Sebuah puisi pendek karya, Nia Tiara.

TUNDUKKU

Laksana semesta rindu selaksa asa.
Alam terlukis nan elok membuai kalbu.
Rindu menggebu akan kasih rahmatMu
Kelak kesanalah pasti tempatku mengadu

Sujudku tak bertepi, Tunduk merunduk menghiba dan memuji.
Hanya padamu HuRabbi
Semesta alam nan abadi

(Inspirasi dari surah Al-Fatihah:2)
Tambun, 18 Mei 2019

Menurut saya pribadi, karena agama saya Islam, otomatis saya hanya akan membuat karya yang baik, artinya unsur keislaman dan kebaikan harus ada. Terlebih karya tersebut akan dibaca orang lain. Jadi Islamlah yang membentengi saya hanya membuat karya yang baik dan santun.

Senin, 20/5/19 bertempat di Kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi no. 51, Jakarta Pusat telah berlangsung FORUM GROUP DISKUSI, yang dihadiri oleh:
1. Ketua MUI, KH Shodiqun
2. Wakil Ketua MUI, H.Zainut Tauhid
3. Sekertaris Komisi Fatwa MUI, H.M Asrorun Ni’am Sholeh
4.Ketua Komisi Pembinaan Seni dan Budaya Islam, Habiburrahman El-Shirazy
5. Pakar Sastra, Ahmadun Yosi Herfanda
6. Pakar Sastra Arab UI, Bastian Zulyeno
7. Penulis Novel, Helvy Tiana Rosa. Dan beberapa sastrawan, blogger, serta para pengurus Komisi Pembinaan Seni dan Budaya Islam MUI pusat.

Sebagai Ketua Komisi Pembinaan Seni dan Budaya Islam MUI Pusat, Habiburrahman El-Shirazy yang akrab dipanggil Kang Abik ini membuka sekaligus memimpin diskusi Sastra Islam. Menurut Kang Abik saat ini banyak kalangan anak muda yang membuat karya islami, terbukti tiap pekan ada dua atau tiga karya yang terkirim lewat email, yang minta di endors. Namun dari beberapa anak muda tadi juga ada yang mundur tidak berkarya lagi, karena ada penganut Islam garis keras, mengungkapkan bahwa karya sastra mengandung kebohongan, walaupun ada nilai-nilai kebaikannya. Karena ada unsur fiksi maka karya sastra tersebut termasuk Bid’ah.
Dalam forum tersebut Kang Abik tak lupa meminta pihak MUI, untuk memberikan Fatwa Sastra Islam itu halal atau haram.

Pemaparan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, HM Asrorun Ni’am merujuk pertanyaan dan pernyataan dari Kang Abik, tentang fatwa untuk Sastra Islam, khusus fiksi atau cerita imajinatif. “imajinasi, satu jalan cerita bawah alam fikir, sesungguhnya sudah diatur di dalam Islam. Selama imajinasi tersebut masih berbentuk imajinasi saja didalam fikiran, maka belum ada ketetapan hukumnya. Tetapi, jika imajinasi tersebut sudah terwujud dalam bentuk karya sastra, maka akan ada hukumnya, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan”.

Fatwa sastra islam sendiri harus memuat nilai keislaman, aqidah, syariah, muamalah dan dzikir. Sehingga karya sastra tidak hanya untaian kata-kata indah saja, tapi juga menonjolkan nilai-nilai keislaman”. lanjut HM. Asrorun Na’im.

Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, sedikit menguraikan Sastra Islam, dengan memberikan contoh karya sastra dari, penulis Ayu Utami dengan novelnya yang berjudul SAMAN, yang didalamnya menggambarkan cerita tentang seksualitas yang vulgar dan dianggap tabu pada masanya sehingga mengundang kontroversial dikalangan sastrawan dan pembaca.

Tidak demikian dengan karya Habiburahman El Shirazy, judul novelnya AYAT-AYAT CINTA, sebuah karya sastra yang dikemas cantik memadukan dakwah, bertemakan cinta dengan kultur budaya islam. Kang Abik begitu piawai memberikan pesan yang tersirat dalam novel Ayat-ayat Cintanya, cinta sejoli diungkapkan secara santun penuh nilai-nilai keislaman. Memberikan kebaikan buat para pembacanya.

Sementara itu, menurut Ketua MUI, KH Shodiqun, menjelaskan tentang keindahan Sastra Islam sebagai pembeda dengan sastra lainnya adalah makna yang dikandungnya.

“Sastra itu harus membahagiakan dan indah. Karena Allah mencintai keindahan. Sebuah keindahan yang berakar dari jiwa. Jiwa atau ruh karya adalah Aqidah dari penulisnya”, jelas KH Shodiqun.

Dengan tegas serang Helvi Tiana Rosa (HTR), Sastra Islam: sebuah karya sastra yang dibuat oleh mereka-mereka yang punya wawasan keislaman yang cukup bagus, menuangkan nilai keislaman bertujuan membangun jiwa para pembacanya. Dakwah melalui karya tulisan.

Hasil diskusi seni dan budaya Islam, khususnya Sastra Islam, yang sebelumnya telah digelar diskusi tentang perfilman dan musik islami, maka hasil dari diskusi-diskusi tersebut akan jadi bahan bahasan pada Rakornas Komisi bidang Seni dan Budaya, yang akan menghadirkan sastrawan-sastrawan nusantara, InsyaAllah.

Acara diskusi ditutup dengan buka bersama dan sholat magrib berjamaah. Ngabuburit yang penuh makna, alhamdulillah.