Suatu hari di desa penyihir, hiduplah seorang penyihir yang bernama Silta Fadillah. Ia adalah seorang penyihir keturunan murni dari keluarga Jangmi, mawar putih. Namun kehidupannya sudah mulai berubah ketika ia berumur 22 tahun, dimana kekuatan terdasyat para penyihir keturunan murni mulai muncul dan berkembang. Silta yang mulai menguasi beberapa ilmu sihir yang diturunkan padanya mulai berani menyebrangi batas antara dunia sihir dan dunia manusia. Hingga terjadilah sesuatu yang tidak di inginkan.

Begin the story,

Selasa, 31 Oktober 2017.

Silta tengah meracik suatu percobaan untuk sihirnya. Silta berencana untuk melintasi dunia manusia, ia ingin menyatukan dua dunia yang berbeda ini, bukan bermaksud itu saja, namun Silta menginginkan sesuatu dari dunia manusia. Ia menginginkan seorang lelaki yang tidak sengaja ia datangi mimpinya.

Ya Silta adalah keturunan murni dari keluarga Jangmi, keluarga yang dapat memasuki mimpi-mimpi manusia. Dan entah kesialan atau keberuntungan Silta memasuki salah satu mimpi lelaki yang sangat berpengaruh di dunia manusia.

Ia memasuki mimpi Putra Mahkota dari kerajaan Byeol, Pangeran Rizky. Salah satu lelaki yang menjadi pujangga para wanita di kerajaan dan didesa Byeol.

Silta mulai selalu tersenyum sendiri, melamun sendiri di kamarnya. Hingga suatu hari kedua orang tua Silta memergoki anaknya sedang tersenyum menatap bintang. Sang ayah paham atas perasaan anaknya itu, namun sang ibu tidak terima jika anaknya menykai manusia, hingga terjadilah percakapan antara keluarga ini.

“Anakku, sudah aku katakan jangan pernah untuk jatuh cinta pada manusia.” sang ibu memulai percakap pada anaknya yang kini tengah terduduk menatap lantai rumah yang penuh dihiasi dengan warna-warna hitam dan merah itu.

“Aku berbicara seperti ini karna aku tidak mau kau menjadi penyihir yang kedua, yang melakukan hal bodoh seperti menyatukan dua dunia yang tidak mungkin menjadi satu. Apalagi tujuannya untuk menyatukan cinta kamu kepada lelaki manusia itu.” lanjut sang ibu dengan ekspresi yang tidak dapat di artikan, ya ibu Silta berbicara selalu dengan raut wajah datar, sehingga tidak mudah menilai apakah lawan bicaranya ini marah atau biasa saja.

“Itu mustahil nak.” tambah sang ibu. Sedangkan sang ayah hanya diam memerhatikan raut wajah anaknya.

Bagaimana kisahnya? penasaran? langsung aja ke www.beautysill.com atau klik tautan dibawah