Rumput tetangga emang lebih hijau ya beb! Kadang nih kalau lihat wajah temen glowing, aku suka kepo dan pengen coba skin care yang dia pakai. Padahalkan ya, cocok di temen belum tentu cocok di kita. Ini nih, yang sering banget aku alamin.

Yah gimana, namanya juga perempuan kadang memang suka tergoda sama apa yang dia lihat (alasan klasik) hehe. Belum lagi, iklan skin care di media sosial yang cukup masive, menghadirkan model dengan wajah bak bidadari, kan yang lihat jadi pengen juga.

Serius deh, aku beberapa kali terjebak salah pakai skin care (nggak cocok lebih tepatnya) hanya karena pengen nyobain skin care yang dipakai teman atau tergoda iklan skin care di medsos. Dan hasilnya hmmm nyesel >_<

Dari pengalamanku beberapa kali terjebak dalam kondisi itu, sekarang aku makin paham, memang dalam perjalannya, kita sebagai konsumen pasti akan melewati berbagai kekeliruan sebelum menemukan produk perawatan yang tepat. Nah, kekeliruan itu tentunya memberikan dampak yang negatif ya, seperti time spent (hilangnya waktu), rugi biaya (cost), dan trial error.

Ketiga hal itu sebenarnya umum dikenal di dunia marketing, kalo nggak salah istilahnya consumer pain points atau pengalaman yang menyulitkan konsumen karena memilih produk perawatan yang sesuai merupakan hal yang menyulitkan.

❌ Time Spent
Hilangnya waktu tuh bukan perkara sepele lho, karena bisa berdampak pada waktu berharga kita ke depannya. Aku pernah salah pakai produk yang mengakibatkan wajahku jadi penuh jerawat. Awalnya kupikir ini merupakan proses detox hingga akhirnya kulanjutkan pemakaian hingga sebulan lebih. 

Eh tapi ternyata bukan membaik, justru jerawatku semakin parah, dan menurunkan rasa percaya diri. Setelah berkaca dalam-dalam dan memandangi jerawatku satu persatu, fix aku sadar, bahwa aku salah pakai produk perawatan.

❌ Cost
Produk perawatan yang mahal itu nggak jaminan cocok di kulit kita lho. Karena termakan iklan, aku pernah coba pakai produk yang mahal hanya karena temanku cocok pakai itu, dan ternyata tidak ada hasil apapun di kulitku, selain dompet yang semakin kering, hiks.

Trial and Error
Kalau dalam proses pembelajaran, mungkin trial and error merupakan proses yang harus ditempuh dalam menuju kesuksesan. Eittss tapi tidak dalam memilih produk perawatan ya.

Belakangan ini kan produk Korea marak di Indonesia, kalau ke mall, akupun sering melihat antrian yang mengular dari salah satu store brand kosmetik Korea. Akhirnya penasaran pengen coba. Waktu itu aku pakai produk yang berbahan dasar lidah buaya, setelah dipakai kulitku malah terasa semakin kering dan gersang. Hmmm, jadi PR lagi deh untuk kembali melembabkan dan menutrisi kulit.

Pasti kamu nggak mau dong mengalami tiga hal yang aku alamin di atas? Sama aku juga kapok hehehe. Nah, menurutku, ada 2 hal yang harus kita lakukan dalam memilih produk perawatan, yaitu:

1. Identifikasi jenis kulit kita terlebih dahulu

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah identifikasi jenis kulit kita. Menurut dr. Leslie Baumann, seorang peneliti dan ahli kecantikan dari Amerika, jenis kulit manusia dibagi berdasarkan 4 kategori dasar, yaitu level sebum, sensitifitas, pigmentasi, dan elastisitas. Nah, dari 4 kategori inilah didapat 16 jenis kondisi kulit yang berbeda.

2. Pertimbangkan faktor lain yang sesuai dengan kebutuhan kita

Setelah mengetahui jenis kulit, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah sesuaikan juga produk yang digunakan dengan faktor lain di luar jenis kulit kita, seperti: apakah produk tersebut menjawab kebutuhan spesifik kulit kita (seperti menghilangkan noda hitam)?; apakah bahan aktif kandungannya aman untuk jenis kulit kita? Dan sebagainya.

Revolusi Teknologi Tes DNA Membantu Identifikasi Jenis Kulit dan Tentukan Produk Perawatan yang Cocok


Pernah dengar Tes DNA? Pasti langsung kepikiran untuk membuktikan anak kandung atau bukan (sinetron banget ya). Ternyata Tes DNA itu juga bisa digunakan untuk mengindetifikasi jenis kulit kita lho.

FYI, DNA merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. Tes DNA adalah prosedur yang digunakan untuk mengungkapkan secara akurat, informasi mengenai genetika dalam tubuh seperti potensi, risiko dan kebutuhan unik setiap individu yang berkaitan dengan banyak hal seperti kebutuhan suplemen dan nutrisi, intensitas olahraga yang sesuai, hingga perawatan kulit yang tepat dan lainnya.

Salah satu hal paling mendasar yang bisa diperoleh dari tes DNA adalah kondisi kulit seseorang. Sebagai organ tubuh paling luar, kulit merupakan lapisan pelindung yang bekerja 24/7 dan paling rentan terpapar oleh faktor eksternal seperti matahari dan polusi. Pengecekan DNA kulit bisa memberikan informasi yang akurat mengenai kualitas kolagen, elastisitas kulit, pigmentasi kulit, dan sebagainya. Tes DNA kulit sudah umum dilakukan di negara maju, untuk mengenal kondisi kulit dan mendapatkan perawatan yang tepat dan sesuai.

JakPat sebagai Platform Online Survei, melihat bahwa DNA sudah menjadi subjek global yang telah dijajaki oleh para pakar kesehatan kulit, agar menjadi solusi bagi konsumen dalam memahami kondisi kulit mereka. Untuk itu, JakPat mengadakan survei pada tanggal 5 – 10 July 2019 terhadap 537 responden, mengenai pemahaman responden akan kondisi kulit mereka dan pendapat mereka akan manfaat teknologi pada konteks perawatan kulit,” jelas Aska Primardi, Head of Research Jakpat.

Hasil riset yang diadakan JakPat menunjukkan pentingnya tes DNA kulit. Dalam konteks penggunaan produk perawatan wajah, hanya 15% responden yang mengatakan bahwa kinerja produk yang mereka gunakan, sesuai dengan harapan. Sisanya mengatakan bahwa mereka masih menderita masalah yang mengganggu seperti jerawat, iritasi, kulit kering, kulit berminyak, dan lainnya. 30% Responden juga merasa belum puas dengan kondisi kulit mereka saat ini, walaupun telah menggunakan berbagai macam produk perawatan.

Hasil riset lainnya menunjukkan bahwa para responden sudah selektif dalam mencoba produk perawatan kulit, untuk mencegah terjadinya masalah kulit dan menghindari terbuangnya uang dan waktu dengan sia-sia. Dalam konteks menemukan produk perawatan yang tepat, 50% responden setuju untuk memeriksakan kondisi kulit mereka dan secara umum memilih untuk pergi ke dokter kulit atau dermatolog. 

Dalam konteks skin DNA treatment, kecenderungan responden untuk percaya akan hasil tes DNA kulit, mencapai 85%. Selain itu persentase minat responden untuk mencoba perawatan kulit dengan teknologi tinggi (hi-tech) mencapai 90%.

Dari riset yang telah dilakukan tadi, sepertinya teknologi tes DNA secara global memang telah memberikan manfaat bagi kita yang ingin memahami kondisi kulit dengan mudah. Untuk meminimalisir pengalaman pain points konsumen yang aku jelaskan sebelumnya, teknologi tes DNA ini bisa menjadi solusi terbaik karena tes DNA dapat menjelaskan kondisi dan kebutuhan spesifik kulit yang tepat.


Nggak perlu khawatir repot dan bingung, karena saat ini pengecekan DNA bisa dilakukan di rumah tanpa perlu datang ke laboratorium. Dan hasilnya pun tetap akurat untuk mengetahui karakter genetik kulit kita. Nah, informasi lebih jelas mengenai teknologi DNA kulit ini coba kepoin deh www.smartskinsolution.com atau tunggu postingan blogku berikutnya yaa ^_^