Hai Wakulovers! Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku dan budaya yang sangat banyak. Bagaimana tidak, negara kita ini secara geografis tidak berupa satu daratan namun terdiri dari banyak gugusan pulau yang masing-masingnya memiliki karakter masyarakat yang berbeda. Uniknya, kendatipun dalam satu pulau juga memiliki suku, budaya dan bahasa yang beragam. Mari kita ambil contoh di pulau Jawa. Bahasa Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat itu berbeda. Meski ada beberapa kesamaan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, namun logat dan beberapa kosakata bisa sangat berbeda.

Nah, hal yang menarik adalah dibalik bahasa daerah, terkadang tersimpan suatu filosofi di dalamnya. Kali ini kita akan bahas filosofi penyebutan beberapa angka Jawa. Di dalam penyebutan angka bahasa Jawa, ada 4 angka yang tidak mengikuti pola. Yaitu angka jajaran angka 20-an, 25, 50 dan 60. Mengapa penyebutan mereka berbeda dari yang lainnya? Yuk kita simak penjelasannya:
1. Likur (20-an)
Likur merupakan singkatan dari “lingguh kursi”, dalam bahasa Indonesia artinya duduk di kursi. Ini bermakna, pada usia 20-an adalah saatnya orang-orang mencari pekerjaan, mendapat kedudukan atau menggambarkan memiliki profesi yang digeluti.

2. Selawe (25)
Dalam jajaran angka 20-an, angka 25 memiliki penyebutan yang berbeda. Selawe adalah singkatan dari “seneng-senenge lanang lan wedhok” yang dalam bahas Indoensia berarti senang-senangnya laki-laki dan perempuan. Hal ini disebabkan orang Jawa menggangap usia 25 adalah usia yang pas untuk menikah.

3. Seket (50)
Bilangan 30 hingga 49, seluruh penyebutannya sesuai pola. Misalnya saja 31 adalah telung puluh siji, 32 adalah telung puluh loro dan seterusnya. Nah, yang berbeda adalah angka 50 yang biasa disebut dengan ‘seket’. Konon, istilah ‘seket’ tersebut adalah singkatan dari “seneng kethunan” yang dalam bahasa Indoensia suka mengenakan peci, kopiah, kethu atau penutup kepala. Hal ini merupakan peringatan bahwa semakin tua kita hendaknya semakin banyak melakukan ibadah.

4. Suwidak (60)
Angka dengan penyebutan unik lainnya adalah 60. Orang Jawa tidak menyebutnya dengan ‘nem puluh’ sesuai pola, melainkan “suwidak”. Singkatan dari sejatine wis wayahe tindak yang arti dalam bahasa Indonesia adalah sebenarnya sudah saatnya pergi (meninggal dunia). Pengaruh agama Islam di Jawa cukup kental, hal ini juga disesuaikan dengan sejarah islam yang mana kita ketahui, Rasulullah SAW dahulu juga wafat di usia 60-an.

Itu dia Wakulovers! filosofi angka Jawa yang artinya dalem banget ya. Nah, biasanya orang Jawa nih suka banget yang namanya bikin acara syukuran, baik saat menikah, saat hamil 7 bulan, setelah lahiran, ulang tahun, dan banyak lagi acara-acara lainnya yang terus diadakan sepanjang usia kita bahkan hingga kita sudah tiada, keluarga akan terus melakukan acara doa bersama dan lain sebagainya. Saat mengadakan acara, tidak pernah lupa yang namanya katering tumpeng, nasi box, prasmanan maupun snack box untuk para tamu undangan. Kalau Wakulovers ingin katering yang punya layanan serba ada untuk membantu acara kalian, memilih Wakuliner adalah yang paling tepat. Segala kebutuhan katering kalian tersedia dalam satu pintu. Ingat ya, katering? Ya Wakuliner.


Wakuliner, All in One Culinary App!
Jika kamu masih belum download aplikasi Wakuliner, yuk download di Play Store atau App Store sekarang juga.
Untuk keterangan lebih lanjut, Telepon : (021) 5421 5151 atau HP / WhatsApp : 0811 1738 777