Tiba dihari pernikahan Keyla, yakni hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dimana ia bersanding dengan Gerry, pria pilihannya. Ibu Keyla berlari sembari menangis memeluk Keyla.

"Gerry kecelakaan nak" ucap ibunda Keyla terbata-bata menahan tangis.

Belum sempat Keyla mengecup manisnya pernikahan dihari bahagianya justru menjadi hari paling buruk dalam hidupnya.

2 tahun kemudian

"Key, kayaknya kamu harus pergi berlibur nak, luangkan waktu untuk bersenang-senang, jangan kerja terus." bujuk ibunda merayu Keyla.

Pasca menginggalnya Gerry, Keyla lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Keyla menjadi workaholic dan sampai sekarang Keyla masih tidak percaya Gerry telah tiada.

Berlin, 2017

Keyla menghubungi salah satu kerabatnya disana. Ia hendak menenangkan diri, menghibur dirinya sendiri. Mengunjungi teman lama disana setidaknya menghapus jejak kesedihan, berharap seseorang membawanya kembali menuju pintu kebahagiaan.

"Nasib aku apes banget yah Mel, John menikahi Cindy, walau akhirnya pisah. Mau nikah sama Gerry, ia malah pergi untuk selamanya. Salah aku apa ya Mel, kok pahit banget rasanya kisah aku ini?."

"Key, sabar ya lupain semuanya. Kamu kesini untuk senang-senang kan? Besok kita jalan-jalan, akan kutunjukkan betapa indahnya Berlin.

Menyusuri sungai dengan gondola, melihat bangunan antik disekelilingnya memang menjadi impian Keyla sejak lama.

"Permisi, boleh aku duduk disini?" sapa seorang laki-laki berambut gondrong tengah menyapa.

"John!?" -to be continue-