Gadis 20 tahun itu sedang mengatur irama detak jantungnya yang sedang tidak beraturan. Ya, pasalnya ia baru saja kehilangan salah satu bagian dari tubuhnya yang dianugrahkan oleh Rabb-nya. Tidak terlalu parah memang, namun suatu hal ini amat membuatnya sakit. Setelah kejadian yang menimpanya, gadis ini kadang kala tak dapat membedakan antara mimpi dan kenyataan. Banyak asumsi yang amat mengherankan, baru saja ia selesai menyambut hari lahirnya, baru saja ia beramal baik, kalau-kalau ia dapat meraih ridho dan meminta iba dari rabb-nya. Namun, semuanya seakan sia-sia, ia menggerutu tentang kasih sayang rabb-nya, inikah yang ia berikan untuk ciptaan yang ia sayangi? padahal tidak, ia salah berpersepsi, ia tak paham! ada sebuah rahasia yang seharusnya ia telusuri dari musibah yang sedang menyelimuti remaja negeri emas itu. 

Kini, ia sedang bersenandung duduk manis diatas bukit, menikmati hamparan desa sejauh mata memandang. Berkali-kali air matanya menetes, tak kuasa menahan tangis. Ia merasa haruskah mengedepankan rasa ikhlas ketika kehilangan anugrah ini? haruskah kembali berdiri sedangkan raga tak kuasa mampu diobati?. Gadis itu kembali dirasuki rasa pahitnya menerima kenyataan, ia mulai berandai-andai. Kalaulah waktu dapat diputar?, aku rasa semua manusia yang dihadapkan oleh rasa penyesalan selalu meminta sang waktu berputar kembali, berandai memperbaiki segalanya dan merasa tak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku rasa tidak semua manusia akan melakukan perbaikan yang ia utarakan! akan ada manusia yang kapok dan lalai ketika diberikan kesempatan kedua.

Gadis itu mencoba untuk terus bangkit, berusaha menerima semuanya, semampu yang ia bisa. Ia perlahan mulai sadar, apa yang ia tangisi, dan gerutunya pada rabb atas apa yang menimpanya adalah bisikan iblis yang keji, yang tak tahu rasa pri-kemanusiaan. Ia melawan bisikan iblis jahat itu dengan semampunya menanamkan rasa ikhlas. Gadis itu tahu ini sulit, namun seharusnya ia dapat bercermin pada manusia-manusia terdahulu yang jikalau saja kita telisik lebih dalam, cobaan dan musibah yang mereka hadapi lebih sulit, bahkan mungkin kita tak sanggup menjalankannya. 

Cobaan dan musibah itu menimpa orang-orang mulia, kekasih Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selama sebelas tahun beliau menghadapi kehidupan yang membuat dirinya terancam, mengalami ketidak tenangan. Setiap saat selalu diancam pembunuhan dan penganiayaan dari orang-orang Quraisy. Namun, beliau tetap bersemangat dan berdiri dari apa yang menimpanya. Musibah ini datang pula dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Utsman bin Affan. Yang mana, pada masa kekhalifahannya sebelum ia wafat. Fitnah berdatangan untuk menjatuhkan beliau, sehingga karena fitnah itu ia wafat dalam keadaan syahid. Datang pula cobaan ini dari orang mulia yang amat terkenal dan dikenali oleh penduduk langit, yaitu Uwais Al-Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Jika dibandingkan dengan ketiga contoh manusia mulia tersebut, gadis itu bukan apa-apa.

Menyelam ia kemudian pada rasa berserah diri dan berusaha menerima dengan lapang dada tentang apa yang saat ini terjadi. Sebuah rahasia yang akhirnya terpecahkan mengenai hakikat musibah adalah bentuk kasih sayang dari Allah SWT. Ia lalu bergumam, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya? bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan? . Akhirnya, apa yang terjadi sudahlah terjadi, gadis itu menyadari bahwa apa yang saat ini ia miliki adalah milik rabb yang maha kuasa atas segala sesuatu. Apa yang hilang darinya saat ini telah kembali pada rabbnya, dengan begitu ia akhirnya harus merawat apa yang tersisa dan mengikhlaskan apa yang hilang. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati kita untuk ikhlas dan sabar menerima sesuatu, karena semua perkara hidup yang tiba adalah kehendak dan suratan takdirnya. 

Gadis 20 tahun itu akhirnya menyeka kedua ujung kelopak matanya, ia bangkit dan meninggalkan tepian bukit kecil itu, beranjak pergi dan mendaki bukit yang lebih tinggi lagi, tanda bahwa semangat dan rasa syukurnya pada Allah akan melebihi apapun!