cerita horor, rumah tak kasat mata
(source: pexels.com)

Halo semuanyaa.....

Sudah dijelaskan diatas ya, kalo sebenarnya ini bukan kisah horror atau yang mengandung unsur penampakan. Karena sampai aku usia 25 tahun dan menikah pun, alhamdulillah nya belum sekalipun di perlihatkan dengan makhluk-makhluk astral kayak yang ada di film horor Indonesia dulu itu lho. Yang putih di iket-iket, yang rambut nya panjang atau yang postur nya gede banget, alhamdulillah engga.

Malah, jujur aja rasa takut mah pasti ada ya, dan ini muncul saat bergulir kisah-kisah itu tadi dan masuk dalam imajinasi kita seolah-olah semuanya itu terjadi secara nyata. Mulai dari kisah di kamar  tidur, kamar mandi, ruang tamu atau lukisan dan masih banyak macemnya, aku jadi mudah parno dan kadang habis di ceritain yang horor belum tentu kebenarannya, pasti selalu minta temenin mamah untuk sekedar ke kamar mandi.

Tapi tenang, itu udah berjalan saat aku masih SD kok, kalo sekarang takut karena takut sama dosa, takutnya sama Allah hehe. 

Kejadian itu nyatanya terjadi di rumahku  

Kalo bisa dibilang, percaya dan ga percaya, nyatanya hal ghoib itu selalu ada diantara kehidupan dunia nyata kita ini. Kita juga harus percaya dengan keadaan dan keberadaan bahwa ada makhluk Allah yang lain selain diri kita seperti halnya jin dan juga setan.
Memang issue terkait bahwa rumahku bukannya berhantu sih, hanya saja letaknya paling depan banget setelah gerbang masuk wilayah perumahan dan ada bundaran gitu ditambah ada bangunan yang sudah rusak, tepat di depan rumahku ini.

Hal inilah yang menjadi pemicu hal-hal kurang menyenangkan itu terjadi. Sebenarnya, bukan karena aku diganggu oleh hal-hal mistis, misal kayak piring terbang atau seperti ada yang mandi di kamar mandi namun nyatanya tidak ada orang di dalamnya. Ga kayak gitu..

Tapi ini berhubungan dengan bisnis yang dijalankan oleh mamahku dalam kesehariannya di rumah. Mamah punya warung sembako, kecil-kecilan aja sebenarnya, untuk membuat mamah ada kegiatan karena papah masih bekerja jauh di Papua, adikku kini sudah bekerja di Cibinong dan aku setelah menikah ikut suami ke Tangerang, tetap menyempatkan untuk berkunjung. 

Tetap saja, keseharian jika tidak ada kegiatan seperti halnya berdagang ini, akan merasa sangat bosan. Bisa terbayangkanlah, sendirian namun tidak ada kegiatan. Hingga keanehan makin lama bermunculan seiring berjalannya waktu.

Mematikan rezeki orang lain dengan cara-cara mistis

Sorry to say, tapi beneran gengges banget kalo tau ada orang yang sama-sama mencari rezeki namun dengan cara yang tidak fair, hingga menghalalkan segala cara. Kalo menurut aku, it's okay aja dia mau ke dukun mana pun, itu hidup-hidupnya dia ya.
Tapi apakah tidak ada rasa perikemanusiaan jika itu yang membuat si pemakai tadi memberikan dampak negatif pada usaha orang lain, alias mematikan usaha ini dengan membuat tidak nampak. Yup, rumahku tidak nampak seperti rumah dikalangan para pembeli yang akan berbelok di warung mamahku.

Awalnya aku juga ga seberapa sadar gitu, ketika ada pembeli yang membawa gas kosong, bolak-balik lewat gang tapi ga berhenti di depan rumah. Jelas-jelas warung mamah buka dengan lebar, pintu pagar depan warung juga dibuka lebar, kok sampe ga ngeliat gitu kalo mamah juga ada barang-barang kayak tabung gas dari berbagai jenis?

Akhirnya dengan rasa penasaran, mamahku keluar dan memanggil abang-abang yang lagi cari gas itu.
"Mas disini juga ada gas, emang ga keliatan apa gimana?"

Masnya bilang
"Oh, ibu emang ada? Tadi saya lewat disini ga ada warung, adanya tumpukan besi-besi gitu".

Nah disitulah keanehan yang semakin menjadi, pasalnya mungkin aja ga cuma satu orang ini aja yang melihat rumahku, khusunya warung mamah ini tampak kasat mata, seperti tumpukan besi-besi gitu katanya. 

Karena ya kebetulan aja, yang terjadi percakapan ini ya saat mamahku dengan gentle menanyakan langsung. Kalo yang cuma lewat-lewat gitu aja, kan mamahku ngira nya, ya berarti bukan rezeki mamah gitu.

Ya, kalo udah gini, lantas masa kita berdiam diri atau lebih parahnya membalas pekerjaan orang-orang yang mempunyai rasa iri terhadap rezeki orang lain, lalu mematikan rezeki orang lain dengan jalan kayak gini.

Esmeralda...sungguhlah tidak fair, aku gregetan banget-banget, tapi mau apalagi, kita cuma bisa berserah diri, banyak beristigfar dan meminta ampun kepada Allah dan meminta kepada Allah, bagi orang-orang yang menutup rezeki orang lain itu, dibukakan mata batinnya agar tidak meneruskan kegiatan ini yang jelas-jelas merugikan orang lain banget.

Jika ada yang mengalaminya juga, pasti di kehidupan berbisnis, apalagi mamahku rumahnya di daerah udah ga asing lagi ya. Permainan mistis kayak gini, kayaknya masih aja bertahan di jaman yang katanya udah era millenial, di jaman yang sudah mau menuju revolusi industri 4.0 

Oleh sebab itu bagi pembacaku, memang berat ya untuk menjalani kehidupan ini secara jujur. Tapi itu memang kewajiban kita kok, untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Apakah dengan membaiknya kehidupan kita, sementara kehidupan orang lain menjadi buruk lalu kita pantas berbangga akan hal itu? Semoga bisa dijadikan pelajaran dan introspeksi bersama, kadang uang menjadi jalan orang untuk bisa buta arah, hingga menghalalkan segala cara.