_20190611_191117.JPG

Aku menjaganya dengan persis. Hanya saja aku tak lagi punya keberuntungan. Tapi siapa tahu? Mungkin hari ini. Setiap hari adalah hari yang baru. Memang lebih baik kalau beruntung. Tapi aku lebih suka menjadi tepat. Sehingga saat keberuntungan datang kau sudah siap.

Judul Buku: The Old Man and The Sea

Pengarang: Ernest Hemingway

Penerbit: Narasi (2015)

Tebal: 164 Halaman

Alasan mengapa buku ini layak baca: Hujan tidak akan turun sepanjang hari dan matahari akan bersinar kembali. Namun hujan tetap akan datang lagi karena memang begitulah kehidupan yang harus dijalani. Dalam buku ini, Ernest Hemingway berusaha menyampaikan pesan bagaimana manusia seharusnya menghadapi masalah melalui kisah Santiago si nelayan tua.

Sinopsis: Santiago, si pak tua, mungkin terlihat seperti nelayan biasa yang mencari ikan di tengah lautan sebagai mata pencahariannya untuk menyambung kehidupan.

Karena lahir dari keluarga nelayan, Santiago telah  yakin bahwa dia terlahir dan hidup untuk menjadi nelayan. Sepanjang waktu dalam hidupnya yang singkat dipergunakannya untuk berangkat menuju ke laut, melempar jala, memasang umpan, demi mendapatkan ikan yang bisa dijual. Meskipun demikian, bagi Santiago, pekerjaannya tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai simbol  harga dirinya.

Apa yang akan dilakukan nelayan saat tidak mendapatkan ikan?  Santiago, si pak tua, tidak mendapatkan satu pun ikan yang layak meskipun telah menghabiskan delapan puluh empat hari menyisir lautan.

“Mungkin aku tak seharusnya menjadi seorang nelayan,” pikirnya. “Tapi itulah tujuan hidupku, untuk itulah aku dilahirkan.” – hlm. 63

Bagaimana Santiago menghadapi situasi semacam itu? The Old Man and The Sea dengan lihai menguras emosi tanpa disadari pembacanya.

Kesan: Kehidupan yang sedang dijalani Santiago si pak tua menyiratkan perjalanan hidup yang kita hadapi, yaitu kehidupan yang tidak pernah lepas dari permasalahan.  Aku akan merangkum novel karangan Ernest Hemingway ini menjadi dua baris kalimat yang pernah diucapkan oleh Helen Keller di akhir hayatnya: “Hadapilah masalah hidup dirimu dan akuilah keberadaannya, tetapi jangan biarkan dirimu di kuasainya. Biarkanlah dirimu menyadari adanya pendidikan situasi berupa kesabaran, kebahagiaan, dan pemahaman makna.”

Rating versiku: 5/5

Iklan