Sebagai orang yang dulunya punya cita-cita menjadi Programmer, dipanggil interview untuk bekerja di perusahaan raksasa seperti Google merupakan impian tersendiri. Ya. bekerja di Google udah jadi salah satu impian saya sejak di bangku SMP.
 
Cerita dulu deh ya, saya mendapat pesan dari seorang technical recruiter Google di akun LinkedIn saya untuk mencoba proses seleksi yang ditawarkan oleh Google. Posisi yang ditawarkan saat itu adalah software engineer. Pesan pertama dari abang yang memiliki posisi technical recruiter di Google itu dikirimkan tanggal 18 Januari 2018. Karena semenjak lulus kuliah saya udah jarang buka akun LinkedIn, akhirnya pesan pertama itu pun tak terbaca oleh saya dan otomatis tidak saya baca, sehingga saya dikirimin lagi 10 hari kemudian kurang lebih disuruh membaca pesan yang sebelumnya, dan apa tertarik untuk ikut proses seleksinya. Hari itu, saya lagi buka akun LinkedIn karena lagi searching sesuatu, saya lihat ada 2 pesan masuk yang belum terbaca dan itu semua dari Google. Kira-kira 3 hari setelah pesan terakhir dikirim saya baru membacanya dan yahhh langsung heboh sendiri. hahaha. Tapi belum langsung saya balas.
 
Kenapa ? Karena saya masih ragu, pertama: apakah memang benar dari Google? Kedua: emang pernah denger juga kalo Goolgle sering melakukan recruitment dengan cara tak terduga, tapi apa ini salah satu 'cara tak terduga' itu?. ketiga: kalaupun benar, kok ya saya yang masih cupu dan butiran debu ini? keempat: kok ya bisa dapat posisi software engineer, Google sebenarnya dapat info darimana mengenai orang yang mau direkrutnya? dan yang paling utama: background pendidikan saya bukan dari IT. Memang dari bangku SMP, saya udah punya impian untuk kuliah di jurusan IT atau yang relevan, tapi takdir berkata lain, 2x test masuk Universitas, saya gagal dan di test ketiga saya berhasil, namun bukan jurusan Teknik Informatika yang saya dapat, tapi Food Scientist yang dimana saya tempatkan di pilihan kedua.
 
Balik lagi ke topik cerita, saya memang senang dan heboh sendiri, udah sampai berfikir hal 'gila'. Tapi disisi lain yang saya rasakan, saya tidak banyak tahu tentang pemrograman, dan cita-cita ini udah lama saya kubur dalam-dalam, karena it's imposibble. Saya sempat down karena hal ini. Tapi, kesempatan tidak datang dua kali, siapa tahu kan 'hal gila' yang saya fikirkan bisa jadi nyata. hahahaha. Bukan itu deng, siapa tahu kan cita-cita saya bisa saya gali lagi dan jadi kesampaian.
 
Akhirnya saya menemukan satu kalimat pustaka yang membuat saya mantap untuk membalas pesan 'cetar' itu. Mengutip "Not everyone wants to work for Google, but there are valuable side effect to a Google interview", dan kemudian jadilah saya nyemplung dalam proses seleksi-nya mbah Google. Dan memaang kutipan tersebut sangat benar, valuable effect nya terasa banget oleh saya yang cupu ini.
 
Ada hal confidential yang tidak bisa dibagikan informasinya, karena terkait aturan. Namun secara umum saya ingin berbagi pengalaman saya, meskipun saya gagal, dan saya 'sangat sedih sekali' (pemborosan kata-kata). Cita-cita ku tersayang, akhirnya terkubur lagi dengan batu nisan yang baru dan bunga segar berhamburan diatasnya dengan bau mawar yang harum (sedih, but I can't do anything and actually I don't know what to do). Namun, saya masih menginginkan orang lain bisa menggapai mimpi mereka. Semoga tulisan saya ini bermanfaat.
 
Inilah tahapan yang saya lalui, sebenarnya ada proses seleksi yang sangat panjang untuk menuju hiring, saya berhenti di proses screen interview. Setelah proses screen interview ada on site interview, ya itu andai saya saya lolos saat itu. Dalam on site interview itu pun masih terbagi dalam beberapa proses interview lagi. Setelah lolos dalam proses on site interview, nanti kita akan diantarkan untuk menjalani prises hiring dsb. Google akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya apa yang seharusnya dipersiapkan dan dijalankan, beserta alur-alurnya. Intinya tidak ada yang tidak jelas, semuanya tidak membingungkan, asal petujuknya tak terlewatkan untuk dibaca.
 
Balas Pesan di LinkedIn dan mengirim CV lewat Email
 
Ketika pesan masuk itu saya jawab ''iya'', proses selanjutnya saya disuruh ngirim CV. Dari membuat CV ini pun saya banyak belajar. Saya nyari referensi buat CV yang kira-kira bisa dilirik oleh team Google. CV yang saya buat kali ini, berbeda sangat jauh dari CV yang saya buat sebelumnya. Google menggunakan mesin untuk menyeleksi resume-resume itu, sehingga resume yang tidak termasuk syarat yang ada, otomatis langsung out. Saya menggunakan bantuan dari Google Resume Builder dengan sedikit editing sana sini biar kelihatan lebih 'Google' (fyi, diketahui Google mencari orang yang kreatif juga pastinya). Seminggu setelah berkata iya, saya tidak langsung mengirimkan CV karena masih baca sana sini itu, hingga ada panggilan lagi untuk segera mem-follow up pesan terakhir untuk mengirimkan CV lewat email. Akhirnya cling, jadi deh saya kirim. Sebenernya untuk kasus saya ini, CV adalah formalitas saja sepertinya, karena nampaknya tak ada seleksi dokumen lagi untuk saya, tapi saya pikir tidak ada salahnya saya belajar. Lagi-lagi dapat ilmu baru, the things that I often interested in.
 
Phone Interview 
 
Tahap ini merupakan interview yang mengasyikkan. Technical recruiter saya orang nya lucu, seperti ngobrol dengan orang yang sudah lama kita kenal. Nothing to be prepared, hanya butuh menyediakan waktu luang sesuai jadwal yang telah disepakati, Pada phone interview ini, saya ngobrol dengan technical recruiter saya selama 30 menit, menggunakan Google hangout lah ya. Dan dia mengajukan beberapa pertanyaan, termasuk penjelasan tentang alur kerja di Google.
 
Dan tetiba ada satu pertanyaan yang langsung membuat saya sakit kepala dan terdiam seribu bahasa. Apa itu? tentang kompkesitas algoritma, berasa di lempar ke jurang yang sangat dalam. Sumpah gatau mau ngomong apa. Tapi saya ingat, saya pernah belajar ngoding dan bertanya sedikit tentang algoritma pemrograman dengan teman dekat saya, tapi saya tidak bisa mengingat sama sekali untuk algoritma X itu apa. Di titik ini pun akhirnya belajar lagi apa dan bagaimana menghitung kompleksitas algoritma dengan abang technical recruiter nya dan sedikit searching di mbah Google tentunya. Untuk yang sedang kuliah IT sekarang, saya sarankan jika kalian ingin bekerja di Google, perkuatlah dasar Algoritma dan Struktur Data pemrograman dan jangan suka bolos pada mata kulah itu. Karena Google menggunakan dasar Algoritma dan Struktur data yang cukup kuat. Seandainya dulu saya punya mata kuliah ini, ah lagi-lagi .... lupakanlah.
 
Ketika ditanya mau memilih area seleksi software engineer untuk kantor Google cabang mana, saya bingung jawabnya. Karena saya tidak tahu mau dimasukkan daftar seleksi di kantor Google cabang mana, akhirnya si technical recruiter Google bilang bahwa ada kantor software engineer Google yang letaknya di Kuala Lumpur, Malaysia, sehingga dimasukkan saya ke dalam daftar kandidat di kantor Google tersebut. Alasannya karena Malaysia lebih dekat dengan Indonesia. Kantor Google di Indonesia belum ada recruitment software engineer. Setelah perbincangan selama kurang lebih 30 menit, si technical recruiter memberi saya email kembali untuk dibalas. 
 
Lalu si technical recruiter saya yang sebelumnya bilang bahwa interview akan berlanjut ke tahap phone screen interview, dimana saya akan berhadapan langsung dengan salah satu software engineer Google. Lord! Ternyata tidak mudah menerima kenyataan bahwa saya haru belajar sendiri dalam waktu yang cukup singkat. Dengan modal ilmu yang pas pasan dan do'a tentunya, kemudian saya dioper ke recruiter yang ada di Google Kuala Lumpur untuk menentukan jadwal yang sesuai dan disepakati bersama.
 
Phone Screen Interview
 
Bisa dibilang ini sih proses live coding, astaga... seumur hidup saya baru sekali begini, dan ini yang kedua. Sekitika saya flashback saat saya belajar otodidak di internet, live coding bersama teman yang saya kenal dari internet juga saat kelas 1 SMP, seru sih, bisa belajar banyak buat begineer seperti saya, tapi memakan waktu yang cukup lama juga buat bisa mecahin masalah yang ada di soal. Nah, disini saya hanya dikasih waktu 45 menit untuk memecahkan masalah secepat mungkin. Namun, dibalik kegugupan saya ini, bisa sedikit ngobrol langsung dengan salah satu software engineer Google yang berlokasi di kantor Kuala Lumpur itu membuat saya cukup excited. Di interview ini, saya diizinkan untuk membuka buku maupun internet, asalkan soal bisa selesai tidak lebih dari 45 menit.
 
Oh ya, biasanya sesekali saya belajar koding di Leetcode.com. Sekedar diketahui bahwa proses ngoding dilakukan di Google Docs, manual, debunging dan testingnya, tanpa IDE sama sekali. Disini, saya diberi sebuah kasus, kasusnya tidak cukup jelas diawal (memang sengaja demikian), jadi memang kasus itu dibuat untuk didiskusikan bersama bagaimana cara menyelesaikannya. Interview di tahap ini tidak cukup basa basi. Pertama kali hanya ditanya kabar, terus langsung pertanyaan. Well, pertama kali mendengar pertanyaan yang diberikan, otak saya udah dipaksa mikir keras. Saya tidak bisa cerita soalnya seperti apa, ini rahasia, bukan karena saya tidak mau berbagi, tapi karena memang Google yang bilang demikian, sifatnya confidential. Sepertiyang saya bilang sebelumnya, yang jelas mereka ngasih petunjuk dan bahan yang cukup jelas. Tapi ya tetap saja, saya tentu tidak bisa menebak soal yang diberikan seperti apa. Saya hanya membuat sedikit fungsi dengan kasus yang diberikan dan belum berhasil menyelesaikan permasalahan dalam 45 menit, rasanya saat itu jarum jam berputar sangat cepat.
 
Interviewer nya tidak hanya tinggal diam dan menjadi penonton, tapi berasa seperti partner, berasa flashback lagi di jaman kelas 1 SMP. Si interviewer ini memberi tahu kita kalau ada fungsi yang salah dan menahan kita untuk melanjutkan, artinya ada yang harus dibenahi dalam fungsi tersebut. Bedanya dengan pada saat saya belajar dulu, ini lebih ke kita sendiri yang menulis fungsi dan memikirkan sendiri jika ada fungsi yang salah. Karena waktu yang terasa cepat dan saya belum selesai, saya sudah berfikir pasti tidak lolos.
 
Beberapa hari setelah proses phone screen interview itu, saya kembali mendapat email yang mengabari saya tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Udah feeling sih. Ya sedih, tapi udah bisa ditebak hasilnya. Pasrah. Namun, Google masih membuka kesempatan untuk saya mencoba lagi di tahun depan, dan memberi saya waktu untuk belajar banyak lagi. Sewaktu-waktu saya butuh dan pengen coba lagi, abang recruiter-nya siap membantu. Ternyata, masih ada secercah harapan buat saya yang cupu ini. 
 
Intinya, tidak masalah buat saya gagal di tahap ini, karena dengan keterlibatan saya bisa di interview bersama Google, telah memberi saya kesempatan belajar banyak. Saya menyadari cita-cita lama saya itu sudah seharusnya saya kubur dalam-dalam, karena mungkin Google bukan yang terbaik untuk saya saat ini. Siapa yang tidak ingin bisa berkesempatan untuk masuk ke salah satu giant company, such as Google, apalagi kamu yang sudah punya cita-cita itu sejak lama dan punya high passion juga.

Hingga sekarang, Google selalu memberintahu saya lewat email kalo ada lowongan kerja khususnya di Kantor Google Indonesia dan Kuala Lumpur. Something has to changes if u do something and try hard.
 
Semangat terus !