Pagi hari, tanggal 29 September 2017 semua ekspeditor hendak beranjak pergi dari homestay menuju ke Taman Nasional Berbak. Namun, dikarenakan cuaca yang kurang mendukung alhasil kami harus memulai perjalanan sekitar pukul 09:00 WIB, yang dimana itu sudah terlalu siang untuk menuju kesana jika ingin mengunjungi banyak spot dan masuk lebih jauh lagi.  Aku sudah ketakutan duluan saat guide mendeskripsikan apa itu taman nasional berbak dan ada apa saja disana. Ya, ternyata disana merupakan 'rumah' nya hewan-hewan buas seperti Buaya Muara, Harimau Sumatera, Ular, serangga, dan masih banyak satwa liar lainnya.
 
Peta lokasi Nipah Panjang, Desa Air Hitam Laut, dan Taman Nasional Berbak
 
Taman Nasional Berbak ini merupakan kawasan yang masih terjaga kelestariannya dan merupakan hutan rawa terluas di Asia Tenggara dan katanya masih jarang sekali manusia yang eksploitasi taman nasional ini. Banyak sekali mahasiswa yang melakukan penelitian di hutan rawa ini khususnya taman nasional berbak, tidak hanya mahasiswa lokal, mahasiswa dari negeri luar juga banyak. Kebanyakan dari mereka melakukan penelitian disini bertujuan untuk mempertahankan ekosistem hutan Berbak, termasuk yang hidup di dalamnya baik langsung maupun tidak langsung, mereka juga membantu melestarikan hutan gambut dan konservasi satwa liar, terutama Harimau Sumatera yang hidup di Taman Nasional Berbak. 
 
 
Oh ya, jika kamu bermaksud mengunjungi Taman Nasional Berbak, dari Jambi kamu harus menyelusuri sungai Batanghari dengan menggunakan speed boat berbelok ke kanan menyelusuri sungai Air Hitam Dalam selama kurang lebih 2,5 hingga 3 jam, atau langsung ke Nipah Panjang selama 4 hingga 5 jam. Dari Nipah Panjang dilanjutkan ke Desa Air Hitam Laut selama 5 hingga 8 jam melalui Laut Cina Selatan, and for your information, perjalanan ke Air Hitam Laut harus melihat cuaca ombak Laut Cina Selatan yang terkenal ganas yang terkadang diluar prediksi kita. Berhubung kami berangkat langsung dari Desa Air Hitam Laut, maka kami hanya memerlukan waktu 2,5 jam perjalanan melintasi sungai Air Hitam dalam untuk menuju ke posko 1 Taman Nasional Berbak, yaitu Simpang Malaka.
 
 
Kami sangat excited dan menikmati perjalanan mengarungi 'Sungai Amazon' nya provinsi Jambi ini. Walaupun dalam hati ada ketakutan tersendiri, karena beberapa kali kami melihat Buaya Muara yang menampakkan mata dan sedikit kepalanya ke permukaan sungai. Kami disuguhi pemandangan yang indah, pohon nipah yang mengelilingi tepi sungai, ubur-ubur putih yang berenang, Buaya yang sudah pasti terlihat, dan kata guide nya di sungai ini juga terdapat ular yang tidak kalah ganasnya dari buaya, malah besarnya hampir sama dengan buaya. Ewww... Dengan doa yang dipanjatkan dan sedikit hiburan dari teman-teman ekspeditor, alhamdulillah kami sampai dengan selamat di Simpang Malaka, walaupun motor kapal sempat beberapa kali tersangkut sampah dan menyebabkan kami terapung-apung di sungai dalam waktu yang cukup lama.
 
 
Luas wilayah Taman Nasional Berbak ini kurang lebih 238.000 hektar dan satu hari tidak akan cukup untuk benar-benar menjelajahi hutan rawa terluas ini. Perjalanan ke Simpang Malaka yang cukup menegangkan ini membuat ku teringat akan film fiksi seperti Anaconda dimana melewati sungai dengan perairan yang tenang dan warna air yang hitam dimana dalam fikiran ku jika kapal ini tenggelam dan banyak Buaya dan Ular yang berseliweran disungai dan sekitar kapal, apa yang akan terjadi ??? Amit amit ya Allah :( alhamdulillah diberi keselamatan dan masih diberi umur panjang.
 
 
Tiba di Simpang Malaka kami turun dan beristirahat sejenak dengan memakan makanan yang sudah kami bawa sebelumnya karena mengingat disini tidak terdapat warung nasi dan sejenisnya. Setelah makan dan sholat, dilanjutkan dengan berbincang-bincang dengan petugas setempat mengenai Buaya Muara dan satwa liar yang menjadi penghuni Taman Nasional Berbak ini. Mendengarkan cerita oleh Bapak petugas yang seru bak sedang di bacakan dongeng, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 13:30 WIB. 
 
 
Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk masuk ke hutan di belakang posko. Tetapi kami diperingatkan tidak boleh terlalu jauh, mengingat kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Kami melewati jalan setapak seperti jembatan kayu yang belum selesai dibuat dan baru beberapa tiang kayu saja. Namun karena takut terjatuh, kami lebih memilih turun dan berjalan di tanah. 
 
 
Memang tak banyak yang kami temukan disini, karena kami berjalan tidak terlalu jauh ke dalam hutan. Kami hanya disuguhi oleh tanah lembab hutan rawa, beberapa pohon menjulang tinggi dan tanaman yang tidak aku ketahui namanya. Namun, ya... cukup memuaskan. Kami hanya take beberapa foto, berjalan, lalu keluar lagi dari hutan menuju ke posko Simpang Malaka.
 
 
Untuk menghilangkan rasa yang sedikit kecewa, alhasil kami bernyanyi-nyanyi ria di sepanjang pinggiran jembatan kayu,. Yup, kami menyanyikan Mars ENJ yang hampir setiap hari kami paksakan untuk nyanyi, sampe diriku ini hafal tanpa melihat lirik. Kekompakan yang luar biasa.
 
 
Mengingat hari semakin sore dan air akan surut, maka kami memutuskan untuk pulang. Sebenarnya masih banyak posko TNB jika kita semakin jauh melintasi Sungai Air Hitam Dalam ini, namun kami tidak bisa memaksakan untuk melanjutkan perjalanan, karena kalau kami pulang pada malam hari, si Bubu (a.k.a Buaya) akan muncul karena menurut bapak guide, pada malam hari waktunya Bubu mencari makan. Bagi kalian pecinta si Bubu, bisa melintasi wilayah ini pada malam hari. Dijamin pasti bisa bertemu dengannya. Ciyeee
 
 
 
Akhirnya kami putuskan untuk pulang. Tiba-tiba rindu homestay, rindu kasur lipat, rindu anak-anak. Rindu... *apalagi ya (mencari-cari alasan). Ya, kami sudah kehabisan energi karena sepanjang perjalanan pulang kami hanya terdiam memandangi jajaran pohon nipah dan saling bersandar satu sama lain sambil dibakar terik matahari. Sungguh kebersamaan yang harmonis. Kami tidak sabar untuk sampai ke homestay, rasanya ingin cepat-cepat rebahan di lantai. 
 
 
 

Wajah capek dan ngantuk, tapi kalo difoto masih tetep bisa senyum walaupun dipaksakan. Sayangnya tidak ada foto kami saat tertidur di kapal sepanjang perjalanan pulang. Mengingat baterai kamera yang sudah habis dan semuanya sudah kehabisan energi. Sesampainya di homestay, kami semua terkapar kelelahan. Ada yang tiba-tiba langsung tertidur, ada yang ganti baju dulu, ada yang mandi, ada yang tetap meladeni anak-anak yang sudah menunggu kedatangan kami dari beberapa jam sebelum kami pulang. Aku yang juga kelelahan ingin tidur, dipanggil oleh anak-anak yang mengajak Kelas Bahasa Inggris. Aku ajak mereka sebentar untuk bermain di pos kantor kepala desa, lalu aku izin sebentar untuk tidur. Ya, kalo aku tidak minta izin seperti itu, mereka akan terus mengikutiku kemanapun aku pergi. Semangat kalian memang luar biasa nak...
 
 
Agak menyimpang dari judulnya. Setelah kurang lebih tidur kurang lebih satu jam, beberapa dari kami terbangun untuk mengajar Kelas Bahasa Inggris yang daritadi sudah ditunggu oleh anak-anak. Mereka masih tetap bertahan dan menunggu kami terbangun dalam tidur. Aku, Zela, Jujur, dan bang Wahyu mengajarkan mereka angka dan kalimatnya dalam Bahasa Inggris. Belajar mengajar hanya berlangsung kurang dari 1 jam, mengingat kami memulai kelas sudah kesorean yaitu 16:45 WIB dan selesai pada 17:30 WIB.
 
 
Keliatan banget muka item abis berjemur 2,5 jam kepergian dan 2,5 jam kepulangan dari TNB. jadi total 5 jam kami berjemur. Yup, kapan lagi bisa seperti ini. Terimakasih Taman Nasional Berbak dan wilayah disekitarnya atas oleh-olehnya. Sampai sekarang masih membekas, udah kayak zebra :( Kenangan yang tak terlupakan.