Sebulan yang lalu alhamdulillah aku diberi kesempatan mengikuti seminar singkat mengenai terapi neurofeedback bertempat di aula TNCC (The Nanny Children Center)  Banda Aceh dengan pemateri trainer dari Malaysia.
neurofeedback
trainer dari Malaysia sedang menjelaskan materi neurofeedback
Mungkin teman- teman pada penasaran  apa itu  terapi neurofeedback? Secara umum terapi neurofeedback adalah  terapi menggunakan teknologi muktakhir yang diaplikasikan untuk  melatih fungsi otak agar menjadi lebih baik.

Terapi ini bisa digunakan untuk semua orang, mulai dari anak kecil berusia  minimal 4 tahun hingga orang tua.

Terapi ini juga dikenal sebagai EEG Biofeedback.  Terapi ini menggunakan peralatan khusus untuk membimbing otak agar melatih fungsinya hingga level  maksimal, dan melatih jalur saraf untuk membuat berbagai wilayah otak dapat berfungsi dengan baik.

Neurofeedback  therapy diperuntukan bagi mereka yang memiliki masalah yang berkaitan dengan disregulasi otak, antara lain: ADHD, ADD, OCC, Depresi, Anxiety Disorder, Insomnia atau sulit tidur,  emosi yang tidak stabil, penyimpangan perilaku hingga kondisi lain seperti autism, kejang, cerebral palsy  dan lainnya.

Terapi menggunakan neurofeedback  di Aceh  minimal memerlukan dana  kurang lebih USD 200 atau sekitar 2.914.000 juta untuk sekali assessment dan terapi selama dua bulan setiap hari minimal 30 menit, dan harga ini akan naik Bulan Juli nanti menjadi USD 300 atau 4.317.000.

Kalau di luar Aceh, untuk terapi neurofeedback  sistem paket minimal 20 sesi dengan biaya sebesar Rp 10.000.000 (sepuluh juta). Paket ini terdiri atas satu sesi intake (2 jam) dan sembilan belas sesi training @ 30 menit
Bagaimana cara Kerja  neurofeedback?
 Sebuah alat  dengan elektrode akan dipasang ke kulit kepala untuk mengukur aktivitas gelombang otak di titik-titik tertentu dengan menggunakan EEG (electroencephalograph) yang didesain khusus untuk keperluan ini. Sinyal yang ditangkap oleh elektrode selanjutnya diproses dengan komputer yang terhubung dengan software khusus yang memainkan musik, video, atau game. Klien duduk mendengar musik atau menonton video atau memainkan game ini. Saat aktivitas otak tidak stabil atau tidak menghasilkan pola atau frekuensi seperti yang kita inginkan maka musik, video, atau game akan mengalami interupsi sehingga tidak bisa dinikmati.

Melalui interupsi yang terjadi pada musik, video, atau game otak klien belajar untuk menghasilkan frekuensi atau pola stabil seperti yang diinginkan sehingga interupsi berkurang dan berhenti total.

Melalui pelatihan ini, akhirnya, aktivitas gelombang otak “terbentuk” menjadi seperti yang diinginkan, menjadi lebih teratur. Frekuensi yang menjadi target kita, dan lokasi spesifik di kepala, di mana kita mengukur gelombang otak, ditentukan oleh masalah yang ingin kita atasi dan bergantung pada pada kondisi masing-masing klien.

Saat sesi seminar kemarin juga kami dikasih lihat testimoni orangtua dari anak yang berkebutuhan khusus di kawasan Bireun  yang sudah terapi dengan neurofeedback. Anaknya sudah lebih tenang, komunikasinya lebih lancar, terlihat lebih banyak kemajuan.

Lihat testimoni seperti itu, rasanya timbul harapan baru agar  anak lebih maju dengan terapi ini. Mudah-mudahan ketika usianya 4 tahun harga untuk terapinya nggak naik lagi.

Referensi tambahan :
https://www.adiwgunawan.com/neurofeedback