Sepenggal kisah perjalanan mencari kepastian hidup

mom & nisa

Siang itu cuaca sangat terik sekali, habis menyusui Si Kecil yang saat itu masih kelaparan karena efek dari 3 hari yang lalu ia suka muntah, setiap kali saya susui selalu saja dimuntahkan. Tak ada yang bisa saya lakukan selain menyusuinya. Karena saat itu berusia satu bulan. Ya, masih bayi terlihat dari wajahnya yang memerah. Pas banget adzan dzuhur berkumandang. Sang Ilahi memanggil umatnya untuk sejenak bercengkerama dan menunaikan sholat serta keluh kesah di hari ini.

Ini merupakan hari yang tak akan pernah saya lupakan dari ingatan, Jam menunjukkan pukul 12:00 Wib. Saya kembali melihat Si Kecil yang saat itu terbaring mungkin tidur karena memang tubuhnya lemas, saya yang bodoh kurang peka dengan apa yang di alami anak kedua saya saat itu.

Mulutnya kering padahal belum lama saya menyusuinya, terlihat dari matanya yang sayup seperti ingin memenjamkan matanya. Saya panggil Nisa... kok bobo sih biasanya jam segini kamu terjaga lho, yuk mimi dulu. Saya seraya memanggilnya dan mencoleknya namun tak ada tanggapan. Saya berusaha untuk tidak panik dan langsung menelpon suami untuk segera pulang.

Saya masih ingat betul hari Jumat 13 Maret 2015 tepat usia Nisa satu bulan, dibawa langsung sama suami dan juga mertua ke klinik waktu itu tujuannya ke bidan yang ada didekat rumah. Sesampai disana bidan mengatakan pada suami dan mertua saya bahwa Nisa ini dehidrasi berat. Segera saja bawa kerumah sakit. Karena waktu itu saya dan suami belum mendaftarkan keluarga ke BPJS Kesehatan. Makanya inisiatif mertua tuk dibawa ke RSU TANGSEL.

Tidak ada pikiran bahwa Nisa akan dirawat untuk beberapa hari sampai ia sadar dan pulih kembali, bayangkan saja anak bayi usia satu bulan masih butuh ASI harus terpisahkan dari saya Ibunya, karena ia jatuh sakit. Dan akhirnya di RSU Tangsel anak saya Nisa dirawat selama 3 minggu dari ruang UGD sampai pindah ke kamar inap kelas 3. Saat itu dokter hanya menjelaskan bahwa Nisa mengalami dehidrasi sampai di cek HB hasilnya 3,0 mg. Seharusnya anak segitu sudah tiada dengan kadar HB yang sangat rendah dibawah normal. Namun ALLAH berkehendak lain. Ternyata setelah dokter berusaha menolong anak saya, lagi-lagi saya dikejutkan dengan hasil ct-scan kepala Nisa yang kata dokter bedah syaraf Nisa ini mengalami pendarahan di otak. Dalam hati saya bertanya kok bisa, padahal jatuh tidak pernah, kebentur pun juga tak ada.

Sebagian dokter anak dan bedah syaraf bilang bisa jadi Nisa kekurangan defisiensi vit K. Ini bisa terjadi pada bayi yang baru saja lahir. Karena saat lahir kemungkinan bayi tak diberikan suntik vit K. Sehingga mengalami pecahnya pembuluh darah.

Entahlah saat itu saya masih bodoh tak tahu apa yang terjadi pada putri kedua saya, Yang saya tahu hanya ingin Nisa sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kami dirumah.

BPJS Kesehatan saat itu sudah ada

Dokter bedah syaraf dan anak mengatakan segera ditindak dengan melakukan operasi pada kepala Nisa, aduh saya ga kebayang deh! Masa masih bayi sudah harus dibedah bagian kepalanya, dan itu pun hanya berapa persen keberhasilan operasinya. Saya terus terang saat itu sangat takut sekali, apalagi biaya yang dibutuhkan cukup besar yakni sekitar 25 juta untuk operasi kepalanya, belum lagi bayar visit dokternya. Akhirnya saya dan suami memutuskan mendaftar menjadi peserta dari BPJS Kesehatan dengan memilih kelas 3 bayaran iuran bulanannya cukup terjangkau hanya Rp.25.500,/orang.


Minggu kedua mencari kantor BPJS Kesehatan

Dengan modal sepeda motor roda dua, saya titip Nisa sama mertua saat itu nisa masih dirawat di RSU Tangsel, karena keterbatasan alat medis maka nya masih dirawat di kamar inap bukan di PICU. Langsung pagi nya saya bersama suami menyiapkan berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar menjadi peserta BPJSK. Sesampai di kantor BPJSK yang ada di taman tekno BSD. Alhamdulilah hari itu dimudahkan prosesnya untuk kami. Tanpa antri panjang !

Sebenarnya penuh drama yang terjadi sepanjang hari, sepanjang nisa dirawat mulai dari tindakan medis yang ala kadarnya karena saat itu sesungguhnya nisa membutuhkan ruang PICU, tetapi karena tak ada. Mau tak mau saya terima yang penting nisa mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya.

Bicara soal BPJS Kesehatan yang saat ini sedang ramai dibicarakan banyak masyarakat, tentang kenaikan iuran apakah memberatkan atau tidak?

Boleh jujur ini bukan memuji atau membanggakan karena saya sebagai peserta, Alhamdulilah sudah banyak sekali membantu keluarga saya, terutama pada Nisa. Dimana saat itu sangat membutuhkan ruang PICU, untuk pengobatannya. Bayangkan saja jika waktu itu belum ada BPJSK bagaimana cara saya tuk membayar biaya ruang PICU yang perharinya saja sudah sama dengan biaya permalam di hotel bintang 5. Ditambah lagi obat-obat yang sifatnya harus tiap hari ditebus untuk Nisa agar cepat sembuh dari masa kritisnya. Belum lagi biaya visit dokter. Saat itu Nisa dipegang oleh dokter bedah syaraf anak, dokter spesialis anak, dokter rehab medik anak, dan dokter gizi anak. Itu semua kalau di total juga saya ga akan mampu untuk membayar secara tunai. Paling juga jual rumah dulu baru bisa kebayar biaya rumah sakit.

Dengan iuran yang sangat murah itu anak saya tertolong dan sampai kini Nisa kabarnya membaik meski harus menjalankan terapi tiap minggu di rumah sakit. Walau saat ini efek dari penyakit yang menyerang nisa membuatnya belum dapat berjalan dan juga duduk seperti anak-anak lain. Tetapi saya bersyukur nisa mash Allah berikan kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya bersama keluarga tercinta. Dengan keterbatasannya saya tak akan menyerah untuk nisa dapat bisa mandiri.

Sudah 4 tahun saya menjalankan ini semua, ada rasa pahit dan manis setiap bertemu dengan berbagai orang di rumah sakit, mulai dokter yang manis, dokter yang tegas, dokter yang jutek, dokter yang angkuh, dokter yang sabar, dokter yang baik dan macam-macam sifat mereka. Membuat saya kebal akan kritikan orang. Dulu banyak banget orang yang menghina nisa anak cacat dan lain sebagainya. Tetapi di sisi lain nisa selalu menunjukkan ini mama jangan menyerah dan jangan memikirkan kucilan orang-orang.

Alur BPJS Kesehatan dalam melayani peserta rawat jalan dan rawat inap



Memang mungkinbagi peserta baru sangat menyulitkan dan bertele-tele untuk proses mendapatkan pelayanan kesehatan, Harus datang pagi untuk ambil nomor antrian poli pendaftaran, sediakan terlebih dahulu dokumen seperti fotocopy ektp, fotocopy kartu BPJSK, dan poli yang di tuju.

Ada beberapa poli seperti jantung, kebidanan, anak, dan gigi yang sehari hanya menerima 10-20 pasien peserta BPJSK. Ini yang saya pernah alamih saat berkunjung kerumah sakit rujukan di daerah Jakarta. Harus datang dari subuh untuk mengambil nomor antrian dan setelah itu menunggu lagi loket pendaftaran dibuka. Bayangkan saja saya dari rumah saat itu harus bangun jam 3 pagi untk siap-siap jalan ke Jakarta. Agar mendapatkan nomor antrian yang lebih muda.

Supaya kebagian dan bisa cepat pulang, karena kasian nisa kalau pulang kesiangan atau kesorean, badan berasa rontok tapi hasil yang didapatkan kan lumayan untuk perkembangan tumbuh kembangnya.

Saran saya semoga kedepannya jika memang jadi dinaikkan iuran bulanan BPJSK soal pelayanan seperti rujukan dan administrasi lebih mudah dan baik lagi, Lebih terarah lagia dan tentunya semua nya di untungkan. Kalau masalah biaya naik saya sih berdoa saja semoga diberikan kelancaran disetiap bulannya supaya bisa membayar iuran BPJSK. Toh, buat kita juga kan!