"Terkadang kita harus berusaha untuk ikhlas melepaskan setiap orang yang paling berharga dalam hidup kita, pergi dan tak kembali. Kita harus percaya, di balik sebuah kehilangan akan ada cerita baru lebih indah. Akan ada hati yang baru di balik patahannya."
 
Bukankah kalimat itu yang kau ucapkan di saat tangisanku meledak tepat di malam setelah kepergiannya? Sekarang aku akan mengembalikan kalimat itu padamu, Bun. Kalimat itu berhasil membuatku mempercayai hidup, dan mungkin dengan caraku mengembalikan kalimat itu juga bisa membuatmu benar-benar ikhlas. Aku mengerti bagaimana sulitnya ikhlas untukmu, Bun. Tapi aku tidak akan pernah mau mengerti jika ikhlas itu enggan untuk kau lakukan, dan justru membuatmu terbenam dalam air mata kehilangan. 
 
Jangan menangis lagi, Bunda. Melihat air matamu seperti seakan bumi tak bermusim kemarau, seperti hujan yang meredam seluruh bumi. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu benar-benar tersenyum tanpa ada sedikitpun goresan kesedihan, karena aku tau menangis adalah cerminan hati seorang perempuan. Aku memang tidak akan pernah bisa mengembalikan sosok pendamping yang teramat sangat engkau cintai itu, tapi setidaknya aku akan berusaha membuatmu melewati masa sulit itu bersama.
 
Kau rindu pada Ayah? Aku pun sangat merindukannya. Kita sama-sama orang yang ditinggalkan sosok 'Malaikat' itu, Bun. Aku sama sepertimu, ingin menangis dan meneriakkan namanya setiap saat. Sayangnya aku tidak mungkin melakukannya. Jika aku larut dalam kehilangan lalu siapa yang akan menjadi sandaran kesedihanmy disaat akulah sandaran yang engkau miliki ? Siapa yang akan menggenggam tanganmu untuk menemanimu memulai lembaran baru disaat satu-satunya pendamping seumur hidupmu telah pergi?
 
"Sejak awal aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk selalu menjadi salah satu alasanmu tersenyum"
 
Seandainya aku bisa membawa cinta sejatimu itu kembali, saat ini juga aku akan menjemputnya dengan cara apapun. Hanya untukmu, Bunda. Namun saat ini kondisinya berbeda. Lelaki yang teramat kau cintai itu bukan hanya sekedar pergi untuk bekerja seperti hari-hari sebelumnya, bukan hanya sedang mengunjungi keluarga ataupun kerabat terdekatnya. Tapi dia sudah berada di kediaman sang Pencipta. Kita sama-sama tau kalau kita hanya kuman kecil di bawah Kuasa-Nya. Apa yang sudah diambil-Nya tidak akan pernah bisa kita minta kembali, dengan menukar nyawa sekalipun.
 
"Kau memang sangat mencintainya, Bun. Akupun begitu. Namun dia dicintai oleh-Nya jauh lebih besar daripada kita."
 
Jangan pernah sekalipun berfikir kau sendiri. Masih ada aku, Bun. Lihat aku. Aku akan berusaha sekuat mungkin. Sekalipun aku tidak akan pernah bisa mengembalikan sosok pendamping hidupmu, tapi aku berjanji akan menempatkan selalu kebahagiaan itu di tanganmu. Aku yang akan menjadi pelindung baja terdepan jika suatu hari nanti ada orang yang menyakitimu. Aku yang akan menjadi payung ketika hujan menyerang tubuhmu. Aku yang akan menggantikan peran Ayah, membantumu melakukan apapun yang tidak bisa kau lakukan.
 
"Kehilangan sosoknya bukan berarti kehidupan berhenti kan, Bun?"
Jika bagimu dia adalah pemimpin masa depanmu, bagiku dia adalah pengantar masa depanku. Dialah lelaki yang cintanya paling sejati untukku. Dialah yang akan berfoto disampingku dengan senyuman pelitnya, bersamamu dan mendampingiku di hari wisuda ku. Dialah satu-satunya orang yang akan menyerahkan tanganku kepada seseorang yang dihalalkan untukku suatu hari nanti. Dia juga sosok lelaki yang akan dipanggil dengan sebutan "kakek" oleh malaikat kecilku suatu hari nanti. Itu semua adalah peta masa depanku. Namun sekarang sudah hancur bersama dengan kepergiannya.
 
Bersabarlah, Bunda. Ikhlaskan sang Ilahi membuat lembaran cerita kita yang lain.