Hai, Moms, apa kabar?

Alhamdulillah kabar saya dan keluarga baik semuanya, sehat dan tetap bersemangat. Hanya saja, ada sebuah kejadian yang kalau dipikir dengan nalar, sepertinya tidak masuk akal.

Judul sengaja saya tulis Misteri Hilangnya Uang Kertas Merah di Kotak Infak, tapi ini bukan cerita fiksi lho, ini nyata, sungguh terjadi pada keluarga saya. 

Iya, baru-baru ini saya menemui sebuah kejadian yang boleh dibilang, hanya saya temui di film-film horor aja Moms, dan sekarang saya terpaksa harus mengakui bahwa cerita horor itu ada benar adanya. Memang nyata ada yang begitu. 

Saya sudah bercerita di laman facebook saya soal kejadian tidak masuk akal ini. Dan saya ingin membagikan di sini agar kejadian ini tidak terulang lagi kepada teman teman dan lebih aware pada penjagaan diri dan keluarga .

Bacanya mendingan pagi pagi atau siang ya, Moms, biar ga takut kemana mana hihi 

Mungkin  ada Moms yang sudah pernah membaca cerita tentang KKN di Desa Penari itu ya, nah kejadian yang menimpa saya ini lebih horor dari cerita KKN itu karena terjadi pada keluarga saya, baru baru ini pula.

Jadi begini ceritanya. 

Sebutlah saat ini keluarga saya sedang terkena musibah, sebelumnya, saya gak ingin bercerita di medsos sih, tapi setelah saya pikir pikir, mungkin kalau diceritakan saya akan sedikit lega dan teman teman yang membaca akan lebih waspada dan aware pada penjagaan diri dan keluarga.

Berawal dari mati lampu pada hari Jumat malam, di akhir bulan Agustus lalu.

Awalnya saya pikir kejadian biasa saja. Iya, biasa kan, PLN memang suka matiin lampu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. 

Memang biasa, tetapi ada kejadian yang tak biasa juga. Saat itu, mati lampunya kedip kedip gak langsung mati. 

Saya cek keluar, hanya rumah saya yang mati lampu. Biasanya, kalau rumah depan gak mati, tapi di sebelah kiri dan kanan, pasti mati juga. Nah malam itu, hanya rumah saya aja yang mati. Lalu, saya cek meteran, siapa tahu saklarnya kejeklek gitu. Tapi, gak juga. 

Hmm ada apa ini?

Anak saya membututi saya selama saya cek ini dan itu. 

Alhamdulillah kurang dari satu jam, lampu hidup kembali. 

Hari Ahad, saya tanggal 1 September saya ke acara Wikilatih di Jakarta. Saat itu, suami mengabari uang infak yang dikimpulkan di dalam kotak infak bekas kaleng kue, hilang. Semua. Di dalam kaleng hanya tinggal kertas kertas catatan. Jumlahnya  sekitar 2,5 juta. 

Credit: wikicommons@rahmat

Ya, Allah, kemana uang itu? Mana uang infak pula. Seingat saya, anak anak tidak pernah membuka atau memainkan kaleng itu meskipun ada tergeletak begitu saja di atas lemari penyimpanan kamera.

Saya teringat kamera, kalau hilang, ada yang ambil. Bagaimana dengan kamera?

Alhamdulillah kamera, teropong malah aman.

Cerita suami, hari Rabu uang itu masih karena waktu itu pengajian di rumah. Nah, hari Ahad, pulang dari acara mabit, suami mau menyimpan uang infak ke dalam kotak infak bekas kaleng kue. Ternyata kotak infak itu sudah kosong.

Ya Allah, saya mulai cemas. Saya hubungkan dengan mati lampu waktu Jumat malam itu. Apakah saat saya keluar rumah untuk mengecek lampu ada orang menyelinap masuk? Tapi kenapa dia seolah olah sudah tahu tempat penyimpanan uang di dalam kaleng? Padahal kaleng itu terletak  di dalam  ruangan yang tidak terlihat dari luar. 

Ketika pulang dari Jakarta, saya dan suami sama sama mengecek TKP. Alhamdulillah kamera dan teropong ga digasak juga.

Syukur lagi, kami tidak berjumpa dengan orang itu. Iya, dengan orang yang sedang berbuat jahat di rumah saya. Tahu sendiri kan, orang yang berbuat jahat bisa nekat berbuat apa saja kalau aksinya diketahui penghuni rumah. Mana malam itu di rumah hanya ada saya dan anak anak yang kecil. Kakak kost di Bandung. Teteh ada acara di sekolah. Suami masih di perjalanan pulang dari Bandung.

Di situ saya bersyukur, si pencuri hanya mengambil uang. Tidak jiwa kami.

Lalu, keesokan harinya, hari Senin, kami mencoba mencari jejak pelaku. Mungkin masih ada jejak jejak kakinya. Tapi bersih. Suami juga naik ke atas atap rumah, siapa tahu ada celah orang masuk lewat bubung rumah. Nihil. Tidak ada tanda orang menggunting listrik atau mematikan saklar di depan rumah. Akhirnya suami menambah pengamanan pintu rumah dengan memasang gembok di luar pintu dan selot dari dalam. 

Lalu saya dan suami ke kampus. Tak lupa mengunci semua pintu. 

Ketika pulang dari menjemput anak nomor 5, suami mengecek kaleng penyimpanan tabungan kurban. Dan,  lagi lagi kami harus menerima, uang itu hilang sebagian. Padahal sebelumnya suami yakin tabungan itu tidak diambil. Eh benar tidak diambil semua, tapi sebagiannya.

Ya Allah. La hawla wala quwwata ila billah. Mungkin makhluk halus, bi? Saya berkata setengah berbisik. 

Suami saya menggeleng, ia tetap keukeuh ada orang masuk. Saya pun berharap makhluk itu manusia. Tapi dengan petunjuk dan penjagaan kasat mata begitu, bagaimana mungkin orang bisa masuk?

Saya tetiba merinding. Membayangkan ada makhluk kecil botak sedang gentayangan setiap malam di rumah saya. 

Suami saya menenangkan. Lalu kami sepakat sekarang tilawahnya ayat tertentu untuk rukyah pribadi. Semua anggota keluarga habis shalat Maghrib berkumpul dalam satu ruangan dan membaca surah Al Baqarah dan Al matsurat.

Alhamdulillah,  it's work!
Setelah rutin setiap habis shalat Maghrib kami membaca Al Baqarah dan membaca Al Matsurat, rumah aman tentram. Kami meneruskan kebiasaan baik ini.

Pada hari Rabu (4 September), kakak saya datang, belajar menerapkan google webmaster console dan cek GA. Waktu itu, setelah shalat Maghrib kita lalai, luput melakukan kegiatan membaca Al matsurat bersama sama. 

Lalu, keesokan harinya (5 September) saya pergi ke IIBF bersama teman saya, Bu Yuvita. 

Saya dan bu Yuvi di IIBF stand UT

Di  IIBF saya membeli buku di penerbit Erlangga. Buku Bupena untuk kelas 6. Saat akan membayar, saya lihat, kok amplop yang saya simpan di dompet tipis. Padahal saya ingat betul, kemarin baru saya hitung dan catat isinya. Karena saya sudah keluarkan semua uang yang diberikan oleh pak suami untuk SPP anak anak. Jadi saya hitung sisanya dan saya kumpulkan dalam satu amplop. Saya tulis di luar amplop, nominalnya dan tanggal pencatatan. Nominalnya Rp1.100.000 dicatat pada tanggal 4/9/2019.

Amplop yang berkurang isinya

Ketika saya keluarkan amplop itu dan menghitung isi amplop, uang di dalam amplop tinggal Rp700.000.

Saya lemas. Ya Allah, makhluk apa ini yang sedang mengganggu kami? 

Setelah membayar uang buku. Saya duduk di kursi di depan panggung. Saya coba mengingat-ingat, apakah saya pernah mengeluarkan uang di dalam amplop itu? Rasanya tidak. Karena hari Rabu saya ke kampus. Saya membelikan jajanan saki memakai uang yang ada di dalam amplop lain. Itupun receh.

Saya segera melaporkan kejadian tersebut pada suami. Suami hanya mengingatkan agar selepas shalat  Maghrib tidak lupa membaca Al matsurat. 

Saya sebenarnya tidak terlalu percaya dengan praktik-praktik perdukunan atau pesugihan. Hal ini hanya ada di film-film nasional kita. Itu pun zaman dulu. Film Babi Ngepet. Ada yang pernah nonton? Film Tuyul dan Mbak Yul juga bukan film horor, tapi film lucu lucuan.

Saya kira hanya ada di film saja praktik beginian. Ikhtiar kaya dengan cara bersekutu dengan jin/setan.

Tapi setelah terjadi pada keluarga saya. Dan saya mengalami nya sendiri. Ternyata memang ada orang orang yang ingin kaya dengan cara cara keji seperti ini.

Malah dari sharing dari teman teman di Facebook, banyak juga teman teman yang kena. Uang yang diambil biasanya uang kertas merah dan uang kertas biru. Ada teman bercerita, memang ada tempat tempat orang datang minta pesugihan dan bertransaksi dengan cara yang haram lewat perantara jin dan syaitan.

Di portal berita online yang saya baca juga ternyata kejadian seperti ini marak terjadi dimana mana. Sepanjang tahun kejadian seperti ini ada. Ya Allah, saya beneran baru tahu. 

Ya Allah, moga Allah jaga iman Islam kami dan keluarga agar tak terjerumus dalam praktik sesat ini ketika kami dalam keadaan miskin dan tak berdaya. Semoga Allah beri hidayah orang orang yang terlanjur melakukan kejahatan menyekutukan Allah.

Bagi saya, uang InsyaAllah bisa dicari gantinya, yang penting anak anak tidak terdampak atas kejadian ini.

Hikmahnya, sekarang kami jadi lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan memohon pertolongan Allah. 

Saya jadi memiliki kesadaran, mungkin  juga di antara harta yang saya miliki, ada harta subhat. Mungkin juga sebab kami kurang dalam berinfak. Kurang aware kepada keadaan sekeliling kami, mungkin ada orang susah yang kurang terperhatikan oleh kami. Sehingga harta itu  diambil oleh orang lain dengan cara paksa.

Hikmah lainnya anak anak jadi mengetahui ada rukyah syariah (sesuai tuntan Rasulullah Saw) dan ada rukyah syirkiyyah (mengandung syirik). Mereka juga jadi paham mengapa pentingnya menjaga diri dengan membaca doa doa pendek dalam al.matsurat. paham pentingnya membaca Al Qur'an, karena Al Qur'an itu as Syifa. Penyembuh segala penyakit. Alhamdulillah ala Kulli hal.

Kami meminta ampun pada Allah atas apa yang terjadi pada kami. Semoga menjadi pelajaran bagi kami dan juga teman teman semuanya. 

Doakan semoga makhluk itu tidak datang lagi kepada kami dan orang yang mengirimnya bertaubat pada Allah. Bahwa yang diambilnya itu sebagiannya ada uang umat dan harus dikembalikan kepada umat. Dan ketahuilah, bersekutu dengan setan atau jin itu dilarang agama. Dosa besar. Maka bertaubatlah, kasihan anak dan istri jika diberi harta yang haram. 

Oiya, dari sharing teman teman untuk menjaga agar uang tidak dicuri lagi sama makhluk tak berupa itu:
1. Jangan ada uang cash warna merah dan biru di rumah.
2. Tabung semua uang, sisihkan sedikit untuk keperluan harian atau mingguan. Itupun sudah dijadikan receh.
3. Simpan uang di dalam Al Qur'an atau di dekat Al Qur'an.
4. Teruskan kebiasaan baik berzikir selepas shalat Maghrib agar terbebas dari gangguan jin dan syaitan.

Nah, Moms, itu beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga harta kita dari hal yang tak diinginkan. Jangan lupa minta pertolongan Allah. Btw mungkin Moms ada yang mau sharing, silakan lho, ya.