Menonton film menjadi salah satu cara saya dan pasangan untuk menghabiskan waktu bersama. Tak hanya me time yang dibutuhkan, our time juga perlu. Maka pergi ke bioskop menjadi cara kami untuk tetap menghangatkan hubungan, hehe.

Tanggal 9 kemarin, film 212 The Power of Love menjadi pilihan kami. Ini film Indonesia pertama yang dengan ikhlas ditonton suami. Maklum entah kenapa dia selalu menolak saat diajak nonton film Indonesia. Tapi tidak untuk yang satu ini, dia ikut dengan senang hati tanpa dipaksa.

Awalnya saya tahu tentang film ini dari share yang ada di grup whatts app salah satu Ustadz panutan kami. Konon katanya film ini dari awal seperti dipersulit. Ijin dipersulit bahkan penayangannya dibatasi. Tidak semua bioskop mau menayangkannya. Disini saya mulai tergugah, mengapa harus dipersulit? Mengapa harus dibatasi?

Film ini mengangkat kisah nyata dari perjuangan umat Islam di Ciamis yang rela berjalan kaki demi mengikuti aksi bela islam pada 2 desember 2016. Namun konflik yang disajikan disini adalah buksn pada aksi tersebut. Tapi pada kisah Rahmat (Fauzi Baadillah) yang merupakan jurnalis dengan pemikiran liberal. Dia sangat berbeda dari ayahnya, Ki Zainal (Humaidi Abas) yang merupakan Kyai yang sangat disegani di Ciamis.




Perbedaan pemikiran ayah dan anak itulah yang membuat mereka sering berselisih paham. Termasuk dalam menyikapi aksi 212 ini. Rahmat menentang ayahnya ikut aksi. Dia khawatir aksi tersebut akan kisruh seperti saat 1998. Menurutnya aksi tersebut akan berujung pada tindakan makar, ditunggangi oleh kepentingan politik. Sebaliknya, menirut Ki Zainal ini adalah aksi yang digerakkan oleh cinta. Membela sesuatu yang diyakini dengan benar.

Lalu apa hikmah yang bisa saya ambil dari film 212 The Power of Love ini?

1. Mencintai Allah
Film ini membuat saya ingat untuk mencintai Allah. Bahwa cinta Nya pada kita itu sangatlah nyata, setiap nafas yang kita ambil itu hanya bisa terjadi atas izinnya. Maka sudah sepatutnya kita sebagai makluk mencintaiNya. Dengan cinta pada Allah, kita akan mampu berbuat apa saja. Seperti umat islam Ciamis yang rela berjalan ratusan kilo untuk menuju Jakarta.

2. Membela Agama
Kalau banyak orang berkata, agama tak perlu dibela itu saya tidak setuju. Agama itu keyakinan yang harus dijaga. Bila keyakinan kita diinjak, apakah kita hanya berdiam diri? Saya yakin, tak hanya Islam saja. Agama manapun juga tidak pantas untuk dilecehkan.







3. Kasih Sayang Ayah
Di film ini, air mata saya menetes. Melihat besarnya cinta Ki Zainal pada Rahmat. Membuat saya teringat akan almarhum papa. Seorang ayah mencintai anaknya dengan caranya. Berbeda dengan ibu yang welas asih, ketegasan ayah juga menjadi wujud cintanya. Setiap peluh yang diteteskan saat mencari nafkah bagi keluarganya, adalah wujud kasih sayangnya. Cinta ayah memang tak selalu terucap, tapi besarnya tak perlu diragukan.

4. Indahnya Ukhuwah Islamiyah
Film ini sukses menggambarkan bahwa indahnya persaudaraan umat islam. Bagaimana setiap orang membantu perjuangan umat Islam Ciamis saat harus berjalan kaki. Banyak yang memberi makanan dan minuman disepanjang jalan, bagimana para pesantren memberikan tempat untuk beristirahat.

5. Islam itu Rahmatan Lil 'Alamin
Islam itu agama yang damai. Agama yang menjadi rahmat bagi semesta. Film yang diangkat dari kisah nyata aksi 7 jut umat Islam inji, menunjukkan bahwa Islam itu cinta damai. Aksi jutaan orang berlangsung dengan damai. Tak ada korban jiwa satupun, bahwa rumputpun tak diinjak. Aksi ini bukan semata-mata menunjukkan kebencian terhadap non muslim. Sebab dalam Islam, selama non muslim tidak mengganggu, mereka tidak akan diganggu. Contoh nyatanya adalah saat monas tumpah ruah , peserta aksi tetap memberikan jalan pada pasangan yang akan menikah di gereja. Jurnalis asing yang meliput juga tidak diganggu. Di film ini juga digambarkan bagaimana Ki Zainal juga bergaul baik dengan tetangganya yang non muslim, Aheng. Ki Zainal tak sungkan makan bakso di warung Aheng. Bila selama ini banyak orang islam yang berbuat hal yang tak pantas dan melakukan kekerasan, itu bukan karena agamanya. Itu karena mereka sendiri. Mereka yang tak mampu mendalami nilai-nilai Islam dengan benar.

Jadi bagaimana? Apa kamu sudah nonton film ini? Ayo nonton, putihkan bioskop! :)