bertetangga, kisah nyata, kisah hidup bertetangga
(source: Paxel.com)

Assalamualaikum, halo semua dalam bahasan blog kali ini aku menampung beberapa keluh kesah dari seseibu yang baru saja mengalami jatuh bangun gitu deh sama tetangga yang 5 langka doang sama rumah beliau.

Ibu tersebut cerita kalo ia pindah dari tempat tinggal yang sekarang ini ya karena merupakan rumah miliknya yang selama kurang lebih puluhan tahun ia tinggalkan dan ceritanya mau di jual. Namun beberapa kali orang yang menawar tidak ada yang membuat sang ibu merasa sreg gitu. Aku pun bingung mau nanya-nanya lebih detail kan takut dikira super kepo. Hingga waktu berjalan dan lama kelamaan ada sebuah peristiwa yang membuat sang ibu ingin balik lagi menempati rumah tersebut dan selama di tinggali itu, ia "titipkan" kepada seseorang yang telah ia percayai.

Pengkhianatan 

Jika boleh aku simpulkan, ya memang berujung sangat-sangat menyakitkan lho. Bagaimana tidak, selama kurang lebih puluhan tahun, rumah tersebut menjadi tempat usaha dari kita sebut saja Melati yang kini malah membuka pertokoan barang X dengan membeli rumah yang aku gatau persis gimana nya, saat ibu yang cerita ke aku itu.

WHAT?? Eh tapi biasa aja sih, lagian semua berhak mendirikan tempat usaha dimanapun kan. Tapi bisa dong ada etika nya yang agak luwes, ada perkataan terima kasih telah meminjamkan rumah ini kepada kami sehingga kami bisa menyewa sebelah rumah ibu untuk keberlanjutan usaha kami berupa toko X.

Nah, disini ga ada gaes, jadi lempeng-lempeng aja dan mengatakan seantero jagat raya bahwa Melati ini ngontrak di rumah ibu. Ibu ini cerita ke aku sampai berapi-api dan aku jadi keikut emosi gengs, jadi selama puluhan tahun menitipkan rumah, alias rumah ibu ini di pakai tempat usaha namun ketika ibu mau pindah dan balik lagi, ia merasa terusir gengs...

Tidak ada iktikad baik

Sebagai tempat curhat yang mau tidak sekedar memberikan wadah sebagai luapan emosi, aku juga setuju kalo ya paling banter kita sebagai manusia ada rasa saling. Gimana caranya tepa seliro, gitu ya menurut pribahasa jawa kalo ya kita harus berbuat baik, menempatkan diri kita di sepatu orang lain ketika mengalami hal-hal yang menyesakkan dada.

Seiring berjalannya waktu, ibu tersebut lagi-lagi mengeluhkan bahwa kelakuan dari tetangga nya itu makin membuat gengges. Pasalnya rumah ibu ini dulunya merupakan warung sembako serba ada namun semenjak kepindahannya hinga ia menempati rumahnya kembali, ya sah-sah aja dong kalo dia mau bikin usaha ini hidup kembali.

Bersabar dan berdoa

Dengan sedikit wajah yang mengiba, ibu ini sampai minta review ke aku lho, apakah ada yang salah selama ini ke beberapa orang terutama ke Melati tadi hingga respon dalam kesehariannya super lebay kayak gitu?

Ya aku sih bilang gini ke ibu tersebut, bahwa ada beberapa orang hadir yang akan mewarnai hidup ibu sebagaimana cobaan datang bersamaan dengan kebahagiaan. Nah, aku keliatan sok bijak banget deh wkwk, padahal aku sedih dan ngerasain kalo punya tetangga super duper rese gitu.

Ada lagi cerita kalo, ibu habis-habisan untuk proses renovasi rumah yang habis ditinggali oleh si Melati itu kayak ga kerawat gitu lah, ya maklum tempat hunian secara gratis jadi ga ada rasa tenggang rasanya sama sekali, karena aku dikirimin foto before after setelah renovasi. Ya gue tau lah ya pasti ada perbedaan sebelum sama sesudah, tapi sebelumnya ini parah banget gengs..ya gitu lah, gw sampe speechless.

Pesan..

Ilmu yang bisa kita ambil ya sobat yang budiman, bahwa hidup bertetangga itu banyak sekali ragamnya. Suatu saat banyak bersyukur bisa diberikan tetangga yang baik dan semuanya serba terceklis oke karena ya kita berada di perantauan dan jauh dari keluarga, ada kalanya, nyebelinnya bukan main. Kayak aku rasain sendiri, ada mobil yang parkir di depan pagar rumahku, pas banget di depan pagar eh aku mau keluar jadi gabisa dong.

Gitu itu ngerugiin banget-banget  gengs..mudahnya coba kita tempatkan diri kita di sepatu orang lain, pasti akan lebih berfaedah deh sebelum ngelakuin segala sesuatunya.