Forum Merdeka Barat 9, target KUR 60%, Indonesia Maju, Perekonomian Mikro, Optimis Maju dengan Kredit Usaha Rakyat
(Kreedit Usaha Rakyat-FMB. Dok Team)

Berbicara soal perekonomian tingkat makro, sepertinya bagi pengalaman dikehidupan aku bukan menjadi sesuatu yang asing lagi. Karena hampr mendekati angka 10 tahun, aku melihat sendiri bagaimana mamahku begitu struggle dalam mengembangkan usahanya dalam bisnis warung klontong yang termasuk dalam perekonomian makro ini. Aku juga melihat seberapa cepat pertumbuhan ini berlangsung dan cenderung masih berada ditahap yang "gitu-gitu" aja. Semakin hari aku mengikuti perkembangan perekonomian bangsa Indonesia ini, maka potensi perekonomian masyarakat Indonesia tingkat mikro ini memang butuh perhatian yang lebih lagi.

Terobosan KUR (Kredit Usaha Rakyat)

Alhamdulillah menurut data dari Forum Merdeka Barat ( (FMB 9) ada sedikitnya 58 juta orang pelaku UKM yang memutar roda konsumsi nasional, wow! Angka yang tidak sedikit bukan, oleh sebab itu aku yakin perekonomian tingkat mikro ini tidak mungkin dianggap sebelah mata saja karena pada tahun ini kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto diproyeksikan tumbuh hingga 65%.

Percaya atu tidak, perekonomian kita didominasi dari sektor perdagangan sebanyak 54,4% dan prosi yang menempati space terkecil dari sektor pertanian, peternakan dan perkebunan. Oleh sebab itu, pemerintah kita terus memberikan effort secara penuh kepada pertumbuhan UMKM dengan adanya program KUR (Kredit Usaha Rakyat). 

Nyatanya, KUR ini tidak hanya dengan mengeluarkan bantuan dalam bentuk bantuan pendanaan kepada masyarakat, namun memerlukan inovasi-inovasi yang terbarukan agar sebagai pelaku usaha mampu mengembangkan tingkat perekonomiannya pada sebuah level yang bisa dikatakan mapan secara financial. Pada kesempatan yang menyenangkan ini, aku berada pada diskusi media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Terobosan Baru KUR" di Hotel Harris Vertu Harmoni pada Kamis, 4 April 2019.


Target KUR 2019 Sebesar 60%

Hadirnya Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir berujar bahwa "pemerintah hadir untuk membantu masyarakat kecil yang tidak mampu. Sehingga pemerintah hadir lewat penyediaan KUR dengan bunga murah yakni 7 persen” selain itu dilakukan juga pembukaan akses perbankan bagi beberapa kelompok usaha yang khususnya makro secara luas, khusunya target saat ini adalah pada bidang peternakan, perikanan dan perkebunan. 

Serlanjutnya, hadir Deputi Bidang Pembiayaan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Yuana Setyowati yang berkata "Sampai Februari 2019, realisasi penyaluran KUR sudah mencapai Rp23,1 triliun. Mayoritas disalurkan ke usaha mikro sebesar Rp14,6 triliun". Ini menjadi angin segar untuk beberapa stakeholder yang menjadi bagian didalamnya.  

Revolusi Industri 4.0 Harapan Jaringan KUR Meluas

Sebagai anak millenial yang sudah bersiap diri untuk menghadapai era Revolusi Industri 4.0 saat ini, selaras juga dengan usaha KUR ini atas kemajuan teknologi digital. Oleh sebab itu hal ini menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi Pemerintah untuk dapat memperluas jangkauan KUR tersebut. Maka itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai salah satu dari tiga bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), terus menciptakan terobosan-terobosan melalui digitalisasi pengembangan bisnis.

Dan pada kesempatan ini pula, Executive Vice President Bisnis Kecil dan Kemitraan BRI Hari Purnomo menjelaskan target 60% KUR ini dari sisi BRI nya adalah KUR Produksi sebesar 60 persen dari total alokasi dana KUR Rp140 triliun, yang mana 80 persen di antaranya ada di BRI, bukanlah hal yang mengkhawatirkan. Pasalnya ada sejumlah hal, sambung dia, yang memupus kekhawatiran tersebut. Diantaranya akan adanya BRISPOT yang mana dari situlah prospek penerima kredit potensial bisa di-inject langsung. “Di sini termasuk profil risiko sudah dipetakan, melalui mitigasi berdasarkan wilayah yang terbaik,” katanya.

Selain itu ada hal yang paling penting dan utama, yaitu peningkatan acessibility dengan penyebaran outlet yang mudah dijangkau serta menyiapkan tenaga pemasar yang andal dan kompeten di berbagai sektor. Dan saat ini telah dilakukan 3 terobosan dalam rangka digitalisasi oleh BRI dalam mengembangkan bisnis, diantaranya:

1. Peluncuran BRISat. 

Adanya BRISat ini akan menghubungkan jaringan BRI lain yang ada dan tersebar di seluruh Tanah Air seperti office BRI, agen-agen bank dan mobile offices sehignga dapat diakses oleh para pelaku usaha pemohon KUR dengan mudah dan aman. 


2. Penyebaran Agen BRILink 

Menurut data yang disampaikan dari pak Heru, "Sampai saat ini terdapat 401.550 agen BRILink yang tersebar di 17 kota. Ada di Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Manado, dan Jayapura." Semakin luas penyebarannya, diharapkan pengembangan usaha masyarakat ini mampu melewati level terbaik dalam bisnisnya. 

3. BRISpot (Sistem Perkreditan Online Terpadu) atau BRISpot, sebuah program digitalisasi proses kredit berbasis internet untuk kredit mikro. 

Dengan adanya inovasi dengan BRISpot, nantinya pemohon KUR tidak perlu repot-repot mendatangi bank-bank BRI konvensional untuk mengurus perihal A hingga Z. Nantinya, para tenaga pemasar BRI langsung mendatangi pemohon KUR lalu pihak pemohon akan dilakukan sesi pemotretan. Ketika semua tahapan sudah dilalui, ada waktu tunggu apakah semuanya memenuhi persyaratan atau tidak. 

Perlu disyukri hal-hal yang semakin memudahkan masyarakat kita ini untuk perbaikan ekonomi kedepannya, karena pertumbuhan ekonomi ketika tidak ada pergerakan konsumsi dari segi mikro pun, diharapkan target KUR 60% ini mustahil untuk dicapai. Dan para stake holder yang ikut serta dalam menyukseskan usaha ini semakin diberikan kelancaran dalam segala sesuatunya. Dalam diskusi kali ini, pengetahuan akan rencana perekonomian masa depan bangsa Indonesia semakin terus maju dari waktu ke waktu.