Di setiap pagiku hembuskan doa pada udara, pada cermin, pada aliran sungai dan pada suara dalam hati, "Semuanya akan baik-baik saja." Langkahku adalah harapan, menghadapi resiko terhadap apa pilihan pun pertahanan. Barangkali inilah salah satu cara melalui setiap detik mengiyakan keinginan atasan.

Entah sejak kapan berat beban kurasakan menindih punggung, ada semacam kurungan yang mengekang jiwa serta pikiran. Banyak pernyataan bercabang memenuhi isi kepala, negatif dan positif, serta baik dan buruk beradu pembenaran. Adakala suasananya bisa berdamai dan tanpa komentar menghakimi, namun tidak jarang situasi yang terjalin meretakkan keadaan.

Akan tetapi, di ujung tanganku masih tersisa sedikit pegangan sebelum terlanjur menghempas ke daratan. Tidak peduli apa ucap dan curahan isi kepala yang terlontar, kadang bertolak dari hal sebenarnya. Dinding dalam hati dan telinga telah menghalangi adanya guncangan beragam bencana.

Meski acap kali sebelah hatiku membalas dengan sebaliknya, rasa sebenarnya adalah menghilang. Andai rasa dan peristiwa bisa ditransfer langsung layaknya mesin atm, akankah nuranimu berpikir hal sama? Bukankah tinggi ilmumu telah melangit? Atau mungkin kau lupa cara turun ke bumi? Hingga tersesat di dunia berbeda.

Telah banyak yang mengingatkan, bahkan mungkin memberi cahaya menuju tempat orang-orang di sekitarmu tinggal. Namun hanya Allah SWT yang lalu mampu mengembalikan hakikatnya. 

Barangkali, aku mesti merubah paradigma sehingga mimpi maupun nyata tetap mampu kuhadapi. Biar bagaimanapun, baik atau buruk keadaan, harus dijadikan sebagai peluang untuk membuat pribadi lebih baik. 

Seumpama waktu menentukan hasilnya nanti, harus kumulai dengan sesuatu baru. Sebab sumber masalah sekaligus penyelesaiannya adalah diri sendiri. Apabila jalanku memang berbeda denganmu, alangkah lebih baiknya jalan masing-masing. Jika caraku wujudkan mimpi tidaklah bisa mengikuti caramu, harusnya lepaskan saja. Sebab perbedaan zaman nyatanya menjadikan kehidupan berbeda pandangan. Dan luasnya semesta tidaklah mungkin terjangkau seluruh.

Akan kuhilangkan segala peristiwa yang menyakitkan dari ingatan, agar hadirmu tetap ada dalam catatan perjalanan menuju pencarian. Sebab kusadar, perubahan haruslah dari diri sendiri,  yang tidak mungkin kupaksakan syaraf otakmu mengikuti.