Kebetulan bulan Juli ini, kami mendapat giliran untuk jadi tuan rumah arisan keluarga besar suami. Karena pengalaman tahun lalu di mana kita berdua kepayahan banget ngadain arisan di rumah, ngurus semua sendiri, gak ada yang bantuin (maklum tinggal jauh dari keluarga) jadi tahun ini mau yang praktis dan no ribet dengan mengadakan acaranya di luar rumah. Dan dengan berbagai pertimbangan terpilih lah lokasi acara di sebuah homestay di Poncokusumo, jalur utama menuju gunung Bromo via Malang.


Karena udah lama banget gak ke daerah Poncokusumo, saya pun mulai mencari tahu tempat yang menarik untuk dikunjungi di daerah sini. Dan gak sengaja, nemu foto kuliner Poncokusumo yang terlihat menggiurkan di instagram. Jadi lah, waktu kami sekeluarga datang ke Poncokusumo untuk survey lokasi acara, saya request ke suami untuk makan siang di warung ini.

Warung Gunung Sari Sunset, Warung Kopi, dan Warung Ndayung, begitulah berbagai nama sebutan yang muncul untuk warung makan ini di google maps. Yupz! Warung ini memang gak punya nama, tapi meski begitu ternyata warung tak bernama ini "nama" nya sudah tersohor sehingga meskipun lokasinya terbilang rada terpelosok namun pengunjungnya lumayan ramai juga.

Lokasinya ada di seberang wisata Gunung Sari Sunset (GSS), sebelum wisata Coban Pelangi. Satu-satunya warung di seberang GSS dan yang terlihat paling ramai dengan pengunjung pokoknya. Meskipun tak ada namanya, tapi di depan warung ada spanduk yang menjabarkan menu yang disediakan oleh warung ini.



Nasi jagung, ikan asin, kulupan, tahu goreng, telur dadar, dan sambal korek khas Tengger. Yupz! Menunya memang sederhana bianget, menu ala ndeso gitu. Tapi rasanya sungguh nikmat, pas banget dengan suasana dan hawa pegunungungan yang adem.

Di sini kita gak bisa memilih menu karena menunya dijual per paket. Satu paketnya kira-kira cukup untuk 2 porsi. Kalau datang ramai-ramai kayak saya, tinggal bilang aja menu untuk berapa orang.

Saat kita datang, pengunjung di warung ini lumayan ramai. Terlihat ada sekitar 3 rombongan yang masih menunggu makanan datang. Saat suami akan memesan makanan, diminta menunggu dulu karena masih banyak antrian pesanan yang belum selesai.

Karena katanya antrian pesanannya masih banyak, kirain bakal nunggu lama. Ya udah kita tinggal foto-foto di GSS. Eh ternyata gak sampai 15 menit pesanan kita udah datang.

Selain nasi jagung, di sini juga menyediakan nasi putih dan semuanya bisa diambil sendiri sepuasnya.

Kita cukup beruntung masih kebagian nasi jagung, karena waktu itu stoknya di magic com tinggal sedikit. Ngepas banget buat kita sekeluarga, pengunjung setelah kita cuma kebagian nasi putih. Nasi jagungnya masih dimasak lagi sebenarnya, cuma matangnya lama banget.

Alhamdulillah, semuanya pada cocok dengan taste masakan di warung ini terutama para orang tua ya, kalau anak-anak jaman now mah udah beda aliran, wkwk.


Ikan asinnya tipe yang asinnya light, bukan yang asin banget. Nasi jagungnya enak, gak terasa seret. Salah satu ponakan malah doyan makan nasi jagungnya doank gak pake lauk. Kuluban alias sayur rebusnya ya rasanya plain tapi entah kenapa kok nagih banget. Sepanjang ngunyah, kita pada penasaran sayuran apa yang dipakai. Bentuknya mirip pokcoy atau sawi tapi gak ada rasa pahit dan sepatnya. Tahunya tipe tahu goreng yang rada kopong gitu dalemnya, gurihnya pas gak keasinan, dan enak buat dicemilin. Telur dadarnya lumayan tebal dan rapi.

Dan primadona dari semua menu yang tersedia tentu saja sambelnya! Sambalnya gak pedas sama sekali, tapi gurih dan nikmat banget. Pasangan yang pas buat dicocol sama tahu dan kulubannya. Kita nambah sambalnya sampai 2 kali donk, yang bikin nambah nasi terus sampai super duper begah, haha.


Konon sambalnya ini adalah sambal korek khas Tengger yang kalau saya tebak isiannya ada tomat, terasi, daun bawang, cabai, dan bumbu lainnya (bumbu apeee?). Agak mirip sambal terasi tomat tapi beda. Bingung jelasinnya, pokoknya enak banget sambalnya.

Hasil cari resep sambal khas Tengger di google sih, bahan-bahannya hampir sama dengan tebakan saya yaitu cabe khas Tengger (gak tau bedanya apa sama cabe biasa), terasi, tomat, daun bawang, dan gula garam. Belum pernah nyoba bikin sendiri sih, jadi gak tau apa hasil dari resep tersebut bakal sama dengan sambal di warung GSS.

Soal sayur yang dipakai di kulupannya, lagi-lagi berdasarkan hasil googling katanya masyarakat suku Tengger biasanya menggunakan sayur semen alias daun dari tunas bunga kol yang sudah dipanen. Dari hasil penelusuran saya sih, penampakan sayur semen ini mirip dengan kulupan yang dipakai di warung GSS. Mirip juga dengan sayur cuciwis/keciwis, tapi gak tau juga deh. Nanti kalau sempat ke sana lagi, bakal tanya langsung ke penjualnya aja :D

Untuk minumannya, karena hawanya lagi dingin, kami pun memesan teh hangat dan kopi hitam. Konon kopi hitamnya berasal dari pohon kopi yang ditanam di belakang warung. Bisa dibilang bubuk kopinya homemade alias bikinan sendiri. Rasanya enak, kerasa pahitnya tapi gak yang strong banget, dan buat saya rada kemanisan dikit. Intinya sih kopinya enak tapi gak istimewa. Khas kopi tubruk ala warung kopi biasanya aja.


Untuk harga yang dipatok di warung ini sepertinya gak pasti, kata suami tiap orang kadang suka beda hitungan. Soalnya waktu dia mau bayar, ada orang lain juga yang lagi mau bayar di depannya. Dan hitungan per porsi antara rombongan orang tersebut dengan rombongan kami harganya beda. Tapi tenang aja, meskipun gak ada harga pasti tapi tetep murah meriah kok. Total yang harus kami bayar cuma Rp 120 ribu. Hitungan kasarnya jadi sekitar Rp 10-12 ribu per porsi dan Rp 2-2.5 ribu per minuman. Itu pun kemarin kami pakai nambah sambal, lauk, dan nasi satu bakul lho. Super mengenyangkan dan nikmat. Ditambah hawa dingin dan view yang menyejukkan mata, sempurnaaa :D

View dari warung

Buat yang lagi cari kuliner menarik di seputaran Poncokusumo, atau lagi kelaparan sepulang dari Bromo atau Cohan Pelangi, warung GSS ini patut untuk dicoba. Tapi jangan salahkan saya kalau nanti program dietnya jadi berantakan, makan di sini gak cukup nasi sepiring, cuy!

Setelah kenyang, bisa sekalian jalan-jalan ke wisata Gunung Sari Sunset, wisata selfie gitu. Lumayan say bisa langsung bakar lemak karena medannya menanjak tinggi.


Untuk yang bawa mobil dan parkir di halaman GSS kayak kita, tarifnya agak mahal yaitu Rp 10 ribu per mobil. Makanya wajib mampir ke GSS juga, soalnya masuk GSSnya gratis, biar gak rugi bayar parkir mahal, wkwk.