Holla...
 
Udah lama sih pengen cerita pengalaman sehabis melahirkan Bang Abi yang cukup sarat akan drama. Bukan mau nakut-nakutin yang akan bersalin atau menambah mimpi buruk yang baru saja melahirkan dan mengalami drama kayak aku, tapi sedikit berbagi pengalaman aja. Dulu waktu aku mengalami ini, aku sempat mikir, apakah cuma aku yang ngerasain postpartum drama gini. Dan itu bikin down lho. Pengen teriak, ya Allah.. Kok aku kek begini?


So.. Aku share ini sebagai bentuk ucapan, Bok-ibok... Kalian nggak sendiri kok. Aku juga gitu. Walaupun mungkin masalahnya beda. Tapi feelnya pasti mirip lah. Berat sis. 
 
Jadi ini kisah aku setelah melahirkan anak pertama, dan sempat menjadi moment jungkir balik aku juga sih. Aku yakin, setiap perempuan yang habis melahirkan memiliki masalah sendiri. Dan masalah itu bisa saja kecil untuk orang lain. Tapi jangan pernah sepelekan. kondisi ibu yang baru melahirkan. Karena postpartum drama (entah istilah ini memang ada atau tidak didunia kesehatan ataupun psikologi) sangat memungkinkan untuk bertransformasi menjadi postpartum depression.
 
Aku sudah mengalaminya, dan aku benar-benar tahu seberapa beratnya itu Moms. Bagaimana semua bisa terlewati dan teratasi. Aku benar-benar harus banyak mengucap syukur Alhamdulillah dan berterimakasih telah dikelilingi oleh orang-orang yang juga ikut bersemangat dan berbahagia atas kelahiran anakku. Salah satu alasan yang membuat aku sadar untuk bangkit dan legowo dengan kehidupan baru ini.
 
Yup, badai pasti berlalu dong bok. Hanya saja ketika kita sedang dalam masalah tersebut, kita suka lupa kalau semua bakalan berakhir. Itulah salah satu kendala terbesarku. Aku kadang suka lupa mikir kalau ada awal berarti ada akhir. Hiks.
 
Baiklah, jadi ini langsung aja aku ceritain drama apa aja yang aku alami saat itu?
 
 
Hecting dan Hemoroid
 
Aku melahirkan Bang Abi dengan proses normal dan vakum. Juga mendapat tindakan epis. Jadi kebayang dong ya pasti hectingannya rame beuud. Ketika si dokter sedang melakukan proses hecting, aku nggak ngerasain nyeri dikitpun. Mungkin karena dibius kali ya.
 
Tapi, nyerinya mulai terasa ketika aku sudah melewati masa observasi setelah bersalin dan kemudian dipindahkan kekamar rawat inap. Ketika dipindahkan keruang rawat inap itu sudah masuk jam tidur, yaitu sekitar jam 9-10 malam. Karena kan Bang Abi lahir sesaat sebelum Adzan Magrib.
 
Setelah melewati proses persalinan dan melawan kontraksi kurang lebih 24 jam, badan juga udah remuk, aku rasanya ingin sekali tertidur pulas untuk mengembalikan energi yang udah low. Tapi apalah daya, tidak hanya nyeri hecting yang terasa tapi juga pinggulku tidak bisa benar-benar diletakkan dengan nyaman karena adanya homoroid yang muncul ketika mengedan pas persalinan tadi.
 
Sumpah ya, saat itu mata udah nggak sanggup lagi untuk sadar, tapi nyerinya ampun-ampunan sampe bikin gigi gemeretak ketika menahan nyerinya. Cuma satu yang kepikir, mau nangis. Dan jadilah aku tertidur ketika sedang menangis untuk meluapkan rasa sakit tadi.
 
 
Baby Tidak Menangis
 
Dimalam yang sama, ada satu hal lagi yang bahkan sampai saat ini masih terpikir olehku. Yaitu, ketika dilahirkan Bang Abi sama sekali tidak menangis. Dia harus direspon dengan alat bantu sekitar 5-10 menit (kalau aku nggak salah) baru mengeluarkan tangisannya yang sangat melengking. Tangisan yang membuat aku merasa tenang dan ngebatin "alhamdulillah anakku hidup". Kacau sih rasanya. Tapi begitulah awal drama ini dimulai. Penuh dengan tanda tanya dan teka-teki.
 
Seperti yang aku bilang sebelumnya, tidak menangisnya Bang Abi ketika lahir, membuat aku bertanya-tanya apakah dia sehat? Apakah kondisi kesehatannya aman-aman saja? Apakah akan mempengaruhi kondisi kesehatannya dikemudian hari?
 
Keesokan paginya ketika DSA Bang Abi visit dan melaporkan kondisi kesehatan anakku secara gamblang, kegalauanku sedikit terjawab. Setelah melakukan pemeriksaan mulai dari malam ketika Bang Abi baru lahir dan kontrol lanjutan pagi harinya, kondisi Bang Abi dalam keadaan yang prima. Dia sehat.
 
Masalah tidak menangis ketika lahir, bisa disebabkan karena sudah terlalu lama dijalan lahir, simpelnya dia kelelahan.
 
Sampai disitu, aku pikir aku sudah bisa lega.
 
 
Gagalnya ASI Ekslusif
 
Ketika Bang Abi masih diperut, aku selalu nyerocos ke Papanya kalau aku mau ASI ekslusif. Pokoknya Bang Abi nggak boleh dikitpun kenalan sama sufor dan dot.
 
Bukan bermaksud mau membandingkan mana yang lebih baik antara ASI atau sufor ya. Tapi itulah komitmenku. Nggak bermaksud menjengkali pilihan ibu lain.
 
Tapi, karena homoroid dan nyeri setelah hecting, aku sangat tidak nyaman dengan kondisi badanku. Belum lagi kondisi kepala Bang Abi yang sedikit membengkak karena efek vakum, membuat aku harus berhati-hati ketika menggendongnya.
 
Pikiranku dan suami benar-benar galau disitu. Situasi dan kondisinya benar-benar  sulit, membuat kami tidak bisa berpikir jernih. Kami ketakutan kalau Bang Abi kehausan dan dehidrasi. Padahal mah nggak. Bayi baru lahir mampu bertahan tidak diberi cairan selama 3 hari dan daya tampung lambungnya hanya sebesar guli. Sebelumnya aku tahu betul itu, bolak balik  baca artikel tentang menyusui. Ketika kelas senam hamil juga telah diedukasi oleh tim bidan di rumah sakit tempat aku bersalin. Tapi karena ketakutan orangtua baru, kami benar-benar blank. Kami tahu, tapi kami takut salah, kami takut menyesal. Itu lah intinya.
Agak nyesel juga nggak baca buku ini dari waktu hamil.
Karena itulah, cairan pertama yang masuk ketubuh anakku bukan air susu ibunya, melainkan susu formula yang masuk melalui dot. Detik itu aku sangat sedih dan merasa gagal sebenarnya. Tapi alhamdulillah, berkat dorongan suami dan peran pihak rumah sakit, Bang Abi hanya sebentar menikmati sufor, karena keesokan harinya perawat menuntunku dengan serius bagaimana cara menyusui yang benar. Walaupun Bang Abi tetap kesulitan karena masalah flat nipple. Aku tetap dimotivasi pihak perawat diruang bayi untuk menyusui secara langsung, mereka memberi solusi untuk memakai nipple puller. Walaupun hasilnya tetap tidak banyak membantu, ujung-ujungnya malah lecet dan terasa sangat perih. Akhirnya  aku disarankan untuk pumping dan Bang Abi masih tetap menyusu dengan botol dot. Aku pikir, ya sudahlah nanti juga bisa perlahan dihilangkan kebiasaan ngedotnya, yang penting ASI-ku masuk dulu ketubuh mungilnya.
 
Sampai sekarang mau beranjak dua tahum, memang Bang Abi masih menyusu dan sufor hanya sampai saat itu saja. Walaupun sebentar, tapi karena aku memiliki niat untuk ASIX tetap saja aku merasa gagal. Cerita khusus tentang breasfeeding drama juga bakalan aku bahas di postingan selanjutnya ya.
 
 
Batal Pulang
 
Dirumah sakit tempat aku melahirkan, biaya dan lamanya perawatan sudah dipaketkan. Karena aku melahirkan dengan cara normal, jadi waktu rawat inapku hanya 3 hari 2 malam. Kondisiku juga sudah lebih baik, homoroid mulai kempes karena diberikan salep oleh Obgyn-ku. Nyeri hecting sudah kurangan berkat senam nifas yang juga masuk dalam paket bersalin.
 
 
Jadi pagi itu aku bangun pagi dengan penuh semangat. Yeay pulang. Kebetulan juga, semua pasien dirumah sakit tersebut mendapat fasilitas nyalon (creambath atau cuci blow) ketika akan pulang. Setelah mandi, aku dituntun oleh perawat dan tentu saja ditemani suami keruang salon rumah sakit. Kami berencana, habis nyalon mau jemput anak kami di ruang bayi sebelum pulang.
 
Setelah selesai nyalon dan dengan sangat bersemangat memasuki ruang bayi, kami melihat diruangan tersebut Bang Abi tengah diperiksa oleh DSA-nya. Aku awalnya mikir, oh mungkin lagi di vaksin polio yang memang dijadwalkan ketika pulang. Tapi perasaanku berubah gundah ketika melihat suster berbicara kepada dokter tersebut dan menunjuk kearah kami. Kemudian dokter tersebut berjalan kearah kami dengan mimik wajah seolah akan menjelaskan sesuatu yang penting kemudian langkahnya terhenti sejenak untuk mencuci tangan. Aku tetap memperhatikan mimik wajahnya. Sumpah aku benar-benar nggak sabaran dan penasaran saat itu. Apaan sih? Ada apa sih? Batinku resah.
 
Kemudian si Dokter tersebut menemui kami dan berusaha untuk santai menyampaikan bahwa, anakku belum bisa dibawa pulang kerumah.
 
What??
 
 
Bilirubin Tinggi dan Hemoglobin  Baby Rendah
 
Jadi anakku dihari ketiganya, disaat yang sama dengan jadwal kepulangan kami, tubuhnya menguning. Setelah melakukan pemeriksaan lab, diketahui bahwa bilirubinnya tinggi ditambah lagi Hemoglobin rendah. Bilirubin Bang Abi saat itu adalah 13 normalnya 12. Sedangkan Hemoglobin 10.6 normalnya 12-16.
 
Foto ini diambil ketika kami sedang menunggu hasil lab Bang Abi. 

Iya tahu kok, banyak bayi baru lahir yang mengalami hal serupa. Tapi karena ketahuannya bersamaan dengan euforia mau pulang, ditambah lagi orangtua baru. Ya shock lah. Sedihlah.
 
 
Light Therapy
 
Jadi kedua masalah diatas berakhir dengan solusi Bang Abi harus melanjutkan perawatan. Sebenarnya kan aku sudah bisa pulang. Tapi ya aku nggak mau dong pulang sedangkan anakku tinggal dirumah sakit dan harus menjalani terapi sinar untuk memulihkan kondisinya. Aku dan suami memperpanjang waktu rawat inap kami. Walaupun selama Bang Abi diterapi dia tidak bisa bertemu denganku selama 24 jam. Tapi bagiku saat itu melihatnya dari kaca ruang bayi saja sudah lebih dari cukup. Waktu memompa ASI di ruang bayi sengaja aku perlama, agar waktuku untuk melihatnya (walaupun berjauhan) semakin lama.
 
Alhamdulillah, kondisi Bang Abi segera membaik, bilirubinnya kembali normal. Walaupun dokter menyarankan agar Bang Abi ketika berada dirumah tetap rutin dijemur dibawah sinar matahari pagi.
 
Bang Abi sedang berjemur dengan sinar matahari yang nyempil manja dari jendela belakang rumah. 

Untuk memulihkan hemogolobinnya Bang Abi diberikan suplemen zat besi khusus untuk bayi dan dikonsumsi selama tiga bulan penuh. Meskipun sudah dizinkan pulang, kondisi Bang Abi tetap dipantau, tiga hari kemudian kami diminta untuk kembali memeriksakan kondisi Bang Abi kerumah sakit.
 
Bingung Puting
 
Setelah pulang, hatiku sangat lega. Bisa tidur seranjang dan menggendong Bang Abi adalah hal yang sangat aku nanti. Ternyata oh ternyata, semua belum bisa seperti apa yang aku bayangkan. Bang Abi mengalami bingung puting. Pelekatannya belum pas. Setiap ingin menyusui Bang Abi secara langsung aku dan dia sudah seperti orang berantem. Aku panik karena mulutnya tidak dapat menjangkau putingku dengan sempurna, dan dia histeris karena tidak sabaran. Alhamdulillah juga masalah bingung puting ini tidak berlanjut lama. Hanya sekitar sebulanan gitu deh. Intinya proses menyusui Bang Abi penuh dengan drama yang tak kalah pelik dibanding drama setelah melahirkan ini. Kayak yang aku bilang sebelumnya, pokoknya ini juga bakalan aku post deh.
 
 
Exclusive Pumping
 
Karena sangking stressnya aku cuma bisa mikir gini, ya udahlah pokoknya anakku minum ASI aja udah. Mau pumping kek.. Mau langsung kek.. Mau pake botol kek..
 
Iya! Aku udah stress berat disitu.
 
Tapi E Ping itu nggak semudah yang aku pikirin lho. Sebenarnya lebih capek dari menyusui langsung. Kalau menyusui langsung kan, gitu anaknya selesai nyusu, kita paling ngga bisa tiduran bentar atau minimal selonjorin badan. Tapi kalau E Ping pas anak selesai nyusu kitanya harus kejar stock ASIP.
 
Sumpah berat bok. Aku salut deh untuk Ibu bekerja yang konsisten pumping untuk stock ASIP anaknya. Karena aku walaupun cuma sebulanan rutin pumping aja udah keok.
 
Begadang Jangan Begadang
 
Aku itu orangnya memang paling nggak sanggup begadang. Kalau disuru bangun pagi, sepagi apapun aku mampu deh. Tapi disuruh begadang. Ampun bok.
 
 
Tapi, semenjak ada anak, masih bayi pulak. Ya wajib kan begadang. Belum lagi, karena awalnya Bang Abi minumnya ASIP yang harus di hangatkan dan pindahkan lagi ke dot, jadi ketika dia haus kan lebih butuh waktu untuk nunggu. Kalau direct breastfeeding-kan begitu anak nangis ya tinggal disusui. Jadi sambil nunggu Papanya nyiapin ASIP, aku yang masih setengah sadar harus berjuang mendiamkan Bang Abi yang kalau nangis sampai tetangga diujung jalan pada tahu. Ya panik aja. Takut tangisannya mengganggu tetangga. Hehe. Padahal mah perasaan aja. Tetangga juga maklum. Namanya juga drama. Ya wajar lebay dong mak. Wkwkwk.
 
 
Badan Remuk Redam

Semua hal yang aku jabarin diatas berakhir dengan ending. Badan hancur lebur. Remuk redam tak berbentuk. Bahkan tidurpun nggak tahu lagi gimana bisa enak, bisa nyenyak. Tulang rasanya ngilu dan nyeri minta ampun. Sampai gemes-gemes rasanya sama rasa capek ini. 
 
Aku pernah sekali pijat sehabis melahirkan. Tapi pegelnya cuma ilang bentar. Setelah itu datang lagi. Jadi kayak nggak guna aja pijatnya. Wkwkwk. LOL.
 
Karena kayaknya badan pegal sehabis melahirkan itu nggak ada solusinya. Aku jadi kesal sendiri. Jadi suka marah-marah sendiri untuk melampiaskan lelah yang ampun-ampunan ini.
 
-----------------------------------------
 
Tapi.. 
Alhamdulillah semua sudah terlewati. Anakku sudah tidak ada masalah dengan hal menyusui. Bilirubin dan hemoglobinnya juga sudah normal. Kesehatanku juga sudah pulih benar. Kalau urusan begadang dan rasa lelah mah udah kebal. Hahaha. 
 
Yeay... 
Kalau dipikir-pikir sekarang sih semuanya itu terasa seperti petualangan yang seru. Bukan lagi aku pandang sebagai masalah besar. 
 
Alhamdulillah.. Tapi semua itu bukan karena aku yang kuat. Atau aku sangat hebat. Tetapi, peran suami yang mampu membuat aku yakin dalam menjalani semuanya. Makasih ya boss. Hehe
 
Segini dulu bahas drama setelah melahirkannya. Sebenarnya ada banyak lagi sih dramanya, tapi ntar aku bikin chapter 2 nya ya. Wkwk. Kayak betol aja. Hahay. 
 
XOXO
 
Madamabi___