Pojok kamar, 21.04

Kamar gelap, berselimutkan rasa ragu yang membungkus semua ingatan buruk tentangmu. Kembali mengoyak sejuta kepercayaan yang telah susah payah kita bina.

Tangisanmu membutakan rasa ini. Mengapa? Mengapa hatiku sama sekali tidak bergetar saat melihat air matamu mengalir lembut di pipi?
Inikah yang disebut mati rasa?
Aku sedang merasakannya?

Percuma tenggelam dalam melankoli, jika hanya duka yang bisa kau sematkan dihati.
Lalu, aku harus bagaimana?
Menjadi seseorang yang munafik bukanlah jati diriku.
Jawab aku, cinta ini yang harus aku bunuh, atau aku yang bunuh diri dengan cara tidak mengenalmu lagi.
Jawab aku...