Halluhaaa….

Setelah menghilang beberapa saat, diriku muncul lagi ke permukaan hehe tapi kali ini, aku tidak akan membahas perihal dunia kecantikan tapi tidak lain dan tidak bukan adalah aku ingin mengemukakan keresahan yang kurasakan setelah menyaksikan film dokumenter yang difilmkan oleh Watchdoc Image (setidaknya itulah nama youtubenya) yaitu seperti yang mungkin kalian tahu, SEXY KILLERS.

Aku tahu soal film dokumenter itu setelah melihat postingan salah seorang influencer yang mungkin juga kalian tahu, Gita Savitri Devi. Awalnya aku tak begitu tertarik, ku pikir itu sebuah film yang perlu ditonton berjam-jam dengan pembahasan yang berat. Yaaa sebenarnya ada betulnya juga sih ya 😂 Tapi caption dan komentar salah seorang netizen di postingan Gita Savitri Devi itu membuatku ‘sedikit’ penasaran. Hingga akhirnya, aku melihat lagi soal Sexy Killers itu di salah satu instagram story temanku. Semakin besarlah rasa penasaranku, terlebih karena aku tahu bahwa ternyata itu sebuah film dokumenter yang jika kamu ingin tonton, tinggal buka youtube, cari, klik, selesai. Akhirnya terdoronglah diri ini untuk membuka youtube dan ternyata tidak perlu usaha lebih, Sexy Killers (Full Movie) ada di beranda youtube-ku. Okesip, tanpa pikir panjang dan bahkan tidak lihat durasinya aku langsung klik dan mulai menonton.

Kelak, akan menjadi tugasku untuk memajukan negara ini.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menontonnya hingga selesai. Film dokumenter tersebut membuatku berpikir keras tentang apa yang harus aku lakukan dikemudian hari. Kelak, akan menjadi tugasku untuk memajukan negara ini. Film dokumenter itu menyadarkanku bahwa aku secara tidak langsung ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Mungkin tidak begitu kentara untuk saat ini, tapi nanti.

Apa yang terjadi selama aku menonton itu? Menangis. Terenyuh hati ini ketika tahu apa yang terjadi diluar sana, yang terjadi kepada saudaraku sebangsa setanah air :” Kesal dan ingin marah. Namun apa gunanya? Para penguasa tidak akan tahu, dan mungkin tidak mau tahu. Ingin mencaci dan memaki. Tapi untuk apa? Para penguasa juga mungkin tak mendengar dan mungkin memang tidak mau mendengar.

Aku kesal dan marah, tapi tidak benci. Tidak ada gunanya membenci. Tidak akan menyelesaikan masalah. Tidak ada gunanya mencaci dan memaki. Boleh saja untuk meluapkan kekesalan, tapi jika keterusan agaknya tidak baik juga menurutku. Hanya akan mendatangkan penyakit hati.

Aku tidak bisa memajukan Indonesia sendiri. Tapi kita bisa.

Tujuanku menulis ini bukan sebagai ujaran kebencian, bukan untuk mengajak kalian membenci, bukan untuk menyalahkan pihak manapun. Justru aku ingin mengajak kalian generasi muda untuk bisa berpikir kritis. Aku tidak bisa memajukan Indonesia sendiri. Tapi kita bisa. Jika kita bersama-sama sadar akan tanggung jawab kita sebagai pemuda pemudi Indonesia, kita pasti bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik.

‘Ah, gue gk yakin Indonesia bisa maju.’ ‘Indonesia udah gk ada harapan.’

Hentikan! Ucapan-ucapan itu hanya dilontarkan dari para pengecut. Pesimis. Tidak seharusnya kita begitu. Seharusnya kita optimis bahwa kita bisa! Indonesia bisa! Jika generasi mudanya saja punya jiwa pesimistis seperti itu, bagaimana nasib negara ini nantinya? Apa iya kalian ingin Indonesia hanya akan menjadi sebuah nama?

Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi muda untuk berpikir kritis, memikirkan bagaimana masa depan bangsa ini. Jika mencaci, memaki dan membenci kita jadikan sebagai budaya kita, Indonesia mungkin tidak akan pernah maju.

Film dokumenter Sexy Killers hanya menampilkan satu masalah yang terjadi di Indonesia. Masalah penambangan batu bara dan akibat dari aktivitas tersebut. Belum lagi masalah-masalah lain yang belum terungkap. Mungkin tak banyak tindakan yang dapat kita lakukan saat ini untuk menanggulangi masalah tersebut. Tapi bukan berarti kita bisa berpangku tangan dan menganggap itu sebagai isapan jempol belaka. Mulailah berempati, bersimpati kepada saudara-saudara kita yang terkena dampak dari kejahatan yang entah disadari oleh pelakunya atau tidak. Mulailah berpikir, mencari bagaimana solusi terbaik untuk itu. Mulailah sadari, bahwa hidup kita tidak hanya untuk memenuhi perut kita, tapi kita juga bertanggung jawab atas kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini.

Mungkin sebagian orang menganggap film dokumenter ini justru menjadi pengadu domba dan dapat memecah belah. Tapi bagiku, film dokumenter ini menjadi pengingat. Menjadi sentilan untuk generasi muda sepertiku. Selama ini hidupku enak, tapi bagaimana dengan saudaraku diluar sana? Selama ini aku kuliah hanya sebatas belajar, namun film dokumenter ini mengingatkanku bahwa tugasku tidak hanya belajar. Aku punya tanggung jawab yang jauh lebih besar dari itu.

Jika kalian sudah menonton film dokumenter tersebut dan ingin berbagi cerita tentang keresahan yang kalian alami, silahkan berbagi di kolom komentar. Aku dengan senang hati akan membacanya 🙂