Oleh: Nia Tiara

Surti berlari sekencang-kencangnya. Tanpa mempedulikan apapun, bahkan panggilan dari tetangga-tetangganya. Yang ada dikepalanya saat itu hanyalah secepatnya jauh dari kampungnya Kebonarum. Walau perih tinggalkan semua, tapi inilah jalan satu-satunya yang harus Surti tempuh.
“Surtiii ada apa? Kenapa seperti dikejar setan begitu?” tanya mbak Asih tetangga depan rumahnya.
“Ada apa dengan Surti ya?” kata mbak Asih menoleh ke ibunya.
“Ah, seperti biasanya, pasti bertengkar dengan ibunya”. Jawab Ibunya mbak Asih.
“Tapi, sepertinya kali ini pertengkaran mereka dasyat sekali. Sampai-sampai Surti pergi dari rumahnya buru-buru gitu.” Bisik Surti pada Ibunya. He ada Danang yang lagi mengejar dan memanggil-manggil Surti. Mbak Asih teriak kegirangan. Di kampung, Mbak Asih terkenal dengan julukan biang gosip.
“Danang, ada apa? Surti kenapa pergi dari rumah?” tanya mbak Asih penasaran.
Danang hanya melototi Mbak Asih dan ibunya, mereka kembali masuk rumah. Karena Surti terlanjur jauh, sudah masuk angkutan desa yang kebetulan sedang lewat. Tidak berapa lama, Danang terlihat mengeluarkan sepeda motor, pergi dengan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
“Ku doakan jatuh! Biar tahu rasa si Danang tu!! Emangnya ini jalan punya nenek moyangnya. Seenaknya saja seperti itu”! Mbak Asih sewot karena hampir kesenggol motornya Danang. Karena masih penasaran, mbak asih sengaja kedepan rumahnya.
“Kamu nggak apa-apa kan?” Ibunya mbak Asih sedikit cemas, ternyata ikut dibelakang mbak Asih.
“Asih baik-baik saja, Bu.” sahut Asih.
“Biarkan saja! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang.” tiba-tiba Pak Rt melintas di depan rumah Surti.
Ibu dan anak itu malu, masuk rumah buru-buru.
Danang mencoba mengejar Surti
Tadi Surti sempat mendengar sekilas, gunjingan dari para tetangganya.Tapi apalah artinya gunjingan itu, dibanding dengan hatinya yang hancur… Yang penting aku harus jauh-jauh dari ibu dan Danang, apapun yang terjadi.
Selama ini dia terlalu percaya pada kekasihnya, tanpa syarat. Hanya sebulan sekali Danang datang ke rumah Surti. Kekasihnya itu bekerja di luar kota. Jadi Surti merasa kasihan, jika mengharuskan Danang sering-sering datang ke rumah hanya untuk sekedar melepas rindu. Sarana mereka berkomunikasi hanya melalui telepon.
Hampir setiap hari Danang telepon untuk menanyakan kabar dan keadaan usaha Surti. Surti sudah bahagia, karena baginya Danang adalah segala-galanya. Surti sangat percaya pada Danang. Apapun yang berhubungan dengan Danang, Surti percaya seratus persen. Justru kepercayaan Surti yang berlebihan itulah, malapetaka menimpa Surti dan keluarganya.
Ditengah perjalanan Surti turun dari angkutan desa, dia tahu Danang pasti mengejarnya. Surti berlari-lari lewat rumah-rumah penduduk. Banyak yang menanyakan kenapa Surti, berlari dan sering menengok ke belakang, kiri kanan, Surti hanya tersenyum masam. Surti takut tiba-tiba Danang terlihat melintas. Kali ini mereka sudah keterlaluan. Harga diriku mereka injak-injak, tidak punya malu!
Ibu yang selama ini jadi panutan dan tumpahan keluh kesahnya, ternyata tidak berbeda jauh dengan seorang pelacur. Dia tega mengkhianati dan menikam Surti dari belakang.
Danang kekasihnya, hanyalah seorang laki-laki yang sama dengan ayahnya dulu, yang mau meninggalkan keluarga demi kesenangannya sendiri. Jauh dilubuk hati Surti, dia rasakan semua yang telah dia lakukan untuk orang-orang yang sangat dia cintai, sia-sia belaka. Hancur bersama tragedi yang baru saja terjadi di hadapan matanya.
* * *
Meski tanpa bekal yang memadai, Surti memacu langkahnya. Kota Yogja adalah tujuan sementara, sebelum dia ingin meninggalkan pulau Jawa. Surti ingin ke Lampung, dimana keluarga besar ayahnya tinggal. Sudah puluhan tahun Surti tidak mengenal keluarga dari ayahnya. Ibunya selalu melarang Surti berhubungan dengan keluarga ayahnya. Lupakan kalau kamu punya ayah, pinta ibunya tiap kali Surti menanyakan kenapa ayah dan ibu bercerai. Surti masih belum genap setahun, ketika perceraian itu terjadi. Jadi Surti benar-benar tidak mengenal rupa ayahnya.
Dengan masih terengah-engah, Surti menghentikan sebuah angkutan menuju terminal terdekat. Dari terminal itu, Surti naik bis ke Yogja. Di dalam bis itu, Surti berharap tidak bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya.
Akan banyak pertanyaan yang harus dijawab, ada apa? Mau kemana? Dengan pakaian seadanya seperti itu. Pasti di kepala mereka tertuang berjuta tanya? Dari padatnya penumpang siang ini, tidak ada seorangpun yang mengenalku, senangnya. Gumam Surti.
Namun kesenangan Surti tidak berlangsung lama. Pertengahan perjalanan ke Yogjakarta, Surti dikejutkan oleh tepukan kasar dari bangku di belakangnya.
Surti, mau kemana? Tumben kusut seperti itu? tanya Jalu, tetangga desa yang begitu ingin menyunting Surti jadi istrinya.
Ke Yogja!” jawab Surti pendek.
Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya kamu sedang dalam masalah besar? Terlihat tengah menanggung beban sangat berat, mukamu lecek seperti baju yang kamu pakai itu! balas Jalu tegas.
Sebagai seorang laki-laki yang sangat ingin Surti menjadi istrinya, sifat kelaki-lakiannya tersentuh, melihat orang yang sangat dia cintai mendapat kesusahan. Jalu sangat ingin Surti menerima bantuannya.
Maaf Jalu, biarkan aku sendiri! Tidak ada yang dapat membantuku, selain aku sendiri, sekali lagi maafkan aku, balas Surti dengan wajah sedih.
Jalu tidak bisa berkutik lagi, seakan tawarannya sia-sia. Setelah mengucapkan kata terakhir itu, Surti lebih banyak diam, tidak mempedulikan Jalu lagi. Walau begitu, Jalu masih tetap berusaha untuk berbicara dengan Surti. Surti diam seribu basa.
Tiba-tiba butiran-butiran bening yang sejak tadi ditahan oleh Surti, tumpah ruah bagai hujan lebat mengguyur bumi pertiwi. Jalu bingung harus bagaimana, dalam keadaan panik, dia berdiri, maju, dan duduk di sebelah Surti. Dengan kasar dia menyuruh orang yang duduk di sebelah Surti pindah. Orang itu serta merta pergi ke tempat duduk yang lain dengan wajah ketakutan. Jalu memang terkenal dengan sebutan preman jalanan. Siapapun di daerah itu pasti mengenal siapa Jalu. Tapi, alangkah menjijikan ketika berhadapan dengan Surti, Jalu bertekuk lutut, tak berdaya.
Surti menangis di bahu Jalu, semua penumpang melihat adegan tersebut seperti film-film. Sekali lagi semua penumpang tidak berani berkomentar, karena tahu dengan siapa mereka berhadapan.
Setelah sadar Surti jadi pusat perhatian penumpang lain, dia berhenti menangis dan mengusap sisa-sisa airmatanya dengan ujung bajunya, meminta maaf sama Jalu. Jalu nyengir, tapi dia tersenyum bahagia.
* * *
Selain Jalu, ada sepasang mata lain yang sejak tadi memperhatikan Surti. Sejak awal naik bis. Laki-laki itu, tinggi, besar, berambut gondrong, dan berkumis tebal. Surti sadar dari tadi diperhatikan. Siapakah orang itu? Surti hanya bisa merasa ketakutan dan penasaran. Sampai di terminal Yogja, aku harus menghindar dari dua orang laki-laki itu, batin Surti sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan
Maaf Jalu, aku mau ke toilet dulu. turun dari bis, berharap Jalu tidak mengikutinya.
Ya. Silahkan. jawab Jalu menahan keinginannya untuk selalu mengikuti kemanapun Surti pergi.
Surti buru-buru ke toilet. Di dalam kamar mandi, Surti cuci muka dan ganti baju. Surti bawa baju ganti sekedarnya. Dengan perasaan was-was, Surti keluar dari kamar mandi. Surti lihat kiri kanan, setelah dirasa aman, sambil masukkan uang ke petugas, Surti melangkahkan kaki secepatnya untuk keluar dari terminal.
Surti menuju pintu terminal bagian belakang. Tujuan Surti ke rumah temennya. Jalan-jalan itu Surti tahu waktu kuliah, karena rumah temannya tidak jauh dari gang itu. Di tengah jalan, Surti merasa ada yang mengikuti, dia masuk ke salah satu warung. Langsung duduk paling pojok, dengan perasaan tidak menentu. Surti bisa menghindar dari Jalu. Tapi orang ini dari tadi mengikuti Surti terus. Dari Surti naik bis tadi, orang itu sudah memperlihatkan tingkahnya yang aneh.
Mau pesan apa mbak? tanya penjaga warung.
EE, Saya numpang duduk sebentar mbak, boleh ya? jawab Surti masih terengah-engah.
Kasih dia teh panas dan soto ayam! Cepat ya!
Surti mendengar suara laki-laki di balik tiang, duduk membelakanginya. Surti mencari tahu suara siapa? Ternyata di balik tiang, laki-laki menyeramkan itu sudah minum air soda dengan santai. Ketika Surti mencoba melihatnya, orang itu tersenyum tipis, penuh misteri.
Makan dan minumlah dulu! Dari pagi kamu belum makan dan minum! terdengar suaranya berat dan tegas.
Surti hanya mengangguk. Aneh rasanya, orang itu memang menyeramkan. Tapi ketika mata Surti beradu dengannya, sorot mata itu begitu teduh dan damai. Hingga Surti menatapnya tak berkedip. Surti akhirnya minum teh panas, dan makan soto ayam itu dengan lahap.
Melihatku makan, orang itu berlalu begitu saja. Meninggalkan uang lima puluh ribuan di meja. Aku semakin bingung, siapakah orang ini? Tampangnya seram, tapi hatinya baik.
Selesai makan, Surti bergegas ke rumah temannya. Meski lewat gang-gang sempit, akhirnya Surti sampai juga ke rumah Alfi. Teman sekaligus sahabatnya waktu kuliah dulu.
Assalamualaikum Assalamualaikum Surti mengucapkan salam, sambil mengetuk pintu.
Surti hampir pergi, karena pintu itu terkunci dan terlihat sepi. Samar Surti mendengar suara ibu-ibu menjawab salamnya dari dalam.
Waalikum salam Siapa ya? jawab ibu itu membukakan pintu.
Saya bu, Surti teman kuliah Alfi dulu. jawab Surti lega.
Surti tidak tahu lagi harus kemana, selain ke rumah Alfi. Waktu kuliah dulu Surti tidak punya banyak teman. Karena Surti sudah harus meneruskan usaha keluarga di sela-sela dia kuliah. Setelah dia lulus, Surti full time di perusahaan tenun, ibunya.
Setelah pintu terbuka, ibunya Alfi melihat Surti agak lama, mengingat-ingat, siapakah tamu yang datang. Sesaat kemudian beliau menyalamiku dan mengajakku masuk.
Aku ingat sekarang, kamu kan yang sering menginap disini, dan senang sekali membantu ibu mencuci baju, masak, waktu kamu kuliah sama Alfi dulu? Ibu Sasmita menepuk-nepuk bahuku.
Duduklah! Jangan seperti tamu! Ini rumahmu juga! Alfi lagi bekerja, sejak ayahnya meninggal, pada Alfi-lah ibu menggantungkan hidup. cerita ibu Sasmita panjang lebar.
Aku mendengar dengan seksama. Walau hati Surti sendiri tengah tidak menentu, dia tidak mau ibunya Alfi tahu apa yang sedang terjadi padanya.
Dua jam sudah Surti menunggu Alfi. Karena hari Sabtu, kata bu Sasmita, Alfi pulang lebih cepat. Paling sejam lagi pulang, tunggu di kamarnya saja. Pinta bu Sasmita, meninggalkan Surti di kamar Alfi. Surti tahu, bu Sasmita sudah curiga dengan kedatangannya yang tiba-tiba, serta lebih banyak diam bila ada pertanyaan.
Istirahatlah. Ibu lihat kamu kecapekan! jangan mikir yang bukan-bukan.
Baik, Bu. Terima kasih banyak.
Surti duduk di pinggir ranjang. Air matanya berlinangan Bayangan Surti melayang kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu di rumah. Sepulang dari belanja benang, untuk keperluan usaha tenunnya. Surti seperti biasanya masuk kamar untuk ganti baju, samar dia mendengar suara aneh dari kamar ibunya. Mungkin ibu lagi berbenah di kamarnya. Tapi, lama-lama suara itu Danang? Karena penasaran Surti berjalan menuju kamar ibunya. Pintu kamar itu sedikit terbuka Surti hampir pingsan, melihat apa yang terjadi di kamar itu. Karena syok dan langsung balik badan, Surti menyenggol guci di dekatnya. Suara guci yang pecah, membuat ibunya dan Danang panik. Danang berdiri dan melihat bayangan Surti berkelebat.
Danang terperangah. Tidak tahu harus bagaimana? Surti masuk kamar, pergi secepat kilat. Sambil membetulkan bajunya, Danang mengejar dan memanggil-manggil Surti. Surti tidak peduli lagi. Dia hanya berlari berlari dan berlari
Hei, apa kabar? Lama kita tidak bertemu, kamu tambah cantik Surti. suara Alfi mengagetkan dan membuyarkan lamunannya.
Surti terdiam. Hanya airmatanya yang menjawab pertanyaan Alfi. Surti menangis, menumpahkan semua kekesalan dan kekecewaannya pada Alfi.
Ada apa Surti? Ada apa? berkali-kali Alfi bertanya, segera merangkul sahabatnya itu.
Alfi membiarkan Surti menangis dalam pelukannya, tetapi Surti terdiam lama Alfi baru sadar ternyata Surti pingsan, di pundaknya.
Surti Surti! Buu Ibuu Surti pingsan! Toloong, tolong buu! teriak Alfi pada ibunya.
Ada apa? Ada apa? Surti pingsan? Astagfirulloh dari tadi ibu sudah curiga, Surti sepertinya tengah punya beban yang berat. jawab ibu Sasmita, membawa minyak gosok.
Alfi dan ibunya menggosokkan minyak keseluruh tubuh Surti. Tidak berapa lama, Surti siuman. Surti tertunduk malu, meminta maaf karena telah merepotkan keluarga Alfi.
“Sabar dan tawakal Surti, Allah maha kasih. hibur Alfi.
Surti hanya menganggukkan kepalanya. Memeluk erat-erat sahabatnya itu. Rasanya saat itu Surti ingin seperti Alfi, punya seorang ibu yang sangat baik dan menyayanginya. Tidak pernah sekalipun Bu Sasmita bertengkar dengan Alfi, padahal kehidupan mereka sangat sederhana, dibandingkan dengan Surti.
Sudahlah Surti, cobalah untuk tenang dan beristigfarlah. Surti sudah sholat?
Pertanyaan yang sederhana dari Alfi, membuat Surti menunduk dalam-dalam. Dia benar-benar malu dengan Alfi. Dia merasa telah jauh dari yang namanya ibadah. Apalagi beberapa tahun terakhir ini sudah melupakan Tuhannya. Yang ada hanyalah hidup untuk mencari materi dan kesenangan saja. Makanya setelah Surti mendapatkan cobaan yang sedikit berat, dia merasa hidupnya tiada bermakna, hampa. Masih untung Surti diberi kesadaran, hanya menjauh dari masalah yang diakibatkan ibu dan Danang kekasihnya. Tidak sampai mencoba mengakhiri hidupnya.
* * *

Saya besuk harus pergi dari sini! Maafkan saya telah banyak merepotkan.
Sore itu, tiba-tiba Surti keluar kamar, mengemukakan keinginannya untuk pergi dari rumah Alfi. Bu Sasmita dan Alfi hanya saling pandang, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Surti. Selama seminggu di rumah Alfi, Surti hanya diam membisu. Setiap pertanyaan hanya Surti jawab dengan sebuah tangisan.
Surti kenapa terburu-buru? Ini rumahmu juga!ucap Bu Sasmita mencoba menolak keinginan Surti. Karena Surti masih terlihat pucat. Seminggu ini, Surti tidak makan-makan, setiap makanan yang disediakan oleh Bu Sasmita, tidak pernah disentuhnya. Hanya sekali-sekali saja Surti makan, karena Alfi memaksanya.
Apa Surti tidak ingin melihat Alfi saat melangsungkan pernikahannya? tanya Bu Sasmita dengan penuh harap.
Saat Surti keluar dari kamar, Alfi dan Bu Sasmita memang lagi membicarakan pesta kecil Alfi. Sebetulnya Alfi ingin berbagi kebahagiaan sama Surti, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Surti lebih banyak diam, makanya Alfi tidak berani berceritakan kabar baik tersebut.
Alfi, maaf. Kapan kamu menikah? ucap Surti lirih. Mendekati dan duduk di sebelah Bu Sasmita.
Minggu depan. Kemarin waktu kamu datang, saya kira kamu sudah tahu kabar itu, ternyata dugaanku salah. Maafkan aku juga, bila aku tidak bisa menjadi teman curhat yang baik. jawab Alfi sedikit menjelaskan.
Surti melamun, kelihatan bingung harus bagaimana. Dia ingin cepat-cepat pergi, tapi sahabatnya mau menikah. Aku tetap harus pergi. Hanya ini jalanku. Hati kecil Surti menolak untuk bertahan di rumah itu. Entah kenapa, tidak seperti biasanya. Ada perasaan yang menariknya untuk secepatnya pergi dari rumah itu.
Perginya diundur minggu depan ya? Setelah aku menikah. Ujar Alfi, membuyarkan lamunan Surti.
Maaf maafku Alfi, sepertinya aku harus pergi besuk, pagi-pagi sekali. Aku doakan semoga pernikahanmu nanti berkah dan diridhoi oleh Allah Swt. jawab Surti dengan sedih.
Ya sudah. Gak apa-apa, terima kasih doanya. Semoga kamu cepat menyelesaikan masalahmu dengan baik.
Assalamualaikum. ”
Waalaikum salam. jawab mereka kompak.
Biar aku yang membukakan pintu. Surti berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu depan.
Kamu masih lemas, Surti! Biar aku saja.
Gak apa-apa, saya butuh banyak bergerak. Surti menambahi.
Assalamualaikum orang itu ucapkan salam lagi sambil mengetok pintu.
Waalaikum salam, sebentaaar. Surti tepat di depan pintu.
Pintu mulai terbuka Surti melotottubuhnya gemetar menatap tajam orang yang di hadapannya.
Kamu!!!
Tiba-tiba, tubuh Surti jatuh, dia pingsan. Karena mendengar suara yang aneh, Alfi dan Bu Sasmita segera berlari ke pintu depan. Ternyata calon suami Alfi yang datang. Orang itu terlihat panik dan bingung.
Masuk Mas! Maaf, bisa minta tolong angkat teman saya ini ke kamar?pinta Alfi.
Dia memang lagi kurang enak badan. Tadi sudah kami peringatkan untuk istirahat saja, tapi dia ngotot ingin membukakan pintu untukmu, nak. Ujar Bu Sasmita.
Orang itu hanya mengagukkan kepalanya. Mengangkat tubuh Surti ke kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mati aku! Kenapa dia ada disini? Bisiknya dalam hati. Keluar dari kamar, duduk di ruang tamu, dengan ekspresi aneh.
Kenapa mas? Panas ya? Keringatnya bercucuran begitu? Alfi bertanya pada calon suaminya.
Tidak hanya temanmu itu agak berat. Tubuhnya terlihat mungil, tapi lumayan berat. orang itu mencoba beralasan.
O. Ya sudah, saya ambilkan minum dulu. Mas mau es teh?
Ya. jawabnya pendek.
Dalam kamar, Surti dibalur minyak gosok oleh Bu Sasmita. Sambil membelai Surti.
Kenapa kamu jadi seperti ini Surti? Bangunlah ini juga ibumu, ada apa? Ceritakan kesedihanmu pada ibu. Bu Sasmita membelai Surti dengan kasih.
Hampir satu jam Surti tidak sadarkan diri. Bu Sasmita dengan sabar dan telaten menunggu Surti siuman.
Jahanam! begitu Surti siuman, itulah kata pertama yang terucap.
Astagfirullah Ada apa Surti? Bu Sasmita kaget dengan umpatan Surti.
Maaf Bu. jawab Surti singkat. Pandangannya menerawang jauh.
Di ruang tamu, orang itu terlihat gelisah. Berkali-kali dia menghela nafas panjang-panjang. Kadang berdiri, berjalan-jalan ke teras, duduk lagi.
Lama ya mas? Maaf, karena ternyata tehnya habis, makanya saya tadi ke warung sebelah. Alfi memberikan es teh pada orang itu.
Gak apa-apa. orang itu minum sekaligus.
Tumben mas kelihatan gelisah. Ada apa? Tidak seperti biasanya. Atau mas sekarang ragu dengan pernikahan kita yang sudah dekat ini? pertanyaan Alfi yang betubi-tubi itu, menambah bingung orang itu.
Tidak, jangan berpikiran seperti itu! Aku siap seratus persen untuk menikahi kamu Alfi. Ini tadihanya mampir, kebetulan ada pekerjaan didekat sini. Tadi sih ibuku sudah wanti-wanti supaya aku tdak usah mampir. Pamali katanya. jawabnya. Keringat dinginnya bermunculan.
Alfi mengangguk dengan penuh tanda tanya. Belum pernah dia melihat calon suaminya segelisah itu. Dalam hatinya Alfi hanya bisa berdoa, berharap keputusannya untuk menikah, adalah keputusan yang terbaik dan diberkahi oleh Allah. Alfi ingin membahagiakan ibunya seorang. Hatinya masih penuh tanda tanya, ketika tiba-tiba ada seseorang yang menyeramkan masuk tanpa permisi, langsung mencengkeram lengan pacar Alfi.
Kamu Danang? Laki-laki macam apa kamu? Meninggalkan benih di perut perempuan lain! Tapi mau menikahi anak gadis orang!! tanya orang itu penuh dengan emosi. Bogemnya langsung mendarat di muka Danang.
Ya nama calon suami Alfi adalah Danang. Nama itu sama dengan pacarnya Surti. Begitulah, karena memang orangnya sama. Alfi yang dari tadi bingung dengan sikap calon suaminya, sekarang lebih tidak mengerti. Kenapa laki-laki itu datang, langsung marah dan memukul Danang. Dia ingin melerai, tapi dia takut dengan orang itu. Yang dia lakukan hanya berteriak minta tolong.
Tolong tolong ada orang gila! Alfi keluar dari rumahnya, berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
Tidak berapa lama, orang-orang sekampung datang. Lalu memegang orang itu. Tapi orang itu masih saja berusaha memukul Danang. Danang tidak bisa berkutik. Orang itu benar, tapi dari mana orang itu tahu kalau Danang saat ini sudah menghamili orang lain, dan mau menikah dengan Alfi.
Mendengar ribut-ribut di ruang tamu, Bu Sasmita keluar dan bingung, kenapa rumahnya sudah banyak orang yang membawa pentungan dan golok.
Ada apa ini? Ada apa Alfi? Siapa orang ini? Danang, anakku kenapa mukamu sampai berdarah? Aduh ini bagaimana, kok tidak ada yang menjawab. Ada apa? Alfi kenapa kamu teriak ada orang gila? Di mana orang gilanya? Bu Sasmita panik.
Belum sempat Alfi menjawab pertanyaan ibunya, tiba-tiba Pak Cahyo muncul, diikuti beberapa orang. Sebagai ketua RT, sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi warga yang merasa terancam.
Tolong Alfi, Bu Sasmita, Danang, dan kamu! Duduk sini semua! Saya ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini! Pak Cahyo bersikap tegas.
Pernikahmu harus dibatalkan Alfi! Harus!! Ada perempuan lain yang tengah mengandung anak dari laki-laki kurang ajar ini!! Bogemnya kembali mendarat di muka Danang. Dia juga telah menyakiti putriku satu-satunya! ujar pria itu masih dengan emosi.
Surti yang sedari tadi mendengarkan ocehan orang itu, jadi kaget bukan kepalang. Rasanya dia ingin orang itu mengulang kata-katanya yang terakhir. Danang telah menyakiti putrinya. Perlahan Surti berjalan ke ruang tamu, berdiri mematung di hadapan warga. Dia hanya menatap tajam pada pria itu, matanya seolah minta penjelasan.
Ya akulah ayahmu! Selama ini ayah tidak pernah jauh dari sisimu! Ibumulah yang tidak membolehkan ayah datang. Maaf! orang itu berdiri dan memeluk Surti.
Surti diam, airmatanya tumpah ruah. Saat itu dia baru tahu ternyata yang selama ini sering mengikutinya adalah ayah kandungnya. Yang lebih membuat Surti tidak bisa menghentikan tangisnya, ketika tahu siapa perempuan yang telah dihamili oleh Danang.
Semakin erat ayahnya memeluk, semakin deras airmata Surti berhamburan.
Kita pergi dari sini sekarang! Kita pergi ya nak! orang itu menuntun Surti pergi dari kerumunan warga, yang dari tadi terdiam karena melihat adegan seperti di sinetron. Ayah Surti tidak peduli dengan pertanyaan dari pak Cahyo lagi. Surti mencoba mengelak, tapi ayahnya lebih tahu apa yang di benak anaknya.
Sudahlah, barang-barangmu kapan-kapan kita ambil. Yang penting sekarang kita pergi jauh-jauh dari sini! ayah sudah menyiapkan semuanya, sambil pergi menuntun anaknya yang masih lemas. Karena bebannya yang terlalu berat.
Maafkan Surti ya, dan terima kasih telah menerima dan merawat Surti. Mari Bu Sasmita dan Alfi. Ayah Surti dengan santun berpamitan.
Surti hanya mengikuti ayahnya. Kali ini Surti semakin yakin, kenapa dia harus pergi. Surti melambaikan tangannya. Alfi hanya menangis dipelukan ibunya. Bu Sasmita tidak bisa marah lagi. Semuanya telah terbuka dan tahu siapa Danang.
Danang! Malam ini adalah malam terakhir, kami melihatmu di kampung sini! Jika kami masih melihatmu bersliweran, kamu akan tahu akibatnya!! ancam Pak Cahyo. Bagi warga semua, bubar! Biarkan Alfi istirahat! Setelah kejadian malam ini, jangan ada yang berani mengungkit-ungkit masalah ini! pinta Pak Cahyo kemudian.
Warga kampung telah pergi, yang tinggal hanyalah Danang seorang. Dia tertunduk dan mukanya masih mengeluarkan darah. Alfi terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Baginya kejadian barusan adalah mimpi terburuk selama hidupnya. Demikian pula Bu Sasmita, sambil memeluk anak semata wayangnya, hatinya hancur. Berlalu menuju kamar Alfi dan menuntun Alfi dengan penuh kasih.
Karena merasa tidak dipedulikan lagi, akhirnya Danang pergi membawa sejuta penyesalan. Danang kembali ke kampung Kebonarum
* * *
Kantor, 18 Juli 2008. (15.45)