Oleh: Nia Tiara

Untukmu!
Tiba-tiba dia memberiku buku bersampul biru. Aku menengok ke teman lain. Mereka juga bingung. Siapa dia? Kelas berapa? Dan kenapa? Setelah memberiku buku biru itu, dia langsung pergi tanpa memberi pesan apapun.
Beberapa hari kemudian, baru kutahu dia bernama Arjuna. Kelas 3C. Aku sendiri anak kelas satu, di SMP Restu Ibu. Kenapa dia memberiku buku itu, aku tidak tahu.
Sampai ujian kelulusan tiba, tiga bulan setelah buku itu ku terima. Tidak lagi kulihat si imut Arjuna. Hanya satu pesan dari sahabatnya, kalau Arjuna menaruh hati padaku. Dia memintaku untuk menyimpan buku bersampul biru itu untuknya. Karena Arjuna akan pindah ke kota lain. Aku sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku sangat menikmati rasa yang tidak ku mengerti ini.
Bertahun sudah tidak kudengar kabar beritanya. Sampai beberapa saat yang lalu, kulihat sebuah spanduk besar di depan toko buku Seberkas Cahaya. Novel best seller: SETENGAH HATIKU HILANG, oleh Arjuna. Konsentrasiku hilang. Penasaran, apakah yang tertulis di spanduk itu benar Arjunaku?
* * *
Arjuna yang lain hadir ketika aku duduk di bangku SMU di Surabaya. Berkacamata, rapi, rambut klimis, dengan senyumnya yang lucu. Aku sering tertawa saat dia harus mengulang-ulang setiap kata yang diucapkannya. Arjuna latah. Aku sering kasihan melihatnya jadi bahan ejekan dan olokan.
Sudah-sudah! Jangan godain Arjuna terus! bentakku, saat Arjuna diejek dan dikerubuti di tengah halaman sekolah.
Gak apa-apa kok. Sudah biasa!
Arjuna nyengir melihatku marah-marah. Kalau sudah begitu, aku akan tertawa sendiri, karena yang aku bela mati-matian tidak marah, itulah kelebihan dari Arjuna. Tiga tahun sekelas dengannya, seperti menemukan saudara laki-laki. Di rumah aku sering sendirian. Hanya ditemani oleh bik Minah, pembantu setia sejak ibuku masih gadis. Ayah ibu bekerja. Aku sendiri anak tunggal. Ayah dan ibu, sering meminta tolong pada Arjuna untuk menjaga dan menemanikuku, jika beliau ke luar kota untuk urusan pekerjaan.

Seiring berjalannya sang waktu, kini aku sudah menjadi mahasiswi. Di Universitas Sudirman, Purwokerto. Sekali lagi, ada Arjuna yang lain disana. Satu angkatan tapi beda fakultas. Kali ini, Arjuna yang aku kenal sangat tidak sopan dan playboy. Sudah banyak korban yang jatuh di pelukannya.
Tahun kedua, aku masuk Senat Mahasiswa. Sang playboy juga ada di sana. Aku kesal sekali. Kemanapun aku pergi, Arjuna yang satu ini selalu ada. Dengan senyum dan gayanya yang membuatku muak. Laki-laki ini belum pernah kena tinjuku. Gumamku dalam hati. Dia belum pernah membuat kesalahan di depanku. Walau aku perempuan, oleh ayahku, aku dimasukkan kelas taekwondo waktu di SMU dulu. Sekarang perempuan harus bisa jaga diri, pesan ayah waktu itu.
Pernah suatu kali dia mendekati Sarah, teman sekaligus sahabatku sejak SMP. Aku sangat marah. Sarah menceritakan semua kelakuan Arjuna.
Siang itu, sengaja aku dan Sarah menunggu Arjuna di depan kampus. Aku benar-benar sudah muak mendengar semua kelakuan Arjuna. Menurutku sudah keterlaluan!! Dikiranya perempuan cuma barang mainan. Setelah usang dan bosan, dapat diganti dengan model yang baru.
Arjuna!! Kesini kamu!! teriakku kesal.
Ada apa ya? jawab Arjuna. Dengan sikap sok lugu dan gaya sang playboy. Dalam kebingungannya, Arjuna mendatangiku.
Dasar buaya! Playboy cap gayung! gertakku tanpa takut.
He!! Berani-beraninya kamu panggil aku dengan sebutan buaya!! Bertolak pinggang. “Ada apa gadis-gadis manis? candanya kemudian.
Aku peringatkan! Jangan dekati Sarah!! ancamku.
Sarah yang didekatku diam seribu basa. Karena takut akan terjadi perkelahian. Sarah tahu betul sifatku. Kalau sudah menyangkut sahabat, aku akan membela mati-matian. Arjuna hanya tersenyum mendengar ancamanku. Aku jadi kesal dibuatnya. Sambil cengar cengir, Arjuna berjanji, tidak akan mendekati Sarah lagi. Dia pergi dengan senyum memuakkan itu.
Terima kasih, Bunga,” ucap Sarah sambil memelukku.
Sudah kewajibanku sebagai sahabat.
Kami pulang bersama-sama. Kutawarkan pulang ke rumahku. Aku kangen dan ingin curhat sama Sarah. Selepas lulus SMP aku belum pernah bertemu lagi dengan Sarah. Kami bertemu kembali, saat sama-sama kuliah.
Banyak kegiatan Senat Mahasiswa kulakukan bersama Arjuna. Biarpun playboy, tapi untuk urusan senat. Dia patut aku acungi jempol. Menjelang akhir kuliah, aku konsentrasi menyelesaikan skripsi. Begitu juga Arjuna, dia sadar dan tidak lagi merayu perempuan. Kudengar dari teman-teman, Arjuna lagi semangat mengerjakan skripsi dan sudah punya pacar yang sangat dia sayangi, malah kudengar akan segera menikah.
Akupun ingin wisuda tahun ini. Aku tidak mau kalah dengan Arjuna. Menjelang wisuda. Sang play boy Arjuna juga ada di sana. Dengan santun dia menegurku waktu gladi bersih. Arjuna memperkenalkan pacar sekaligus calon istrinya, Sarah. Aku benar-benar dibuat bingung oleh mereka berdua. Tapi aku bahagia untuk Sarah.
* * *
Kutinggalkan kebahagiaan Arjuna dan Sarah. Sekali lagi aku harus pindah, mengikuti kepindahan orang tuaku ke ibu kota. Sebagai anak tunggal, mau tidak mau aku harus ikut. Kebetulan aku sudah lulus. Syukur-syukur di Jakarta aku dapat pekerjaan yang sesuai dengan bidangku.
Sudah sebulan kami di Jakarta. Ayah ibuku mulai sibuk dengan pekerjaannya. Kesepian mulai menghampiriku. Dirumah hanya ada bik Minah. Aku coba mengirimkan beberapa lamaran. Hingga saat ini, belum ada satupun panggilan kerja untukku.
Hiburanku hanya satu, ke toko buku. Kebetulan toko buku Seberkas Cahaya langgananku sejak sekolah dulu, tidak jauh dari rumah dinas ayah.
Hampir setiap hari aku ke toko buku. Walau hanya melihat-lihat, nebeng untuk membaca. Setelah puas membaca, aku pulang. Hampir sebulan kegiatan ke toko buku kulakukan. Sampai kutemukan sebuah novel. Penulisnya bernama Arjuna. Kuambil satu, aku langsung ke kasir. Aku buru-buru pulang.
Kubuka halaman terakhir. Kubaca keterangan dari sang penulis. Arjuna lahir di Sragen. Senang menulis sejak SMP Aku tertegun sejenak. Cepat-cepat kucari buku biru pemberian Arjuna. Kubongkar semua buku-bukuku. Karena sering pindah-pindah, barang-barangku banyak yang hilang. Aku hampir putus asa. Lalu kuingat, buku biru itu kusimpan satu folder dengan ijazah-ijazah sekolahku.
Buku itu sudah sedikit rusak. Menguning karena termakan sang waktu. Kubaca ulang bait demi bait puisi-puisi itu. Tertulis rapi berlembar-lembar. Dijilid menjadi sebuah buku, bersampul biru bertuliskan: Untuk Bunga, namamu secantik wajah dan hatimu. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan dan mencerna maksud dari bait-bait puisi itu, kini aku tahu.
Kubaca novel Arjuna hingga tamat. Sangat romantis dan menyentuh. Tak terasa butiran bening mengalir membasahi pipiku. Aku tidak tahu, aku menangis karena ceritanya, atau karena aku jadi tokoh utama dalam novel itu. Bik Minah bingung, menanyakan kenapa aku menangis? Aku kaget. Bik Minah ternyata hanya mengingatkan untuk makan malam. Karena ayah ibu sudah menunggu di ruang makan. Karena keasyikan baca novelnya Arjuna. Aku sampai tidak tahu jam berapa ayah ibu pulang.
Di meja makan aku terkejut, waktu ayah tiba-tiba bertanya.
Kenapa kamu kelihatan tegang sekali? tanya ayah penuh selidik.
Kamu lagi ada masalah? ibu menambahi.
Tidak apa-apa. jawabku sekenanya. Karena aku sendiri bingung, kenapa aku jadi seperti ini?
Ya sudah kalau tidak ada apa-apa. kata ayah sambil meninggalkan meja makan.
Tapi, kalau ada masalah jangan sungkan cerita ya!” bisik ibu. Pergi mengikuti ayah ke ruang tengah. Selesai makan ke sini, Bunga!
Ya, bu. Sebentar. Saya bantu bik Minah membereskan meja makan.”
Selesai membantu bik Minah, aku mendekati ibu. Tiduran di pangkuannya.
Aku merasa tidak nyaman seperti biasanya. Aku permisi ke kamar.
Benar kamu tidak ada masalah? tanya ibu penuh keragu-raguan.
Tidak apa-apa kok. Ayah ibuku tersayang, jangan khawatir. Nanti kalau sudah waktunya, pasti Bunga cerita.” kilahku.
Kucium ayah ibu. Berharap tidak ada lagi pertanyaan. Aku pergi kekamar. Kubaca ulang novel itu. Arjuna benarkah ini tulisanmu? Malam itu. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Gelisah menunggu fajar. Gelisah menunggu sang Arjuna.
* * *
Esoknya. Launching novel SETENGAH HATIKU HILANG diadakan jam 13.00. Di toko buku Seberkas Cahaya. Karena penasaran dengan sang penulis novel best seller itu, aku menghadiri launchingnya. Aku sengaja datang terlambat, dengan harapan aku bisa melihat dari jauh, diantara peserta lain.
Aku tidak tahu, kenapa suasana hatiku semakin tidak menentu. Aku masuki ruangan, ternyata peserta sudah banyak. Sepertinya peserta tidak sabar, untuk bertemu dengan sang penulis. Hebat sekali Arjuna. Bisa mempengaruhi gadis-gadis ini melalui novelnya. Apa seistimewa itu Arjuna?
Semakin banyak pertanyaanku, semakin bingung aku menjawabnya. Kuputuskan untuk bersabar. Siapa tahu aku salah duga. Arjuna sang penulis, belum tentu Arjuna yang aku kenal di SMP Restu Ibu dulu.
Setengah jam telah berlalu, penulis itu tak kunjung hadir. Aku mulai bosan, peserta lain juga mulai bertanya-tanya pada panitia.
Jam berapa Arjuna akan datang? tanya seorang peserta dengan antusias.
Sudah dalam perjalanan ke sini! jawab salah seorang panitia.
Dari tadi dalam perjalanan terus!” celetuk peserta yang lain.
“Paling lama dua puluh menit lagi! jawab panitia yang baru saja menerima telepon.
Usut punya usut, ternyata sang penulis terlambat, karena ada urusan pribadi yang harus diselesaikan saat itu juga. Dengan masih berkeringat dan terengah-engah. Arjuna memasuki ruangan. Diiringi tepuk tangan semua peserta. Peserta spontan berdiri semua, membuatku susah mengenali wajah Arjuna.
Panitia menyuruh semua peserta duduk ditempatnya masing-masing. Setelah semua duduk. Barulah dengan jelas kulihat. Arjuna yang tengah memperkenalkan diri itu, benar Arjuna yang dulu kukenal di SMP Restu Ibu. Hanya saja Arjuna sekarang terlihat lebih dewasa dan santun. Sekali lagi diiringi tepuk tangan peserta, Arjuna berdiri dan memberikan kata sambutan. Serta sedikit proses kreatif hingga lahirlah novel SETENGAH HATIKU HILANG.
Dalam perkenalan, Arjuna minta maaf. Keterlabatannya berkaitan dengan judul novel yang sedang diluncurkan, Arjuna berterus terang. Novel yang ditulisnya kali ini, karena dia memang kehilangan setengah hatinya. Dan baru beberapa saat yang lalu, dia berharap bisa menemukan setengah hatinya itu. Tapi… sekali lagi dia harus kecewa. Karena yang membawa setengah hatinya itu, tidak bisa ditemuinya.
Aku tahu, peserta lain bingung dengan ungkapan Arjuna. Dibalik itu semua, aku semakin yakin, Arjuna yang sedang berbicara itu adalah Arjunaku. Aku tidak bisa lagi konsentrasi dengan acara yang sedang berlangsung. Pikiranku menerawang jauh kebelakang, sepuluh tahun yang lalu. Hatiku yang dari tadi tak menentu, bertambah dag dig dug, keringat dingin bermunculan. Benar ArjunaArjunaku. Bisikku dalam hati. Sepuluh tahun sudah aku tidak bertemu dengannya.
Dalam novel itu, dia paparkan dengan jelas kerinduannya pada temen SMP-nya. Liku-liku pencariannya. Hingga akhirnya lahirlah sebuah novel yang sangat romantis. Disukai banyak penggemar, kebanyakan remaja-remaja putri. Kuakui, Arjuna memang seorang pria yang sangat mempesona. Aku sendiri hampir tidak mengenalinya, hanya tahilalat dan lesung pipitnya yang membuatku mengingatnya.
Aku yakin, di manapun dia berada, akan sangat gampang mencari seorang gadis. Tapi apa yang dicari dalam novelnya? Jelas dia hanya tertarik dengan seseorang dari masa lalunya. Dalam sesi tanya jawab, tiba-tiba aku dikejutkan oleh senggolan peserta sebelahku. Karena dari tadi aku sibuk dengan membolak-balikan novel yang aku pegang, dan selalu tertunduk. Makanya oleh panitia aku diberi kesempatan untuk bertanya. Dalam kegugupanku, aku berdiri, mematung dan tidak tahu harus berbuat apa?
Arjuna lebih terkejut lagi, ternyata dia mengenaliku. Dia menunjukku! Matanya terbelalak! Mulutnya menganga! Kamu kamu! Itu itu! Peserta lain kebingungan, saling pandang tak mengerti dengan sikap yang kami tunjukkan. Dalam keadaan gaduh seperti itu. Aku mundur, berlari keluar ruangan.
Kudengar panggilan Arjuna. Langkahku semakin kupercepat. Aku tidak mau peserta lain tahu. Siapa aku? Apa hubunganku dengan Arjuna? Dalam perjalanan pulang, ditengah padatnya penumpang bis kota. Aku berbisik dalam hati. Arjuna setengah hatimu ada padaku. Selama ini aku menyimpannya untukmu.
* * *

Pejambon, Januari 2008