Blogger Medan Ngobrol Bareng MPR Republik Indonesia.

Memandang indahnya ciptaan Tuhan kepada negara yang diberi nama Indonesia, membuat saya tak pernah lelah untuk bersyukur. Bagaimana tidak, seluruh hal yang diidamkan negara lain semua ada di negara ini. Lautan yang luas, gunung yang tinggi, danau terbesar, pantai terindah, dan tanah yang kaya akan sumberdaya nya. Belum lagi tentang iklim yang membuat para turis asing berbondong untuk menghitamkan kulitnya. Ah, apa kurangnya Indonesia.
 
Negara yang diperjuangkan para pahlawan dari masa ke masa ini hanya belum maksimal dalam mempertahankan 4 pilar kebangsaan. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Siti Fauziah,  kepala Biro Humas Sekretariat Jendral MPR RI dalam acara Netizen Medan Ngobrol Bareng MPR. 
 
 
Acara ini dihelat pada tanggal 20 April 2018 di Swissbell Hotel Medan. Mengundang sebagian besar blogger dan penggiat social media di Medan, secara garis besar acara ini membahas tentang 4 pilar kebangsaan yang saat ini kurang dimaknai oleh warga negara Indonesia sendiri. Yang dimaksud 4 pilar kebangsaan adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. MPR berharap dengan sosialisasi ini, para Netizen yang merupakan penggiat social media serta para blogger di Medan menjadi salah satu pioner yang dapat mensosialisasikan 4 pilar kebangsaan melalui akun social media yang dimilikinya. 
 
Sebut saja, social media dalam kurun waktu 10 tahun belakangan menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan dari setiap individu. Bahkan anak dibawah umur pun sudah diberikan fasilitas oleh orangtuanya dalam mengakses sosial media. Tanpa sadar, individu yang menggunakan social media mengunggah setiap kegiatan dan data dirinya di internet. Agar dikatakan eksis dan tetap up to date tanpa memikirkan dampak buruk bagi dirinya bahkan bagi bangsa dan negara. 
 
Dampak buruk seperti apa? 
 
Pada masa sebelum tahun 2000an, untuk mengetahui data akurat dari individu maka diperlukan survey secara konvensional dengan cara door to door dan diiming-imingi dengan hadiah tanpa diundi. Tapi dewasa ini, profiling data sangat mudah dilakukan. Yaitu dengan cara menggunakan social media untuk mendapatkan informasi yang luar biasa. Karena pada tahun-tahun sekarang seluruh data pribadi bahkan setiap kebiasaannya langsung dishare dengan mudah oleh generasi milenial itu sendiri. 
 
 
Padahal seharusnya, data-data pribadi bahkan kegiatan sehari-hari itu tidak harus dibagikan kepada publik, meskipun difasilitasi oleh social media. Seharusnya, security system harus tertanam dalam diri agar menjaga diri kita. 
 
Mengapa harus berhati-hati? 

Karena ada oknum yang menggunakan data di social media untuk membenturkan dan memaksakan kebenaran yang diyakininya demi kepentingan tertentu. Social media yang sejatinya diciptakan untuk menjaga silaturahmi sesama manusia pun diolah untuk menjatuhkan pihak tertentu demi kepentingan pihak lainnya. Data-data yang tersebar di dunia maya itupun dipergunakan dengan tidak bertanggung jawab. 
 
Bahkan netizen pun dengan mudahnya diadu domba dengan 3-4 baris kalimat di sosial media tanpa difilter apakah kalimat itu benar atau tidak. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di Amerika yang notabene tingkat pendidikannya lebih tinggi pun terkena hasutan dan berita negative yang digiring oleh oknum tak bertanggung jawab melalui social media. 
 
Biasanya isu yang diangkat adalah politik dan agama, bahkan penggabungan keduanya. Jika sudah berbicara politik yang dicampur aduk dengan isu agama, maka pergolakan di social media akan terasa sangat panas. Sesama teman pun dapat beradu argumen tentang pilihan politiknya. Karena tidak semua orang dapat menyerap apakah berita itu benar atau tidak. Social media pun dijadikan tempat untuk saling menjatuhkan. 
 
 
 
Memang tidak ada yang salah dalam memberikan pendapat di sosial media. Karena setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Dan nilai kebenaran setiap orang tidak selalu sama. Akan menjadi sangat fatal apabila kebenaran yang kita yakini harus diterima oleh orang lain. Karena apa yang kita anggap benar belum tentu benar dimata orang lain, dan tidak dapat dibenturkan atau dipaksakan. 
 
Maka dari itu pentingnya kesadaran diri kita dalam membentengi diri dari hal-hal negative sosial media. Harus bijak adalah suatu kewajiban dalam pemanfaatan social media. Disinilah pentingnya budaya literasi, untuk memilah dan memilih mana berita sensasi dan mana berita yang akurat. Budaya literasi paling mudah diakses saat ini dengan menyambangi google.com atau mengunjungi perpusatakaan digital. Jika berita negative dikaitkan dengan Negara Indonesia, maka kita juga harus membekali dengan literasi tentang Indonesia. Indonesia yang diperjuangkan oleh para pahlawan ini telah memiliki kesepakatan politis berdasarkan warisan bahwa Indonesia adalah negara yang merdeka, adil dan makmur. 
 
 
 
Bukan sebuah tugas yang berat bagi para netizen di Medan untuk bersama-sama menciptakan suasana positive di social media. Hanya dengan tidak menyebarkan berita hoax dan tidak termakan berita negative. Juga mencoba untuk menuliskan hal-hal yang positive tentang negara yang kita tinggali ini untuk mengurangi benturan antar masyarakat, misalnya tentang indahnya traveling di Indonesia, nikmatnya kuliner warisan nusantara, atau apapun tentang bangganya kita hidup dan bernafas di Indonesia. 
 
Sosialisasi 4 pilar yang dicanangkan oleh MPR Republik tercinta ini tidak hanya di sosialisasikan kepada kalangan anak muda generasi milenial. Tapi mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, Mahasiswa, Guru dan Dosen, serta masyarakat umum juga sudah disosialisiskan tentang 4 pilar kebangsaan. Namun cara memperkenalkannya pasti tidak sama dengan generasi milenial. Dari MPR sendiri pun memiliki sejumlah program-program yang sesuai dengan pemahaman para penerima sosialisasi seperti melalui pendidikan, seni budaya, dan rekreasi.
 
Acara ini terasa sangat berbobot dan menggugah rasa kebangsaan, dan seyogianya saya sebagai blogger dan netizen yang aktif bersosial media untuk turut andil memperjuangkan sosialisasi 4 pilar bersama dengan MPR RI.