Assalamualaikum, halo apa kabar?

Alhamdulillah saya bisa menyempatkan nulis di blog lagi. Eh, sudah tau belum kalau sekarang saya resmi sebagai ibu-ibu anak dua? Hehehe. Beberapa bulan belakangan ini saya mengalami beberapa kejadian yang luar biasa, salah satunya adalah melahirkan bayi prematur. Tapi, cerita lahiran keduanya saya cerita nanti aja ya!

Kali ini, sebelum saya lupa, saya pengen banget mengabadikan momen Arka khitanan. Jadi tanggal 7 Juni, atau H+3 lebaran kemarin Arka sudah dikhitan. Sekilas mungkin kejadian ini terlihat biasa aja. Tapi buat saya, momen kemarin membuat saya belajar banyak hal.

Rencana khitan sendiri sebenarnya sudah lama. Walau saya sendiri lupa kapan tepatnya saya dan ayah memutuskan untuk mengadakan khitanan Arka di bulan Juni. Dari bulan-bulan sebelumnya, saya dan ayah gencar untuk mengajak Arka khitan. Yang kemudian ditolak dengan tegas sama Arka. Soalnya ayah pernah teledor menjelaskan apa itu khitan dengan bahasa agak vulgar. Ya jelas anaknya menolak.

Tapi kita terus terus terus mengajak Arka untuk khitan. Bahkan kita coba untuk membujuk Arka dengan mainan. Dia boleh beli mainan apapun yang dia mau, asal mau di khitan. Eh, tetep ditolak dong! Entah ibu lega atau makin bingung.

Sampai akhirnya kita baru terpikirkan ide untuk membujuk Arka dengan staycation di hotel, salah satu kegiatan liburan favoritnya Arka. Dia nggak langsung mengiyakan, tapi juga nggak menolak. Wah, artinya cukup tertarik 😀

Namun tentu saja, drama tak dapat ditolak. Mendekati bulan Juni Arka tetap menolak khitan. Bahkan terkadang sampai teriak-teriak atau menangis. Saya, ayah, bahkan keluarga besar terus membujuk Arka. Kita coba terus menerangkan kalau khitan adalah hal baik yang memang harus dilakukan oleh anak laki-laki.

Beberapa hari menjelang 7 Juni saya mulai sounding Arka dengan kalimat, “Arka, hari Jumat Arka sunat ya..” Terus begitu berulang-ulang. Dan setiap sesudah kalimat yang saya sampaikan tersebut Arka pasti melakukan protes. Biasanya dia protes dengan menanyakan, “Kenapa Arka harus sunat?” Kemudian dia cerita kalau dia takut khitan karena sakit.

Satu hal yang terus kita sampaikan sama Arka adalah bahwa dia nggak sendiri. Kita selalu menekankan sama Arka kalau ada banyak orang yang sayang dan selalu dukung dia.

Mungkin karena sounding dan sugesti positif yang terus kita lakuin, beberapa hari menjelang 7 Juni Arka terus nanya ini hari apa dan besok hari apa. Mungkin dia sadar kalau khitan bakal tetap dilakukan. Saya dan ayah mencoba tetap tenang dan jawab pertanyaan Arka. Meski beberapa kali kita agak goyah dan berniat untuk membatalkan khitan ketika Arka mulai merengek nggak mau sunat. Tapi keluarga terus terus terus meyakinkan kalau Arka bisa.

Sampai hari H, kita mulai siap-siap sejak pagi. Karena kita harus stand by jam setengah 8 di tempat khitan. Arka mulai nanya-nanya, “Ibu mau kemana?” Ketika liat saya mulai dandan. Atau nanya “Memang mau kemana?” Ketika dia disuruh mandi. Saya dan ayah hanya jawab pertanyaan Arka dengan agak ngasal. Nggak boong, saya dan ayah gugup banget!

Sampai di tempat khitan Arka mulai memberondong kita dengan pertanyaan, “Ini tempat apa?” Saat itu nggak ada yang berani jawab. Saya dan ayah hanya jawab, “Yuk masuk dulu, yuk..” Tapi entah kenapa, kita yakin Arka sebetulnya tau apa yang bakal dia alamin.

Selama di tempat khitan, kita nggak ada yang bilang langsung sama Arka kalau dia akan disunat. Menunggu sekitar sejam pun dia sangat tenang. Tapi sekitar 10 menit menjelang masuk ruangan tiba-tiba dia bilang, “Arka nggak mau disunat.” Ternyata sejak awal dia memang tau.

Keadaan saya gimana? Setelah sampai di tempat khitan saya baru tau ternyata peserta khitan didudukkan di bangku sesuai nomer urut. Ketika gilirannya, ada perawat keluar dari ruang khitan dan mengajak peserta khitan untuk masuk ruangan, dalam keadaan mau khitan atau enggak. Jadi orang tua hanya menunggu di luar. Disitu saya langsung nangis.

Saya tau orang tua memang nggak diperbolehkan masuk, tapi saya kira orang tua boleh mengantar ke dalam lalu ke luar lagi. Sebelumnya saya nggak begitu sadar kalau Arka bakal menghadapi hal ini: mendapat tindakan medis di area yang tidak biasa (kelamin), sendirian, dalam keadaan sadar, dan dipaksa. Saya terus nangis membayangkan rasa takutnya Arka di dalam ruangan khitan. Ya Allah..

Nggak, saya nggak sedang menyalahkan prosedur di tempat khitan. Dan saya pun nggak mau menyesal dengan keputusan yang sudah saya dan ayah ambil. Tapi sebagai orang tua, rasanya patah hati melihat anak berjuang keras menghadapi rasa takutnya. Meski saya tau dan sadar, melawan rasa takut adalah hal yang baik.

Pada saat Arka keluar ruangan khitan dengan menggunakan sarung sambil menangis, saya lega luar biasa. Saya lega dia menangis. Saya lega dia nggak menahan perasaannya di depan orang tuanya. Arka keluar ruangan dengan menangis sambil bilang, “mamaaaahh mamaaaahh..” Lah kok jadi mamah? Hehe. Besoknya dia cerita kalau perawat di ruang khitan yang membujuk dia kalau setelah selesai bakal ketemu mamah. Atau mungkin dia liat anak lain nangis-nangis dengan memanggil mamah, makanya dia ikutan. Padahal dia panggil saya ibu. Hehe

Setelah itu kita bujuk Arka untuk pilih mainan yang dijual di sekitar tempat khitan. Setelah dia pilih satu mainan, akhirnya Arka mulai tenang. Tapi dia terus minta gendong sama saya atau ayahnya.

Hari pertama lumayan melelahkan karena dia rewel. Bahkan dia nggak mau orang terlalu dekat sama dia, karena Arka bilang takut kena lukanya. Kemudian malamnya dia sering terbangun untuk cari saya atau ayah, lalu dia minta peluk. Mungkin hari itu adalah hari yang paling melelahkan buat Arka.

Hari kedua dia mulai ceria. Bahkan di sore hari Arka tiba-tiba bangun sendiri untuk pipis, kemudian main sama sepupunya. Alhamdulillah.. Insya Allah artinya semua berjalan baik.

Sugesti positif masih terus kita kasih untuk Arka. Kita pengen dia sadar kalau melawan rasa takut adalah hal yang sangat mungkin dilakukan, dan sangat berarti ketika kita berhasil menaklukan rasa takut. Arka hebat Arka kuat.

Ayah ibu sayang Arka. Alhamdulillah..

FacebookTwitterGoogle+Share