Pertama kali aku ikut kelas menulis cerita pendek aku diminta untuk menceritakan kisah nyata tersedih yang pernah kualami, dan aku pun bercerita tentang bagaimana aku merasakan kehilangan setelah ayah dipanggil oleh Sang Pencipta dan meninggalkan kami untuk selamanya, setelah diminta menceritakan kisah nyata paling menyedihkan yang pernah kudengar dan aku bercerita tentang Lelaki Alarm.
 
Kisah itu aku dengar dari almarhum temanku yang dulu tinggal satu kampung dengan Lelaki Alarm. Aku bercerita kepada pewawancaraku bagaimana Lelaki Alarm, yang hanya bisa dibangunkan oleh alarm, lupa mengatur alarmnya semalam sebelum kencan pertamanya dengan sahabat temanku, orang yang ia telah cintai dari jauh selama 7 tahun. Ia tak kunjung bangun hari itu dan sahabat temanku menunggunya di depan loket tiket taman bermain hingga matahari terbenam.
 
Sahabat temanku menganggap Lelaki Alarm telah mempermainkan dirinya, dan akhirnya mengencani lelaki lain. Setelah 10 tahun berlalu dan suatu hari Lelaki Alarm terbangun tanpa alasan yang jelas dan kaget mendapati ranjangnya diselimuti rambut, yang setelah ia telusuri adalah rambutnya sendiri. Setelah memotong rambutnya, ia kaget lagi setelah mendapati dirinya telah menua dan kurus kering. Ia langsung menyadari apa yang terjadi dan menangis lama di depan cermin. Ia teringat janjinya dengan kekasihnya dan langsung menghapus air matanya, kemudian mandi dan berpakaian rapi, lalu pergi ke taman bermain.
 
Di jalan, ia tentu kebingungan dan berkali-kali bertanya kepada orang-orang lewat. Setelah berjam-jam, ia menemukan tempat itu, yang kini adalah sebuah pusat perbelanjaan. Ia menangis lagi, kali ini ditepi jalan karena penyesalan. Ia teringat kekasihnya, yang kini tentu bukan lagi kekasihnya. Kekasihnya rupanya telah pindah keluar kota dan Lelaki Alarm justru bertemu dengan temanku. Lelaki Alarm menceritakan semua, menangis, melanjutkan kisahnya, dan akhirnya meminta alamat sahabat temanku. Temanku pun bilang apa adanya: Sahabat temanku itu meninggat tiga tahun yang lalu karena kanker usus. Lelaki Alarm menangis lagi, kali ini di depan rumah temanku, karena putus asa dengan kehidupan ini.
 
Begitulah aku mengakhiri ceritaku. Pewawancaraku mengernyit dan bertanya apakah ceritaku sungguhan dan aku mengangguk dan ia bertanya lagi bagaimana mungkin Lelaki Alarm dapat hidup tanpa makan-minum selama 10 tahun dan aku hanya menjawab bahwa aku juga tidak tahu penjelasan ilmiahnya tapi itulah yang terjadi. Pewawancaraku bertanya mengenai asal mulai kelainan Lelaki Alarm, masa ketika Lelaki Alarm tak disebut Lelaki Alarm, dan aku bilang apa adanya bahwa temanku tak pernah menceritakan apapun mengenai hal itu.
 
Setelah hening lama, pewawancaraku berkata, "Ia tak mungkin dapat hidup," dan ia bilang lamaranku ditolak. Aku pulang dari tempat itu dan sambil bersedih karena aku sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk membantu temanku yang sekarang sedang sakit. Ketika temanku mati sebulan kemudian bersama kisah lengkap Lelaki Alarm- aku tak pernah sanggup bertanya kepadanya soal itu- aku baru menyadari bahwa sesungguhnya saat lamaranku ditolak aku telah mendapatkan kisah lain yang lebih menyedihkan. Mengalami sesuatu yang benar-benar malang kurasa tidak sesedih menceritakannya dan dianggap berbohong; sebab bukankah penyangkalan terjadinya seatu pembantaian lebih menyedihkan dari pembantaian itu sendiri? Dan aku berpikir, apabila aku bercerita kepada pewawancaraku tentang bagaimana sedihnya aku setelah ditinggalkan ayah, karena kisahku tentang Lelaki Alarm dianggap bukan kisah nyata, melainkan sebuah karangan konyol, tentu aku sudah mendapatkan pekerjaan itu.
 
Tetapi bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Sebab penolakan itu belum terjadi ketika wawancara berlangsung. Dan aku juga berpikir bila kisah aku bercerita tentang Lelaki Alarm dan dianggap berbohong adalah lebih sedih dari kisah Lelaki Alarm itu sendiri, bukankah kisah aku dianggap berbohong setelah bercerita mengenai aku bercerita tentang Lelaki Alarm dan dianggap berbohong adalah lebih menyedihkan lagi? 
 
Kurasa kisah semacam itu akan berguna bagi hidupku, suatu hari nanti. Barangkali aku bisa menceritakannya kepada seseorang yang harus mendengar kisah sedih agar bisa tidur lelap. Dengan ceritaku, ia bisa tidur dalam damai untuk waktu yang sangat lama, barangkali selamanya. Maka sejak itu untuk membuat kelas-kelas menulis, dimana pertanyaan seperti, "Apa pengalaman terburuk dalam hidupmu?" atau "Apa rahasia terbesarmu?" rutin diajukan, diantara orang-orang yang sebagian dari mereka sudah yakin sejak mula bahwa mereka memiliki pengalaman terburuk, rahasia paling aneh, imajinasi paling gila, sehingga sejak mula tak sungguh-sungguh tertarik dengan cerita yang kusampaikan ataupun aku.