Hai Tuan. Ini memang bukan 23 Juli, tapi entah mengapa hari ini aku tiba-tiba teringat padamu. Tanggal yang cukup penting bagiku, dulu. Namun belum tentu penting bagimu. Ini sudah menjadi tradisi sejak beberapa tahun yang lalu. Tradisi semacam apa? Ya, seperti ini, aku senang menulis tentangmu berulang-ulang setiap tanggal 23 Juli. Sebagai pengingat bahwa dulu kita pernah berkenalan dan sempat dekat. 
 
Matamu yang belo dan wajahmu yang oval adalah potret yang tidak pernah aku lupakan. Bukan menjadi sesal atau apa, tapi sangat disayangkan jika selama beberapa tahun ini, kita tidak pernah saling tahu, apalagi bertemu. Beberapa kali aku sempat mampir di kotamu, menikmati udara yang berhembus manis disana, berjalan-jalan di daerah Malioboro- dekat dengan rumahmu.
 
Sungguh, kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini. Dulu, dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku sia-siakan. Bisakah manusia kecil sepertiku ini melawan kehendak Tuhan? Aku tidak sekuat itu. Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba saja hadir. Kita yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling tarik menarik dan berdekatan, tak lagi punya alasan untuk berjalan sama-sama.
 
Tuan, aku sungguh tak percaya, hubungan kita yang berjalan singkat ternyata masih begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat begitu akrab di otakku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal. Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada ajakan untuk menyatukan. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.
 
Kamu, orang yang selalu lupa makanan apa saja yang masuk kedalam mulutnya. Anak IPA berjiwa IPS. Pecinta Inter Milan, penyuka kucing, berjiwa pemimpin, tidak pernah mengeluh sakit dan selalu dipendam jika ada suatu masalah. Striker yang yang tidak pernah sekalipun penampilanmu ditonton oleh wanita yang kau cintai. Kocak. Humoris. Supel. dan, katanya kamu seringkali membawa wanita berbeda ketika ada suatu acara. Ah, Tuan, mengenai ini hanya soal gosip saja, tapi aku percaya kau tidak seperti kata orang. Aku mempercayaimu. 
 
Ya. Itu moment yang terjadi di 23 Juli beberapa tahun yang lalu dan memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah, kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku, melupakan setiap detail diriku. Segalanya pasti sudah berubah, Tuan. Tapi, kenangan tetap sama, meskipun orang-orang yang mengingatnya tak lagi sama.
 
Dulu kita masih SMA. Sekarang aku masih menjadi mahasiswa, dan kamu sudah menjadi veteran tempat aku menuntut ilmu sekarang. Logiskah jika kamu yang tak pernah kutemui secara nyata masih bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini? Tuan, maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan masih mengingat semuanya. Aku tahu ini semua salah, tapi menurutku bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.