Senja itu datang dengan malu-malu dan ragu-ragu. Warnanya yang kuning sedikit kemerahan menyapa di balik awan-awan yang kelabu. Semua orang suka senja. Meski beberapa tidak. Dengan alasan sederhana, karena semua membawa apa dan siapa saja pergi menjauh.
 
Senja selalu datang dengan perpisahan. Ia seperti akrab dan suka bermain dengan senja. Mungkin, kalau senja dan perpisahan ada sepasang anak laki-laki, mereka sudah bermain di halaman belakang atau lapangan bola Pak RT. Senja dan perpisahan memang akrab, banyak yang pergi saat senja, meski beberapa bertemu saat senja.
 
Di sisi lain, ialah pergi, pasangan senja katanya. Konon, kalau senja membawa perpisahan, maka pagi yang membawa pertemuan. Kalau senja membawa kasihmu pergi, maka pagi yang akan membawanya pulang. Seperti prolog dan epilog dalam sebuah cerita. Mereka berbeda, namun melengkapkan. Banyak alasan mereka memasangkannya.
 
Soal senja, orang bilang ia sama halnya seperti dirimu, yang perlahan menjadi titik kecil di persimpangan jalan kecil sore itu. Aku, seorang yang baru mau berumur kepala dua duduk di kursi taman yang ramai, melihatmu ragu-ragu. Dan kamu, seorang yang -orang menyebutmu senja- berjalan, menjauh, persis seperti senja. Meski aku tidak menyetujuinya. Karena memang kamu bukan senja yang memisahkan, kamu adalah senja yang mempertemukan. Tidak seperti senja lainnya, senja yang akrab dengan perpisahan. Senja yang berbeda.
 
Tapi senja tetaplah senja yang pergi dengan ragu dan malu-malu. Yang suka bermain dengan perpisahan dan tangisan. Makanya, kamu bukanlah senja. Kamu adalah pertemuan, bukan perpisahan. Dan aku, seorang yang melihatmu dengan ragu-ragu, bukanlah pagi. Aku hanya membawa sahabat kecil senja, perpisahan. Itu saja.
 
Jadi mulai hari ini, bisa saja aku akan membelamu, dengan sering berkata, "Senja lagi, senja lagi, terus saja kalian sebut ia senja. Ia bukan senja. Jangan panggil ia senja!."