#ibuberbagibijak
Saya kadang suka heran, kenapa ya penghasilan saya rasanya selalu kurang untuk menutupi segala kebutuhan hidup?

Jadi boro-boro mau investasi, buat nabung aja kok rasanya susah. Makanya jangan heran kalau saya bilang jarang piknik. Lha wong, uang buat kebutuhan sehari-hari saja rasanya mepet kok. Untung saja nggak ada beban utang. Coba kalau ada kan lebih puyeng lagi.

Dan yang lebih mengherankan lagi, perasaan serba kekurangan itu terus berulang sejak saya masih single hingga kini setelah menikah dan memiliki anak. Jadinya kan aneh ya, tak peduli berapa pun uang yang saya dapat, kok saya nggak pernah bisa nabung sih?

Ada nggak yang merasa senasib dengan saya?

Yuk Mulai Melek Literasi Keuangan 

3 September 2019 silam, saya dan sejumlah ibu-ibu blogger dan pengusaha UMKM menghadiri event #Ibu Berbagi Bijak yang digelar di Roaster and Bear, Yogyakarta. Acara ini merupakan program literasi keuangan yang diinisiasi oleh Visa, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Program pelatihan #IbuBerbagiBijak sebenarnya sudah rutin digelar setiap tahun sejak 2017 dengan menyasar perempuan, khususnya perempuan yang merupakan pelaku usaha kecil menengah.

Sejak kali pertama diluncurkan hingga saat ini, program #IbuBerbagiBijak disebut telah menjangkau lebih dari 300.000 perempuan di seluruh Indonesia. Kalau ingin lebih tahu lebih banyak tentang program ini, langsung aja kepo-in akun IG resmi mereka di @ibuberbagibijak. Disana ada banyak tips pengelolaan keuangan yang bisa kita pelajari atau kalau mau curhat-curhat soal pengelolaan keuangan juga bisa.

Sejumlah pembicara hadir berbagi tips dan saran pengelolaan keuangan, diantaranya;

  • Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman 
  • Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank, Pasar Modal, dan Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Noor Hafid 
  • Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi, UKM, dan Nakertrans Kota Yogyakarta sekaligus Wakil Ketua I Dekranasda Kota Yogyakarta, Rihari Wulandari 
  • serta Financial Educator Prita Ghozie 


Kenapa perempuan harus melek literasi keuangan? 

Saya yakin kita semua paham jawabannya. Ya tentu saja salah satunya karena peran perempuan sebagai pengatur keuangan dalam rumah tangga sangat dominan. Ditambah lagi, kini makin banyak perempuan yang juga menjadi pelaku usaha. Boleh dibilang jatuh bangunnya perekonomian negara sesungguhnya berada di tangan kita, perempuan Indonesia. Jadi sudah sewajarnya dong kalau kita juga melek literasi keuangan.

Faktanya, menurut Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank, Pasar Modal, dan Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Noor Hafid, angka literasi keuangan perempuan Indonesia masih cukup rendah. “Berdasarkan survei yang dilakukan OJK 2016 silam, tingkat literasi keuangan perempuan hanya 25,5%, lebih rendah dari laki-laki yang berada pada angka 33,2%. Tapi dengan program pelatihan keuangan seperti #IbuBerbagiBijak ini, saya rasa saat ini tingkat literasi keuangan perempuan seharusnya sudah lebih baik,” imbuh Noor Hafid.

tips kelola keuangan #ibuberbagibijak

Salah satu permasalahan kita, para perempuan, saat mengelola keuangan adalah karena kita lebih sering pakai feeling analysis alih-alih financial analysis. Kita nih sering abai dengan biaya-biaya beban dan silau dengan angka diskon. Jadinya ya gitu deh... perasaan sih untung padahal kalau dihitung-hitung sebenarnya buntung.

Jadi bagaimana dong supaya pengelolaan keuangan kita bisa kembali ke jalan yang benar?

Dalam event #IbuBerbagiBijak2019 kemarin, saya dapat ilmu berharga soal pengelolaan keuangan dari Prita Ghozie. Dasar-dasarnya cukup sederhana kok. Saya coba rangkum ya, semoga bisa membantu.

#ibuberbagibijak

Sudah Sehatkah Keuangan Saya? 

Sebelum menentukan cara mengelola keuangan, mari kita mulai melakukan diagnosa, apakah keuangan kita sudah sehat? Dari sini barulah nanti kita bisa menentukan dimana titik kelemahan pengelolaan keuangan yang selama ini kita terapkan. Ada empat indikator yang jadi bisa kita amati untuk menentukan kesehatan keuangan ini.

  1. Punya Utang?Punya utang zaman sekarang itu bukan aib. Selama cicilan perbulannya tidak lebih dari 30% pendapatan bulanan kita. Dan usahakan meminjam untuk hal-hal yang produktif. 
  2. Biaya hidup lebih kecil dari pendapatan. Pahami prioritas keuangan, itu sebabnya disarankan untuk membuat rencana keuangan setiap bulannya. Prita mengatakan keuangan bisa disebut sehat bila biaya hidup maksimal 50% dari pendapatan.
  3. Punya dana darurat. Kita nggak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Sakit, kecelakaan atau musibah bisa saja menghampiri kita. Itu sebabnya, mau tidak mau upayakan untuk menyisihkan dana darurat setiap bulannya. Nah, kalau kita punya dana darurat dalam bentuk kas yang nilainya minimal 3x pengeluaran rutin dan bisa sewaktu-waktu dipergunakan, itu artinya keuangan kita cukup sehat. 
  4. Punya tabungan?Sewajarnya manusia, kita pasti punya banyak rencana. Ya untuk pendidikan anak, untuk modal bisnis baru, untuk membangun rumah, dana pensiun dan sebagainya. Nah, tabungan dan investasi ini juga jadi indikator keuangan yang sehat. 


Oke, sudah selesai dengan diagnosanya?
Sudah tahu dimana kelemahan kita?

Sekarang mari kita berlanjut membuat anggaran dasar.

“Bedakan Keinginan dengan Kebutuhan” 

Membedakan keinginan dengan kebutuhan adalah dasar dalam pengelolaan keuangan. Bagian ini nih yang sering bikin kantong kita bocor. Bocornya halus tapi banyak. Alhasil, dana kita pun berkurang tapi kita nggak sadar dimana hilangnya. Susah kan?

Itulah sebabnya kita harus lihai membuat prioritas keuangan. Mana yang penting, mana yang bisa ditunda, mana yang tidak perlu dan sebagainya. Dasar pemilahannya tentu saja harus berdasarkan kebutuhan ya, bukan keinginan.

Nah, kalau prioritas sudah dibuat, kita bisa berlanjut membuat anggaran. Langkah membuat anggaran bisa kita mulai dari memilah anggaran berdasarkan beberapa komponen berikut;

  1. Biaya tetap, yaitu biaya yang kita keluarkan tiap bulan dan jumlahnya pasti, seperti biaya sewa rumah/apartemen, premi asuransi. 
  2. Beban fleksibel, yaitu biaya yang berubah setiap bulan. Biaya pulsa, BBM, listrik dan tagihan telepon bisa dimasukan dalam beban fleksibel ini. 
  3. Biaya total, merupakan jumlah gabungan dari biaya tetap dan beban fleksibel. 
  4. Total pendapatan bulanan, adalah penghasilan dari pekerjaan kita atau sumber dana lain, misalnya dividen investasi, tunjangan, pendapatan sewa, fee project dan sebagainya. 
  5. Income, merupakan uang yang tersisa setelah dikurang pajak penghasilan dari pemasukan. 

Setelah merinci komponen-komponen dalam anggaran, kita bisa lanjutkan lagi dengan membuat perencanaan keuangan bulanan. Prita Ghozie memaparkan alokasi ideal untuk penghasilan bulanan sebagai berikut;

#ibuberbagibijak

Satu hal lagi yang patut kita garis bawahi dalam mengelola keuangan adalah mulai terapkan metode sisih dan tinggalkan metode sisa. Artinya bagaimana? Selama ini kita terlatih untuk menabung dari sisa biaya hidup. Kalau metode begini terus dilakukan, wajar saja kalau kita terus-terusan kesulitan menabung. Makanya, Noor Hafid dan Prita menyarankan supaya perempuan Indonesia mulai menerapkan metode sisih. Artinya tiap kali mendapat penghasilan, sisihkan dulu dana untuk investasi dan menabung. Nah sisanya baru kita pakai untuk pengeluaran harian. Sederhana kan?

Semoga jadi tambah tahu dan tambah bijak mengelola keuangan ya.

#TUMBloggersMeetUp