Cinta itu selalu ada, seperti matahari yang selalu menyambut pagi. Cinta yang tulus dan ikhlas. Ya, seperti itulah cinta pertama seorang anak perempuan ialah kepada sosok ayah nya. Seperti itu juga denganku. Sosok ayah yang aku panggil Papa. Dia sahabatku. Sahabat itu Papa, dia berani bertanggung jawab atas kesalahan. Papa adalah matahari, memberikan cahaya kepada bulan untuk menerangi malamku. Aku selalu ingat pesan papa, dimana aku selalu diajarkan menjadi orang yang jujur, agar pribadi selalu kokoh dalam kebaikan.
 
 
Aku selalu ingat hari itu, dimana hanya papa yang mengerti dan memahami perasaanku. Yang selalu ada disampingku. Disaat ada seseorang yang berani mendekatiku, papa selalu support dan tidak pernah marah. Aku ingat sekali. Ketika aku kucing-kucingan untuk pergi dengan teman laki-laki yang sedang dekat denganku, tidak bisa juga aku sembunyikan. Akhirnya papa tahu dan menasihati orang itu dengan nasihat baiknya. Saat pulang dan sampai rumah, papa menasihatiku untuk harus selalu berhati-hati dengan orang yang mendekatimu. Bukan berarti orang tadi orang jahat, hanya untuk menjaga diri sendiri agar tidak dianggap bodoh. Jika ada lawan jenis yang mendekati dan terlihat baik, jangan menjauh agar tidak dianggap sombong. Dan kau tahu? ternyata papa suka dengan teman laki-laki ku pada saat itu ! Aku terkejut senang. Entah kenapa. Karena restu itulah, kami berjalan cukup lama. Papa sempat menitipkan aku kepadanya, dan dia menyetujuinya sampai berjanji didepan papa.  Dia seperti menjadi sosok papa keduaku. Yang selalu ada, bisa menjadi sahabat, menjadi cinta, menjadi apapun. Pengganti sosok papa yang sedang bekerja diluar kota. Sampai akhirnya papa tutup usia.
 
Aku hancur, bingung, tidak percaya. Sosok yang aku kagumi, sahabatku, teman terbaikku, yang selalu aku tunggu akan pulangnya, yang selalu ada untukku pergi untuk selamanya. Aku ingat dua hari sebelumnya papa menyemangatiku untuk menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah yang tinggal beberapa hari lagi. Curhat mengenai Moto GP, Lorenzo menang Rossi Jatuh. Beuh.. tak terbendung semangatnya. Papa terdengar senang dengan suara semangatku. Mengingat itu... Ya Tuhan, hanya Engkau maha tahu perasaanku pada saat itu.
 
Tidak baik selalu berkabung, aku menyenangkan diri sendiri dengan mendengarkan lagu. Sepanjang perjalanan Lampung - Palembang lumayan juga. Musik ku terputus karena panggilan dari teman lelaki ku. Ternyata dia memang selalu ada, bahkan disaat keadaanku seperti ini pun dia selalu mengerti aku. Hari-hari banyak aku lewati bersama dia, untuk sejenak lupa akan kesedihan sepeninggalan papa. Dia selalu membuatku bahagia. Rasanya, aku tak tahu lagi bagaimana cara ku untuk membalas semua kebaikannya. Sampai akhirnya aku berkuliah. Menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Negeri. Walaupun tak sesuai harapan, aku tetap menjalani nazar yang aku ucapkan jika aku berhasil menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Negeri aku akan mengenakan hijab. Yang belum sempat aku kenakan saat papa masih hidup. Ya, rasanya aku ingin memutar waktu kembali, aku ingin papa melihat aku mengenakan hijab dalam keseharianku, aku ingin membuat papa bahagia.
 
Papa, aku rindu. Rindu dengan wajahmu yang begitu gagah dalam menantang kehidupan, rindu akan wajah senangmu disaat aku mengerti apa yang kau ajarkan, rindu akan wajah kesalmu disaat aku egois dan menuruti keinginanku sendiri. Papa, aku tahu besar harapanmu terhadapku. Maafkanlah aku jika tidak bisa mewujudkan mimpi yang engkau inginkan. 
 
Kau tahu, papaku pintar memasak. Selain dengan mama, aku juga banyak tahu cara memasak dari papa. Papaku juga mengerti mesin, aku banyak belajar mengenai mesin berkat papa. Papaku juga jago melukis. Tugas melukisku dari sekolah pernah mendapat nilai sempurna berkat lukisan papa, eh, berkat diajarkan papa maksudku. Papaku pintar segala hal. Alhamdulillah, aku sangat beruntung.
 
Teman laki-laki ku selalu menemaniku disaat aku membutuhkan. Mulai dari daftar kuliah, mengantar kuliah, jemput kuliah, jalan-jalan, tak kenal waktu jam berapapun itu. Rasanya aku sempurna saat bersamanya. Membuatku bisa sedikit mengurangi rasa sedih. Dengannya aku selalu bahagia. Sampai akhirnya untuk pertama kali kami bertengkar, yang menurutku tidak bisa lagi aku maafkan. Dan kami memutuskan untuk menjadi teman biasa. Tidak ada lagi hubungan spesial. Ternyata, janjinya pada papa saat itu hanya ilusi. Dengan mudah mengucap janji dan dengan cepat mengingkari disaat papa tidak ada. Lagi-lagi aku merasa kehilangan, tapi tidak sesedih kehilangan papa. Sudahlah, memang tidak boleh terlalu berharap dengan manusia. 
 
Cintamu papa, sudah cukup menjadikanku sempurna. Mencintaimu papa, adalah pelajaran terbaik untuk belajar memahami, dan mengenal kerasnya hidup melalui tulusnya cinta. Cinta orangtua tidak dapat digambarkan seperti apapun. Cinta papa, bagiku sudah sangat lebih dari cukup. Cintanya bermula tanpa awal, dan tak berakhir. Cinta itu dapat membuat tertawa dan menangis. Pedulilah dengan orangtua mu sebelum semuanya pergi. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk menjaga mama, semampu dan sebisaku. Selagi bisa melihatnya, selagi masih mendengar nasihatnya. Tak peduli dimanapun kamu berada, keluarga tetap selalu mendoakanmu untuk kebaikan agar dijauhkan dari keburukan. Pada saat aku membuat tulisan ini, mataku tak sanggup menahan air mata yang membendung. Hari ini, tepat hari ulang tahun papa. Aku selalu ingat, betapa bahagianya kami merayakan hari ulang tahun setiap anggota keluarga, dulu, walaupun dengan cara sederhana. Pa, aku berjanji akan menjaga diri sampai akhirnya aku bertemu dengan cinta yang akan rela melakukan segala hal untuk melindungiku dan anak-anakku nanti. Selamat hari lahir pa, cinta pertamaku, aku mencintaimu.
 
We will never say goodbye to you Papa
We know this is not the end
for us to see each other..
You will only be going to a place
where there's no pain nor suffering..
Our hearts are at peace knowing
that you are with safe with God
For now we need to go our separate ways..
Thank you Papa.. Thank you..
Thank you for always understanding,
listening and always being there for us..
The greatest gift God gave us was you.. Papa..
It's difficult to let you go
but we must..
We must return 
the gift God gave us..
Till we meet again Papa..
Wait for us..
And we know you will be
watching us from above..
See u in heaven..
Our love will always be with you..
 
 
Your daughter that always missed you everytime
 
x Dinna x