Credit

Malam semakin larut, sementara rintik hujan jatuh dengan pasti ke bumi, semakin lama menderu bersama kencangnya angin membuat suara. Namun waktuku termakan ingatan, tak pedulikan ribut di sekitaran. 

Terkenang manisnya kebersamaan dalam canda tawa, memperlakukan satu sama lainnya bagai keluarga, mengerti arti kata serta memahami sulit masing-masing. Mungkin saat itulah keadaan sempurna, bebas lepas tertawa dan saling melempar candaan tanpa singgungan. Di lain waktu, pernah monster dalam diri berubah negatif hingga tercipta perseteruan hingga perdebatan sengit. Itulah keadaan yang tak terkendali dan sangat disayangkan terjadi.

Dan setelah adanya pergantian yang dipaksakan, perubahan pun harus dialami. Bahkan keadaan kita pun tiada sama, karena seluruhnya berdampak pada nurani juga raga. Kian sulit melakukan lagi kebiasaan kita membecandai profesi, yang terlalu murah untuk diseriusi. Akan tetapi, sikap harus menyesuaikan perubahan yang diatur. Atau aturan yang membuat perubahan itu terjadi.

Kemudian satu per satu, kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu, memisahkan diri dari kita. Suasana pun berubah drastis, kian terasa banyak kehilangan, kekurangan dan kesedihan, mulai menelusup tiap ruang rindu menggema di ruang kosong. Meski orang baru berdatangan, dengan karakter berbeda, keadaan masih tak kembali saat kita bersama. Akhirnya, semua kebersamaan, suka duka, canda tawa, susah senang, saling berbagi, hanya bagian dari perubahan.

Sejenak bolehlah kumeratapi, kesendirian, sisa perjuangan untuk tetap bertahan, dengan sebagian yang lain turut menemani. Namun jika pilihan harus membuatku tidak mengikuti kamu, maka agar tidak menjadi korban dari perubahan, aku pun harus mengambil peran dalam perubahan.

Di era yang lekat dengan digital, tentunya aku pun harus lekas move on dari keadaan nyaman. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka."

Jadi, biarlah kebersamaan kita menjadi keadaan masa lalu, karena kita telah memilih untuk berubah dengan cara berbeda walau tidak harus bersama. Usai kumengalahkan ratapan, kini waktunya mengambil kembali kendali kesadaran, memeluk waktu yang semakin mepet antara ilusi dengan fakta.

Di sinilah kuberada, bersama angin dan napas yang mengaliri rongga-rongga, telinga pun jelas mendengar hujan yang mereda serta detak jam yang melaju.