Hi girls.
 
Ngomongin soal make-up, saya teringat betapa saya suka banget pakai gincu kalau ada acara yang formal. Misal ke kondangan bareng orangtua, saya pasti minta Mama untuk memoleskan lipstick merah ke bibir saya. Apalagi jika yang menikah tante-tante saya. Pasti saya di dandani maksimal di salon.
 
Lalu saya masih ingat di marahi Mama karena mengacak-ngacak pallette eye shadownya. Karena saya demen mata saya berwarna warni meskipun messy.
 
 

Makin bertambah umur, saya pun semakin penasaran dengan make-up lengkap. Usia SMP dan SMA saya masih meraba gimana sih mengaplikasikan macam-macam make-up weapon yang saya miliki. Karena tahun 2000an teknologi kan belum secanggih sekarang. Jadi saya masih asal tanpa teknik untuk mengaplikasikan berbagai macam bentuk make-up. Di sekolah saya mulai berani menggunakan blusher, maskara dan gincu dengan warna super nude. Dan menggunakan French Manicure di kuku-kuku tangan saya..
 
Pernah suatu hari saya di tegur guru Bahasa Inggris karena French Manicure dan mascara saya yang pop out. Guru saya bilang bagus bulu mata dan kuku kamu, tapi nggak pantas digunakan di sekolah. Akhirnya kuku saya di potong oleh guru. Padahal French Manicure pada jaman itu masih susah saya kerjakan sendiri, karena keterbatasan alat dan nggak punya biaya untuk ke salon khusus.
 
Ketika masuk perkuliahan saya mulai berani menggunakan make-up secara kompleks. Tapi itupun dengan warna yang nude karena nggak mau dibilang dandan banget. Ada teman saya yang memang biasa dandan, dan di ejekin dengan bahasa yang kurang enak di dengar karena dandanan. Saya pun menghindari hal itu dengan dandan super nude.
 
Makin dewasa dan memasuki masa kerja, saya dituntut untuk rapi dan fresh. Apalagi saya berhubungan langsung dengan customer, sudah pasti make-up menjadi andalan saya untuk tetap percaya diri. Peralatan make-up saya pun bertambah setiap bulannya. Tapi saya masih menggunakan make-up yang palsu karena tertarik dengan warna-warninya dan harganya yang murah. Tapi akhirnya mata saya terbuka untuk menggunakan peralatan make-up yang original.
 
Memang belum ada yang mengungkapkan kepada saya langsung kalau make-up saya menor, buruk atau apalah. Jadi saya masih merasa bebas dan merdeka untuk menggunakan make-up dengan warna-warni yang ceria. Pun make-up meningkatkan rasa percaya diri saya 1000 persen.
 
Saya sering mendengar beberapa teman yang di olok-olok karena make-upnya. Dibilang nggak pinterlah, nggak bisa kerja di dapurlah, nggak bisa jaga anak dengan baik lah. Padahal nggak ada hubungannya menggunakan make-up dengan kegiatan wanita yang lain.
 
Untuk itu di bulan Desember ini, Beautiesquad pun mengambil tema Make-up adalah Hak Kami untuk make-up collaboration. Bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia pada tanggal 10 Desember. Maksudnya sih untuk mengemukakan pendapat bahwa make-up juga hak dari setiap wanita. Jadi stop deh menggeneralisir kalau wanita bermake-up itu nggak pintar, nggak cekatan, nggak sayang dengan keluarga, dan kerjaannya hanya menghamburkan uang.
 
So saya juga memerdekakan hak saya untuk bermake-up meskipun masih amatir banget. So ini Make-Up adalah Hak Kami versi saya.
 
Disini saya menggunakan almost produk lokal yang mudah banget didapat di drugstore dan supermarket terdekat.
Foundie : Purbasari Alas Bedak
Pensil Alis : Pixy in brown
Eye shadow : Sariayu Pallete
Bedak : Make over
Blush : Inez
Mascara : Wardah
Lipcream : QL cosmetic
Shading & Highlight : Pixy
Eyeliner : Pixy
 
 
 
Saya memang jarang sih punya produk branded karena beauty on budget. Tapi produk lokal pun tetap bisa keren dan stand out kalau diaplikasikan dengan baik dan benar.
 
Look yang saya buat dalam collaboration kali ini masih cukup wearable untuk sehari-hari. Tergantung tingkat kepercayaan diri juga sih ya.
 
Nah teman saya Demia Kamil juga ikutan dalam Beautieaquad Collab di bulan Desember ini. Lihat deh looknya, stand out banget dengan eye shadow nya.
 

 
Okeh sekian dulu chit-chat tentang Hak Asasi dalam bermake-up dan collaboration bulan Desember by Beautiesquad. Semoga terinspirasi!