Singkat cerita, kami sampai di Desa Air Hitam Laut. Sekilas seperti program acara di N*ET T*V. Ini pertama kalinya aku mendarat di desa yang berada di tengah laut. Kami disuguhi pemandangan yang  indah. Air laut yang berwarna hitam, ombak-ombak kecil yang berayunan, jajaran pohon nipah, burung-burung putih yang terbang bergerombol, ikan-ikan kecil yang sesekali melompat keluar air, daratan yang menyerupai pulau kecil, ubur-ubur putih yang tergenang, dan perbedaan warna laut yang memukau. 
 
jajaran pohon nipah dan kapal nelayan di tengah air laut yang hitam
 
Mau cerita panjang lebar mengenai perjalanan kami, tapi sudah banyak ditulis oleh anggota team ENJ Jambi 2017 yang lain. Jadi, disini aku mau bercerita tentang desa ini saja ya. Semoga tidak membosankan.
 
Desa Air Hitam Laut, ya sesuai dengan namanya. Desa yang memiliki air laut yang berwarna hitam namun asin ini, terletak di Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi yang merupakan salah satu pintu masuk kawasan Taman Nasional Berbak. Pantai Air Hitam memiliki jenis ekosistem hutan mangrove dengan ciri-ciri berlumpur dan dipengaruhi oleh pasang surut. Desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Laut Cina Selatan ini terletak di muara sungai berbak Jambi dan untuk menuju desa ini, sarana angkutan air merupakan sarana yang paling memungkinkan, untuk lewat darat tidak ada jalan, kalaupun dipaksakan hanya bisa mengendarai sepeda motor menyusuri pantai selama kurang lebih 5 jam, itupun kalau laut tidak pasang. Laut di sekitar desa ini memiliki berbagai warna, ada yg coklat, hitam, biru, bahkan hijau. Karena desa ini terletak diantara pertemuan sungai dan laut.
 
Menurut cerita penduduk setempat, desa ini terbentuk pada pertengahan tahun 70an yang dimulai oleh warga pertama yang datang ke Muara Sungai Berbak, lalu dinamailah daerah itu menjadi AIR HITAM, karena air yang mengalir di perairan sungai tersebut berwarna hitam seperti kopi. Penyebab airnya hitam ini ialah karena humus yang mengendap dari akar-akar gambut sepanjang sungai berbak. Dari warga setempat juga diperoleh informasi bahwa saat itu Desa Air Hitam Laut masih merupakan hutan, sehingga untuk membuka perkampungan, maka pembukaan lahan menjadi keharusan. Lahan banyak dibuka, kemudian orang lain mulai datang, orang yang datang banyak berasal dari Sulawesi, dan mulailah bercocok tanam. Penduduk desa ini umumnya merupakan Suku Bugis. Hingga sekarang, suku bugis masih mendominasi di desa ini.
 
Desa Air Hitam Laut merupakan salah satu sentra perikanan. Desa terpencil ini menjadi tempat transit dan berlabuh kapal-kapal nelayan dari seluruh daerah, seperti nelayan Lampung, Palembang, Riau, bahkan dari Klibaru Cilincing yang pernah sempat datang untuk beristirahat dalam satu musim menangkap ikan dan menginap di rumah warga setempat. 
 
Desa Air Hitam Laut mempunyai acara adat tahunan, yaitu Mandi Safar. Mandi Safar ialah wisata religi dengan ritual meminta kepada Yang Maha Kuasa agar terhindar dari mara bahaya dan penyakit dengan cara menceburkan diri ke laut dan dibekali dengan daun sawang yang diikatkan di kepala. Aku sendiri pun tidak tahu seperti apa bentuk daun sawang dan seperti apa ritual itu sendiri, karena kami team ENJ Jambi tiba disana tidak bertepatan dengan waktu mandi safar. Mandi safat sendiri tahun ini akan diadakan pada tanggal 15 November mendatang. Yang penasaran gimana dan apa itu Mandi Safar, silahkan datang ke Desa Air Hitam Laut. Karena, bukan hanya warga kecamatan Sadu, warga kecamatan lain diperbolehkan hadir, bahkan pernah ada yang dari luar daerah datang dan ikut memanjatkan doa keselamatan di Desa Air Hitam. Pada saat hari Mandi Safar, banyak sekali warga yang mendadak berjualan di tepi pantai Air Hitam, dan tidak sedikit juga warga pendatang menginap di rumah warga setempat agar bisa ikut memeriahkan acara Mandi Safar.
 
Jangan bingung jika berkunjung ke Air Hitam jika melihat rumah-rumah walet bak gedung tinggi pencakar langit. Ya, hampir seluruh warga mempunyai 'rumah walet' dirumahnya. Lagi-lagi menurut cerita dari berbagai penduduk setempat, dulu ada satu keluarga keturunan Tionghoa yang baru pindah dan mencoba membuat 'rumah walet' yang didasarkan karena Ia merupakan seorang pembudidaya walet di tanah kelahirannya. Pada awalnya Ia dibilang 'gila' oleh warga sekitar, karena menginvestasikan uang dengan jumlah tidak sedikit untuk membuat sebuah rumah walet, mengingat karena terpencilnya daerah tersebut. Namun, ternyata hasilnya mahal bagus dan banyak burung walet yang bersarang di 'rumah walet' miliknya. Perlahan, satu-persatu warga mengikuti kesuksesan keluarga tersebut. Gara-gara walet, perekonomian Desa Air Hitam yang tadinya 'suram' bahkan mendekati kota mati, sekarang berdenyut kembali. Hingga sekarang, banyak warga yang berinvestasi dengan rumah-rumah walet tersebut. 
 
Desa ini memiliki kawasan hutan ekowisata dan merupakan rumah dari berbagai jenis flora dan fauna langka, yaitu Taman Nasional Berbak. Tapi, ceritan tentang TNB jadi next topic aja ya. Jari terasa pegal dan hari mulai malam. Berikut beberapa foto team ENJ Jambi 2017 dari mulai berangkat hingga mendarat di Air Hitam Laut dan beberapa momentnya.
 
briefing H-2 sebelum berangkat
 
foto di depan Gubernuran Jambi
 
tiba di nipah panjang, tempat menunggu speedboat
 
candid ala-ala di rumah baca ever green
 
goofie dulu sebelum cawww dengan muatan barang yang bejibun
 
di perjalanan pun tetep eksis dulu
 
yang duduk paling depan, kebagian kuota foto paling banyak. great view btw
 
mendarat di belakang rumah warga yang ada tangga nya. next angkut barang
 
otw homestay dan rumah pak kades
 
tiba di rumah pak kades, langsung dapat kata sambutan dari bu kades
 
segerintil atribut team
 
di depan kamera senyum naik pompong, dalam hati takut setengah mati
 
di hutan gambut, di pinggir pantai air hitam
 
habis pungut sampah, bentuk formasi
 
aek itam, tangan putih, dan rumah warga
 
amplop baper
 
mungkin rencananya foto ini bakal mereka post pas 17an. hormat grak ! walaupun benderanya ga keliatan
 
kelas berenang ala mereka
 
dimanapun bisa tidur kok, percayalah dengan babang Jujur
 
 
peringatan, hati-hati setiap melangkah disini, rawan banget
 
 
hasil laut
 
 
yak setiap malam seperti ini, dan pernah lebih parah dari ini
 
 
bersama bapak Bupati Tanjung jabung Timur di Kantornya
 
 
last night bersama mereka
 
 
 
Kayaknya terlalu banyak upload foto. Kuota udah di peringati operator. Bye...