Mulut manismu banyak menuturkan kata maki, namun aku pernah melumat mulutmu dengan penuh cinta.

Hatimu meneriakkan dia benci diriku, namun hati itulah yang sebenarnya sering merindu.

Raga ini seringkali berjalan angkuh seakan tak butuh aku, tak sadar kah bahwa punggungku yang selama ini kau cari untuk kau peluk?

Kita pernah berada dalam masa "kita" menjadi "musuh". Namun ingatkah kamu bahwa "kita" adalah "satu" yang saling membutuhkan, namun diselimuti debu keangkuhan.

Saat kau terlelap, berjanjilah padaku. Kita hidupi hidup ini sebaik-baiknya, agar tak ada setitik penyesalan bermuram durja.