Dari sekian banyak keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil, mual muntah (morning sickness) adalah yang paling umum.
Menurut American Pregnancy Association (APA), 70 persen ibu hamil mengalami mual muntah. Yang berarti 30 persen lainnya (yang kadang bikin sirik) dapat menjalani kehamilan tanpa mengalami keluhan mual muntah.
Saya salah satu yang masuk dalam 70 persen ibu hamil yang mual muntah. Bahkan untuk kasus saya, kondisinya masuk dalam kategori tak biasa alias berlebihan. Hyperemesis Gravidarum adalah istilah medis untuk kondisi mual muntah berlebihan yang dialami oleh ibu hamil. Karena mual muntah yang berlebihan itu pula, maka ibu hamil bisa mengalami dehidrasi berat dan harus dirawat di rumah sakit. Kondisi itulah yang saya alami saat mengandung putri pertama saya empat tahun yang lalu.
Mual muntah biasanya dialami ibu hamil pada trimester pertama kehamilan dan akan berkurang dengan sendirinya saat kehamilan memasuki trimester kedua. Lagi-lagi dalam kasus saya, hal ini tidak berlaku. Saya mengalaminya hingga waktu melahirkan, alias sembilan bulan. Jangan ditanya rasanya, mantap jiwa.
Seperti tulisan saya sebelumnya, saya memiliki riwayat mabuk perjalanan. Ternyata ini adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko mual muntah saat hamil. Jika rasa mual akibat mabuk perjalanan bisa hilang dalam beberapa jam (dan bisa dicegah dengan minum obat), mual muntah saat kehamilan dulu saya rasakan 24 jam sehari selama 9 bulan. Sehari saya bisa muntah sebanyak 20 kali, dan tidak ada satupun makanan yang bisa bertahan di perut saya lebih dari 5 menit. Semua makanan di lidah saya rasanya cuma satu, kecut. Bayangkan makan coklat kesukaan saya pun rasanya berubah seperti makan jeruk nipis. Bahkan minum air putih pun dimuntahkan juga. Rasa mualnya sangat menyiksa. Karena tidak ada satupun makanan yang bisa saya makan, akhirnya saya pun kekurangan cairan alias dehidrasi. Saya harus keluar masuk rumah sakit sampai tiga kali, demi mendapat asupan energi lewat cairan infus.
Selama hamil berat badan saya merosot hingga 20 kg, dan rasanya lemas sekali. Seumur-umur belum ada diet yang sukses membuat saya jadi selangsing itu. Kalau berdiri dan jalan kaki sedikit saja rasanya langsung berkunang-kunang mau pingsan. Saya jadi sering menangis karena khawatir memikirkan perkembangan bayi di perut saya yang nyaris tidak mendapat asupan nutrisi. Ditambah lagi, saya stres karena jadi tidak bisa melakukan rutinitas seperti biasa. Saya yang biasanya aktif bekerja dan melakukan hal-hal lain, tiba-tiba terpaksa harus terbaring lemah, mual muntah sepanjang hari, dan dirawat di rumah sakit.
Di tengah kondisi seperti itu, tiap minggu saya rutin memeriksakan kandungan ke dokter. Yang saya syukuri, walaupun ibunya lemah tak berdaya, ternyata bayi di perut saya adalah anak yang tangguh. Dia tetap tumbuh dengan sehat, dan berat badannya selalu meningkat.
Pada usia kehamilan 38 minggu, akhirnya putri pertama saya lahir dengan berat dan tinggi badan normal. Yang melegakan, sampai usianya hampir 4 tahun, putri saya tidak bermasalah makan, gerakannya aktif dan jarang sekali sakit.
Setelah melahirkan,
Buat ibu-ibu hamil yang saat ini sedang mengalami kondisi seperti yang saya alami dulu, tetap semangat, usahakan pikiran selalu positif dan usahakan untuk makan, walaupun nantinya dimuntahin lagi. Sampai saat ini belum dapat diketahui penyebab yang pasti kenapa ibu hamil bisa mengalami mual muntah. Karena itu pula, belum ada obat yang efektif untuk mengatasinya. Obat yang paling manjur adalah bersabar, dan rasa cinta yang besar terhadap si jabang bayi. Hal itulah yang memampukan kita sebagai ibu untuk melewati semuanya itu. Keep fighting moms!!