Tanggal 9 Juli lalu, saya sekeluarga beserta keluarga suami di Malang melakukan perjalanan menuju Cilacap untuk menjenguk adik suami serta istri dan anak-anaknya yang memang mencari nafkah dan menetap di sana. Setelah dari Cilacap, kami mampir Jogja semalam sebelum akhirnya kembali ke Sidoarjo.

Seperti biasa, saya pengen bikin catatan perjalanan kami buat kenang-kenangan. Syukur-syukur bisa bermanfaat buat yang baca. Kalau gak bermanfaat ya udah skip aja, wkwk.


9 Juli 2019, Sidoarjo-Cilacap

Transportasi



Kami berangkat dari stasiun Kota Sidoarjo sekitar pukul 18.05 WIB menggunakan kereta api Mutiara Selatan kelas ekonomi premium dengan tujuan stasiun Kroya, sekitar 1 jam dari Kota Cilacap.

Sebenarnya kalau dari Sidoarjo, kita bisa naik kereta api Ranggajati atau Wijaya Kusuma dengan tujuan akhir stasiun Kota Cilacap dan tarif untuk kelas eksekutif yang beda tipis dengan ekonomi premiumnya Mutiara Selatan. Tapi karena udah janjian barengan sama keluarga Malang sedangkan 2 kereta tersebut gak lewat Malang jadilah kami memilih ikut naik kereta Mutiara Selatan juga. Jarang-jarang nih naik angkutan umum dengan jarak lumayan jauh bareng-bareng begini.

Baca juga: family trip: cilacap bercahaya

Tarif kereta Mutiara Selatan ini lumayan mahal, makanya kita pilih kelas ekonomi premium yang harganya lebih murah tapi dengan harapan tingkat kenyamanannya beda tipis sama eksekutif *halu*. Harga tiket ekonomi premium baik dari Malang mau pun Sidoarjo dengan tujuan stasiun Kroya adalah Rp 285 ribu. Nasib baik banget nemu promo diskon 20% dari Mister Aladin dengan potongan maksimal Rp 150 ribu. Kita bisa menghemat hampir Rp 600 ribu untuk 12 orang penumpang. Cuma ya itu, per keluarga pesen sendiri-sendiri pakai akun berbeda biar dapet potongan maksimal, wkwk.

Cerita pengalaman naik kereta ekonomi premium, saya tulis di postingan sendiri kali ya? Penuh drama soalnya, heuheu.

Singkat cerita kami sampai di stasiun Kroya sekitar pukul 3 dini hari. Dijemput langsung oleh adik ipar dengan mobil Inova yang malang banget nasibnya karena dipaksa mengangkut 13 orang plus bawaan sak ndayak, LOL pukpuk Inova.

Penginapan



Selama di Cilacap, kami menginap di Apartemen Patra Lomanis Residence milik adik ipar. Semacam rumah dinas untuk pegawai Pertamina gitu. Kebetulan adik ipar udah punya rumah sendiri jadi apartemennya jarang ditinggali. Kita berasa nginep di Air BnB deh, serba mandiri dan seperti di rumah sendiri.

Tapi buat yang ke Cilacap dan butuh penginapan, tenang saja di Cilacap udah banyak berdiri hotel ternama dari jaringan yang cukup besar seperti Fave Hotel, Dafam, Whiz Prime, dan lain-lain.

Destinasi Wisata dan Kuliner



Pilihan destinasi wisata di Kota Cilacap gak terlalu banyak. Rata-rata wisata yang agak bagusan dikit itu lokasinya ada di Cilacap kabupaten, sekitar 1 jam lebih dari pusat kota. Makanya tiap ke Cilacap ya tujuan wisata yang kita datengin hampir gak pernah berubah, selalu ke Teluk Penyu yang viewnya biasa aja :D

Baca juga: Wisata wajib di kota Cilacap: Teluk Penyu dan Benteng Pendem

Tapi mungkin adik ipar mengerti ya kebosanan kami ke wisata itu-itu mulu plus gak terlalu menarik pula. Jadi di kedatangan kali ini ada tambahan wisata lain selain Teluk Penyu yaitu naik kapal wisata dari pelabuhan Sleko ke Kampung Laut yang melewati pulau Nusa Kambangan (pinggirnya doank) dan kilang Pertamina serta ke pantai Kamulyan. Orang-orang juga sempat ke pantai Teluk Penyu tapi saya, suami, dan anak-anak gak ikut karena ketiduran, heheh.


Pantai Kamulyan

Ohya kita ke alun-alun Cilacap juga buat naik becak gowes dan main tiup gelembung sabun. Alun-alunnya biasa aja sih, cuma ya di Malang kan susah nemu becak gowes jadi udah jadi kewajiban banget buat anak-anak kalau ke Cilacap kudu ke alun-alunnya.

Untuk wisata kulinernya sebenarnya juga gak begitu banyak kalau ngikut jadwalnya tuan rumah karena seringnya dimasakkin di rumahnya atau dibawain makanan ke apartemen. Kulineran di luarnya cuma ke Warung Klangenan dengan menu andalan Sate Bebek yang katanya khas Cilacap. Kalau ke Cilacap jangan lupa mampir ke sini ya! Kemarin kita pesen macem-macem menu dan rasanya enak semua.

Sate Bebek Warung Klangenan

Karena saya selalu punya list sendiri apalagi kalau soal kulineran, jadi biasanya saya dan suami suka curi-curi untuk berburu kuliner sebelum dijemput untuk jalan-jalan. Kalau gak sempet ndatengi tempatnya langsung ya udah order lewat Go Food. Untung aja di Cilacap udah tersedia taksi online.

Kuliner lain di Cilacap yang sempat saya coba antara lain Lontong Opor Pak Mul, Serabi Gula Merah Mbah Bunga, Soto Sokaraja Bu Amin, Mendoan Bumbu, Tahu Masak, dan Bubur Priangan. Semuanya gak ada yang gak enak, ini aja masih banyak list kuliner yang belum kesampaian, huhu. Harus ke Cilacap lagi nih berarti.

Lontong Opor Pak Mul

Serabi Mbah Bunga

Soto Sokaraja Bu Amin


12 Juli, Cilacap-Jogja

Transportasi



Keluarga Malang yang tadinya mau ke Jogja juga membatalkan rencana karena kakak ipar ada urusan sehingga langsung balik ke Malang. Jadilah hanya keluarga kami yang mampir Jogja dulu.

Dari Cilacap ke Jogja sih pengennya naik kereta biar cepet, tapi sayangnya kita kehabisan tiket kereta jadi naik bus Efisiensi dengan tarif Rp 80 ribu per kursi. Katanya ini masih masuk tarif lebaran, kalau hari biasa tarifnya cuma Rp 70 ribu. Perjalanan Cilacap-Jogja biasanya memakan waktu sekitar 5 sampai 6 jam tapi kemarin busnya lewat jalan kampung terus tembus jalur selatan lewat pinggir pantai alias jalan Daendels jadi cuma menghabiskan waktu 4 jam. Enaknya kalau naik bus efisiensi itu kita bisa milih turun di kantornya di jalan Wates terus lanjut naik shuttle bus ke kota, bisa turun di titik terdekat. Ada juga shuttle bus yang menuju bandara. Fasilitas ini free jadi mayan menghemat transportasi buat ke tujuan utama.


Kemarin kita minta turun di Bundaran UGM karena hotel yang sudah dibooking lokasinya berada di daerah Gejayan.

Ohya, kalau naik bus Efisiensi kita mendapat free air mineral botol dan bisa ngecharge juga di bus. Sayangnya di dalam bus gak tersedia toilet. Kalau mau buang air harus menunggu bus sampai di rest area khusus Efisiensi di daerah Kebumen. Di rest area ini juga bisa beli cemilan dan makanan tapi makanan beratnya cuma ada CFC yang lumayan mehong ugha. Jadi mending bawa bekal aja buat dimakan di bus. Alif kemarin sempat kebelet pipis sedangkan rest area masih 1 jam perjalanan lagi, akhirnya diakali dengan makai popoknya Nayla, heuheu.

Bus Efisiensi beroperasi hampir 24 jam dengan jam keberangkatan tiap satu jam sekali kecuali saat dini hari. Karena tiap jam ada terus, jadi busnya jarang yang penuh-penuh amat. Kita pun bisa bebas duduk pindah-pindah tempat.

Penginapan di Jogja



Selama satu malam di Jogja, kami menginap di Tigalima Homestay yang berlokasi di jalan Affandi (Gejayan) Kepuh GK III/946. Lokasinya cukup dekat dari stasiun Tugu, sekitar 3 km. Dekat dari beberapa wisata kuliner, mall, dan kampus UGM cuma rada masuk gang dikit.

Dapat rate Rp 320 ribu per malam sudah termasuk breakfast plus ada kolam renangnya. Harga aslinya bisa lebih murah sebenarnya, tapi Jogja lagi peak season kayaknya. Semua penginapan mendadak pasang tarif tinggi dan Tigalima Homestay ini yang tarifnya masih masuk akal. Denger-denger lagi ada festival budaya dan mau ada tes di UGM jadi Jogja pas ruamee.

Destinasi Wisata dan Kuliner di Jogja



Dari awal niat ke Jogja emang cuma pengen leyeh-leyeh sama kulineran dikit. Gak minat mau jalan-jalan yang terlalu ambisius jadi ya selama di Jogja kita ke situ-situ doank. Pasti bosen deh denger cerita saya ke Jogja yang gak pernah seseru wisatawan lainnya, wkwk.

Selama di Jogja kita cuma sempat ke Gudeg Sagan, makan gelato di Juve Bar, berburu lupis mbah Satinem yang akhirnya gagal karena antrinya panjang dan berakhir foto-foto di monumen Tugu dan beli kopi di Circle K terus balik ke hotel buat leyeh-leyeh lagi, heuheu. Siangnya kita makan di Sate Kambing Pak Is seberangnya EastParc Hotel. Terus ke stasiun dan jalan-jalan naik becak ke Vredeburg.

Baca juga: Gudeg Sagan Jogja, Gudeg Basah Bercitarasa Gurih dan Pedas

Juve Bar

Lupis Mbah Satinem

Sate Kambing Pak Is

Satu hal yang bikin nyesel, waktu sampai Vredeburg itu suasananya lagi rame sama pameran gitu. Ya udah kita cuma bentar doank buat foto-foto dan makan bakso. Gak tertarik buat liat-liat. Eh pas sampai rumah, baru tau kalau di deket situ juga lagi ada pasar Kangen yang menjual aneka kuliner tradisional. Kan lumayan bisa jajan nyenengin perut :D

Transportasi Jogja-Sidoarjo



Biasanya kalau naik kereta dari Jogja atau Solo, kami selalu turun di Surabaya Gubeng tapi kali ini agak berbeda karena kami memilih turun di stasiun Sidoarjo kota.

Kenapa?

Karena saya baru tahu ada kereta Wijaya Kusuma yang tujuan akhirnya di Banyuwangi dan tentu saja melewati stasiun Sidoarjo juga. Biasanya selalu naik Sancaka yang pemberhentian terakhirnya di Gubeng. Dan tiap booking tiket kereta, kita selalu cari di stasiun Gubeng, gak ngelirik stasiun Sidoarjo sama sekali, heuheu.

Kami naik kereta eksekutif Wijaya Kusuma dengan jam pemberangkatan sekitar pukul 18.15 dan sampai di Sidoarjo pukul 01.00 malam. Rempong banget turun kereta dini hari begini, karena Alif lagi tidur nyenyak dan susah dibangunin.


Ohya, sama dengan kereta Mutiara Selatan, kereta Wijaya Kusuma ini juga punya kelas ekonomi premium di mana kursi penumpangnya gak hadap-hadapan kayak ekonomi biasa plus bisa diatur posisi sandarannya.

Kami dapat harga tiket kereta Wijaya Kusuma kalau gak salah sekitar Rp 285 ribu ditambah pakai diskon 20% dari Mister Aladin yang ternyata promonya masih berlanjut tapi kode diskonnya aja yang ganti. Mayan tiket untuk berempat dapat potongan Rp 150 ribu. Coba deh kalau mau naik kereta, cek promonya Mister Aladin (sumpah! kagak diendorse saya)

Sampai rumah hari minggu dini hari dan bisa ditebak donk ya, seharian kita tuh tidur terooosss. Malah saya sampai besok hari seninnya masih kayak orang teler, dikit-dikit ketiduran, wkwk.

Tapi habis itu langsung semangat lagi (baca: semangat nyuci dan nyetrika) karena kita masih punya planning liburan minggu depannya, Bromo!

Nantikan ya cerita selanjutnya! (kayak ada yang baca aja, heuheu)