agak berkurang. Sejujurnya saat itu feeling saya menyuruh saya untuk periksa ke dokter. Sampai beberapa hari kemudian saya merasa nggak sehat. Setelah mengukur tensi di rumah, yang ternyata hasilnya adalah 170, saya berangkat ke ugd. Sampai di ugd, tensi saya diukur lagi dan hasilnya adalah 190. Perawat berulang kali validasi apa yang saya rasakan. Sejujurnya yang paling mengganggu adalah sesak nafas. Saya kira hal tersebut karena asma saya kambuh, namun ternyata menurut perawat hal tersebut juga dapat disebabkan karena hypertensi. Yah.. langsung saja saya diharuskan untuk dirawat.

Singkat cerita, keesokan harinya ketika rekam jantung bayi hasilnya nggak bagus. Normalnya hasil rekam jantung bayi itu berbentuk grafik naik turun, sedangkan hasil rekam jantung adek hanya garis lurus. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar setengah jam kemudian. Iyah, dadakan banget.

Begitulah. Akhirnya lahir lah adek Kio dengan berat 1,7kg dan tinggi 44cm. Alhamdulillah semua organ adek sehat. NICU dan alat-alat yang sudah disiapkan nggak dipakai sama adek karena adek kuat sehingga hanya dirawat di inkubator. Di satu sisi saya lega, di sisi lain tentu sedih karena sekecil itu adek harus mulai berjuang sendiri, nggak lagi bergantung pada saya seperti dalam kandungan.

Lalu kabar saya bagaimana?

Setelah pingsan di ruang operasi, saya harus dirawat di HCU selama 3 hari. Yes, beneran pingsan. Karena saya hanya dibius spinal, bukan total. Saking takutnya, apalagi saya nggak ditemani suami, saya pingsan. Saya inget banget, waktu itu tepat sebelum kena pisau saya mulai nggak inget apa apa. Hahaha. Ya Allah kalau dinget inget malah pengen ngakak.

Ketika dokter memutuskan untuk operasi, sebenarnya saya mulai agak ngawang ngawang sih. Apa ya.. dalam kondisi pasrah dan nggak begitu sadar saya sedang apa dimana gitu loh. Bahkan ketika tes alergi dan bius di tulang belakang muka saya lempeng aja. Padahal katanya itu sakit banget. Terus ketika perut saya lagi dioles-oles gitu, saya tau berarti sebentar lagi waktunya perut saya dibelah. Eh, habis itu malah nggak inget apa apa lagi. Hahahah. Gustiii..

Habis itu saya dibangunin sama dokter anestesi. Yang ternyata ruangan sudah kosong dong. Acara sudah beres! Saya sudah dijahit, sudah rapi, sudah bersih. Siap dipindahin ke ruang HCU.

*Bersambung ke part dua yaa

FacebookTwitterGoogle+Share